Jumat, 13 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal
Pelaku Begal Belum Terungkap

Polda dan UTM Sikapi Surat Terbuka untuk Kapolda Jatim

30 Juni 2019, 15: 22: 56 WIB | editor : Abdul Basri

CARI PEMBENARAN: Kapolres Bangkalan AKBP Boby Pa’ludin Tambunan didampingi perwira menunjukkan foto pelaku begal yang ditembak mati pada 2018 saat rilis kemarin.

CARI PEMBENARAN: Kapolres Bangkalan AKBP Boby Pa’ludin Tambunan didampingi perwira menunjukkan foto pelaku begal yang ditembak mati pada 2018 saat rilis kemarin. (DARUL HAKIM/RadarMadura.id)

Share this      

BANGKALAN – Pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dengan kekerasan kembali marak di wilayah Kamal. Bulan ini saja, sudah dua mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang dibegal. Sayangnya, polisi belum bisa mengungkap pelakunya.

Aksi pembegalan itu meresahkan masyarakat, terutama mahasiswa UTM. Surat terbuka untuk Kapolda Jawa Timur ditulis oleh Ahmad Ghazali tertanggal 28 Juni yang menyikapi keresahan tersebut langsung viral. Selain beredar di grup-grup WhatsApp (WA), juga banyak dibagikan di Facebook.

Dalam tulisannya, Ahamd Ghazali mengaku asal Gresik yang masuk UTM pada 2017 dan sekarang semester 4. Namun, pihak UTM mengklarifikasi bahwa nama tersebut tidak ada di database UTM.

Surat terbuka untuk Kapolda Jawa Timur itu langsung disikapi Polres Bangkalan, Polda Jatim, dan UTM kemarin (29/6). Kapolres Bangkalan AKBP Boby Pa’ludin Tambunan bersama jajarannya langsung menggelar jumpa pers pukul 10.15 kemarin.

Boby menyampaikan terima kasih atas saran dan masukan melalui surat terbuka itu. Hal tersebut diakui bisa meningkatkan upaya polisi memberantas begal yang terjadi di sekitar kampus UTM. ”Kami klarifikasi surat itu,” ujarnya.

”Untuk kasus yang terjadi bulan Mei dan Juni 2019 ini, satreskrim sedang bekerja keras untuk mengungkap dan menangkap pelaku begal,” tutur mantan Kasubdit III Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Ditreskrimum Polda Jatim itu.

Menurut Boby, jumlah kasus begal di Bangkalan, khususnya di sekitar kampus UTM, sudah menurun sejak lima tahun terakhir. ”Ini berkat kinerja dan upaya yang kami laksanakan saat ini,” tegasnya.

Pihaknya sudah mengambil langkah-langkah dan upaya untuk mengantisipasi supaya tidak terjadi begal di kawasan UTM. Polres juga sudah membentuk tim khusus yang terdiri atas jajaran satreskrim, intel, dan jajaran polsek untuk mengungkap kasus begal itu. ”Kami berikan waktu target secepatnya untuk bisa mengungkap kasus ini,” tegasnya.

Polres juga telah bekerja sama dengan kelompok masyarakat mendirikan dan mengaktifkan pos di sekitar timur kampus UTM di Desa Pandebeh dan dekat Desa Sendeng Dajah. ”Kami akan tempatkan petugas untuk melakukan pengamanan 24 jam demi memberikan kenyamanan kepada masyarakat,” janjinya.

”Kami juga meningkatkan patroli di sekitar wilayah yang rawan terjadi begal untuk meminimalkan serta mencegah terjadinya begal,” imbuhnya.

Polres sudah berkomunikasi intens dengan pihak kampus, pemerintah daerah, dan tokoh masyarakat sekitar untuk bisa mencarikan solusi terbaik agar bisa mengatasi begal di sekitar kawasan UTM. ”Kami sudah melakukan tindakan tegas dan terukur terhadap pelaku begal,” sambungnya.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera menegaskan, Surat terbuka untuk Kapolda Jawa Timur yang beredar luas itu hoaks. Tetapi, pihaknya meminta Polres Bangkalan menyikapi serius aksi begal yang terjadi di sekitar kampus UTM.

”Surat hoaks itu tidak usah ditanggapi. Lagian Kapolres bersama jajaran sudah melakukan tindakan,” ujar perwira menengah dengan tanda pangkat tiga melati emas di pundaknya itu.

Sementara itu, Wakil Rektor III Kampus UTM Agung Ali Fahmi menyatakan, pihaknya sudah mengecek database. Namun, nama Ahmad Ghazali semester 4 tidak ada. ”Kita dirugikan. Dirugikannya karena ini momentum penerimaan mahasiswa baru. Kami khawatir ini lahir kepanikan-kepanikan baru di masyarakat karena data-data yang disajikan tidak bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

Jika memang mau berpartisipasi baik terhadap tugas kepolisian, kata Agung, lebih baik transparan, baik nama maupun alamat. Itu lebih baik dan bisa dipertanggungjawabkan ke depan.

”Kami akan berkoordinasi dengan seluruh tokoh masyarakat. Kami juga akan memberikan tugas tambahan sekuriti untuk memantau wilayah sekitar membantu pihak kepolisian,” paparnya.

Di samping itu, pihaknya akan memfasilitasi sarana dan prasarana tambahan kepada pihak kepolisian. Rencana ada trail untuk patroli, CCTV, pos keamanan, dan sebagainya. ”Kami pastikan yang mengirim surat itu bukan mahasiswa UTM. Kami tidak menemukan inisial itu di angkatan tersebut di database kami,” tegasnya.

Presiden Mahasiswa (Presma) UTM Jailani Muhtadi menilai, ada untung rugi dari adanya surat terbuka untuk Kapolda Jawa Timur yang mengatasnamakan mahasiswa UTM itu. Untungnya, kasus begal direspons betul oleh pihak kepolisian. Ruginya, para calon mahasiswa baru akan berpikir dua kali untuk menginjakkan kaki ke UTM.

”Surat terbuka yang tersebar membuat pihak kepolisian kelimpungan. Ini ada apa?” tanya Jailani.

Pria asal Sumenep itu berharap, polisi meningkatkan penjagaan di wilayah rawan bukan hanya saat terjadi begal, melainkan berkelanjutan. Dengan begitu, di sekitar kampus UTM betul-betul aman.

”Surat terbuka, menurut saya, tidak begitu penting. Yang terpenting adalah bagaimana cara menangkap pelaku begal supaya tidak lagi beraksi. Dengan demikian, memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat,” tandasnya.

Untuk diketahui, dua mahasiswa menjadi korban begal bulan ini. Mereka adalah Dicky Aziz, 21, warga Surabaya, di jalan raya Desa Kebun, Kecamatan Kamal, Rabu (12/6) sekitar pukul 22.00. Lalu yang terbaru, Selasa (25/6) pukul 05.00, Holik, 22, warga Desa Paterongan, Kecamatan Galis, juga jadi korban begal di jalan raya Desa Pandebeh, Kecamatan Kamal. Dia membonceng temannya bernama Mutnati, 19, warga Desa Kajuanak, Kecamatan Galis.

(mr/rul/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia