Sabtu, 14 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features

Cerita Muzammil Frasdia, Penulis Beberapa Buku Puisi

Karena Jomblo Punya Banyak Waktu Menulis

29 Juni 2019, 14: 09: 32 WIB | editor : Abdul Basri

MUDA BERTALENTA: Muzammil Frasdia menunjukkan hasil karya buku antologi tunggal yang sudah dibukukan, Rabu (26/6).

MUDA BERTALENTA: Muzammil Frasdia menunjukkan hasil karya buku antologi tunggal yang sudah dibukukan, Rabu (26/6). (DARUL HAKIM/RadarMadura.id)

Share this      

Banyak hal yang menjadi alasan untuk menulis. Seperti yang dialami Muzammil Frasdia. Pada awal memulai menulis, dia hanya ingin mengisi kekosongan.

DARUL HAKIM, Bangkalan

SEPERTI kebanyakan pemuda, Muzammil awalnya tidak suka menulis. Dia baru tertarik menuangkan isi hatinya dalam bentuk tulisan pada akhir 2008. Sebelumnya, guru honorer di UPTD SDN Raas, Kecamatan Klampis, Bangkalan, itu fokus pada teater.

Pria berumur 31 tahun asal Kecamatan Arosbaya itu menyampaikan, untuk mengasah kemampuannya di bidang menulis, dia sering tukar pikiran dengan M. Helmy Prasetya. Guru sekaligus teman di Komunitas Masyarakat Lumpur (KML). ”Nulisnya puisi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Madura.

Alumnus STKIP PGRI Bangkalan itu mengatakan, menulis puisi untuk mengungkapkan perasaannya. Khususnya, pada saat patah hati dan mengekspresikan masalah cinta. Ekspresi jiwanya sendiri. Lambat laun semakin tertarik dengan puisi. ”Ketika menulis diskusi ke Mas Helmy,” ujarnya.

Selain puisi, Muzammil juga aktif menulis naskah drama, cerita pendek (cerpen), esai, dan artikel.  Dia menulis untuk mengisi kekosongan. Statusnya yang belum memiliki pasangan membuat dia memiliki banyak waktu bergelut dengan buku. ”Mungkin karena jomblo. Kalau ada waktu kosong menulis,” tuturnya lantas tertawa.

Guru honorer bahasa Inggris sejak 2006 itu menyatakan, beberapa karyanya sudah dibukukan. Awalnya tidak kepikiran untuk membuat buku. Namun, atas dorongan teman-temannya akhirnya karyanya dibukukan. Kebetulan, komunitasnya memiliki penerbit. ”Akhirnya dibukukan,” ungkapnya.

 Karya yang dibukukan kali pertama berjudul Jiwa Hilang Jiwa yang dibukukan pada Februari 2016. Penerbitnya KML. Buku dengan tebal 76 halaman itu berisi 50 judul puisi. Sedangkan buku kedua berjudul Hikayat Sunyi.

Buku yang diterbitkan pada Januari 2017 berisi 50 judul puisi dengan tebal 82 halaman. ”Ada rencana akan dibukukan. Sudah ada beberapa cerpen lagi yang siap dibukukan. Judul bukunya rencananya Pakaian Cucian dan Cerita yang Belum Selesai,” jelas pria yang mengaku sempat vakum menulis pada 2009 sampai 2012 itu.

Menulis puisi lebih mudah. Karena itu, dia ingin fokus menulis puisi. Sebab, masih disibukkan dengan pekerjaan lain. Puisi yang ditulis merupakan pengalaman pribadi. Satu judul puisi paling cepat diselesaikan dalam sehari. Menulis puisi saat lagi santai. ”Kadang bertahun-tahun ngendap, hanya judul,” tuturnya.

Bakat yang dimilikinya itu ingin ditularkan kepada anak didiknya. Juga pada generasi milenial. Menulis itu adalah kegiatan positif. Muzammil juga mendirikan sanggar Paguyuban Seni Kopi Lembah di Kecamatan Arosbaya. Jumlah anggotanya 30 orang. Didirikan pada tahun 2015. ”Pendirian sanggar juga dorongan dari teman-teman,” jelasnya.

Menulis, kata Muzammil, cara terbaik untuk mengontrol diri mengendalikan keadaan serta berekspresi. Dengan menulis dan membaca, pola pikir  lebih jalan. Wawasan juga semakin luas. ”Membaca itu harus. Saya juga menularkan kepada anak didik. Menulis adalah panggilan jiwa,” tandasnya.

Meskipun  guru bahasa Inggris, tidak satu pun karyanya berbahas Inggris. Selain dua buku itu, karya Muzammil juga ada di sejumlah buku. Yakni, Permohonan Minoritas (puisi bersama), Dari Negeri Poci 7 (puisi bersama), Ije Jela (Puisi Bersama), Dicari Guru Privat Ilmu Dunia Akhirat (drama bersama), dan Interogasi (cerpen bersama).

(mr/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia