Jumat, 13 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Sampang

Enam Kecamatan Terdampak Kekeringan

26 Juni 2019, 17: 50: 31 WIB | editor : Abdul Basri

TUMBUH SUBUR: Yahya menyiram tembakau di lahan pertanian Kelurahan Karang Dalem, Sampang, kemarin.

TUMBUH SUBUR: Yahya menyiram tembakau di lahan pertanian Kelurahan Karang Dalem, Sampang, kemarin. (ANIS BILLAH/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Kekeringan mulai mengancam. Enam kecamatan mulai terdampak. Antara lain, lahan pertanian di Kecamatan Jrengik, Torjun, Kota, Kadungdung, Camplong, dan Sreseh.

Plt Kepala Dinas Pertanian Sampang Suyono menyatakan, hampir setiap tahun ratusan lahan terdampak kekeringan. Tingkat kekeringan tiap daerah tidak sama. Beberapa daerah mengalami kering kritis, sedang, dan ringan.

Kendati demikian, luasan tanaman yang terdampak kekeringan lebih sedikit dibandingkan dengan tahun lalu. Karena itu, pihaknya mengingatkan petani agar menanam di daerah yang mudah dialiri air. ”Kekeringan pasti terjadi ketika musim kemarau,” katanya kemarin (25/6).

Pada saat musim kemarau, masyarakat cenderung lebih tertarik menanam tembakau. Di daerah yang rawan kekeringan tersebut kualitas tanaman tembakau bagus. Hal itu berpotensi mendapatkan penghasilan yang menjanjikan.

”Terkadang meski air tidak cukup, petani memaksa untuk menanam tembakau. Seharusnya kalau kebutuhan air tidak mencukupi, jangan dipaksakan. Sebab, tembakau membutuhkan air yang cukup agar tumbuhnya juga bagus,” tuturnya.

Selain tembakau, Suyono menyebutkan, lahan di enam kecamatan terdampak kekeringan tersebut berpotensi ditanami tanaman lain. Misalnya, kacang-kacangan. ”Kacang tanah itu lebih toleran dan tahan terhadap kekeringan. Meski tidak ada air, petani masih bisa panen meski ukurannya lebih kecil dari biasanya,” tukasnya.

Yahya, 55, warga Kelurahan Karang Dalem, Kecamatan Sampang, menyampaikan, selama ini kebutuhan air untuk tembakaunya masih cukup. Dia menyiapkan tempat penampungan air di sawahnya. Air tersebut dialiri dari sumur di rumahnya.

Namun, saat ini persediaan air di sumurnya mulai berkurang. Penyiraman juga mulai dikurangi. Biasanya, penyiraman dilakukan setiap hari, kini harus irit dua hari sekali. ”Semoga saja cukup hingga panen,” harapnya. (bil)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia