Sabtu, 23 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Sumenep

Nakhoda Amin Jaya Bisa Jadi Tersangka

Pencarian Korban Berakhir Hari Ini

23 Juni 2019, 18: 36: 56 WIB | editor : Abdul Basri

BERI KETERANGAN: Kapolres Sumenep AKBP Muslimin memberikan keterangan terkait proses hukum tragedi KM Amin Jaya di mapolres kemarin.

BERI KETERANGAN: Kapolres Sumenep AKBP Muslimin memberikan keterangan terkait proses hukum tragedi KM Amin Jaya di mapolres kemarin. (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Perkara tenggelamnya Kapal Motor (KM) Amin Jaya ditangani Direktorat Polair (Ditpolair) Polda Jawa Timur (Jatim). Status perkara tersebut sudah masuk tahap penyidikan. Selangkah lagi Arim selaku nakhoda bisa menjadi tersangka.

Kapolres Sumenep AKBP Muslimin menyatakan, KM Amin Jaya mengangkut 60 orang. Korban selamat 38 orang, 21 meninggal dunia, dan satu korban masih dilakukan pencarian oleh Tim SAR BPBD Sumenep dan Basarnas Jatim.

Pihaknya sudah berkoordinasi dengan penyidik di Direktorat Polair (Ditpolair) Polda Jawa timur (Jatim). Pada Jumat (21/6) dilakukan gelar perkara. Saat ini perkara tersebut sudah dinaikkan ke tahap penyidikan.

Polres Sumenep sebatas mem-back up hal-hal yang dibutuhkan penyidik polda. Misalnya, mengamankan kapal dan menghadirkan saksi-saksi yang bakal dimintai keterangan. ”Kami akan bersinergi dengan rekan-rekan penyidik Polda Jatim. Dengan demikian, penyidikan perkara ini segera selesai,” terangnya kemarin (22/6).

Muslimin menyapaikan, ada beberapa saksi yang sudah dimintai keterangan oleh penyidik. Yakni, penumpang selamat atas nama Ach. Saifullah, 25; Marwi, 50, selaku anak buah kapal (ABK); dan Arim, 50, nakhoda kapal tersebut.

Berdasar berita acara pemeriksaan (BAP) terhadap Arim, kapal tidak dilengkapi surat persetujuan berlayar dari Syahbandar Kalianget. Nakhoda juga tidak memberikan laporan kepada syahbandar perihal pengangkutan penumpang dari Pulau Guwa-Guwa menuju Pelabuhan Gersik Putih, Kalianget.

”Kapal itu hanya menyediakan enam life jacket dan enam jeriken kosong. Jadi, alat keselamatan berlayar tidak sebanding dengan jumlah penumpang yang diangkut,” ungkapnya.

Arim telah memenuhi unsur pasal yang dipersangkakan. Yakni, pasal 359 KUHP yang mengatur mengenai perbuatan yang mengakibatkan orang mati karena kesalahan atau kelalaian. Nakhoda kapal terancam pidana penjara maksimal lima tahun.

Selain itu, dia diduga melanggar pasal 302 ayat (3) UU 17/2008 tentang pelayaran. Jika berlayar tanpa surat persetujuan berlayar syahbandar, lalu mengakibatkan kecelakaan dan kematian, nakhoda bisa diancam pidana. Ancamannya kurungan penjara paling lama 10 tahun dan denda Rp 1,5 miliar.

Namun, kata Muslimin, penyidik masih perlu melakukan pendalaman dan pemeriksaan lanjutan terhadap para ahli di bidang pengukuran kapal dan bidang keselamatan. Pemeriksaan itu dilakukan untuk mengetahui kecelakaan tersebut. Sebab, kapal itu overdraft capacity atau kelebihan muatan.

Polisi akan melakukan pengukuran ulang terhadap gross tonnage (GT) kapal tersebut. Tujuannya, mengetahui apakah GT kapal sudah sesuai dengan ukuran kapal. Juga terkait dengan kelayakan kapal untuk berlayar. 

Kemungkinan pemeriksaan juga dilakukan terhadap tenaga ahli dari syahbandar. Guna menganalisis dan menyimpulkan apakah kapal tersebut merupakan kapal penumpang atau kapal barang, standar kapasitas muatan, serta laporan keberangkatan dan kedatangan kapal. ”Kami masih menunggu informasi dan perkembangan selanjutanya dari penyidik Polda Jatim,” katanya.

Kabidhumas Polda Jawa Timur Kombes Pol Frans Barung Mangera membenarkan bahwa perkara tersebut sudah naik ke penyidikan. Namun, hingga saat ini belum ada penetapan tersangka. ”Penyidikan, tapi belum ke penetapan tersangka,” tuturnya ketika dihubungi kemarin sore.

Sementara itu, Tim SAR BPBD dan Basarnas masih terus berupaya mencari jasad Ziharatul Ilma. Kepala BPBD Sumenep Abd. Rahman menyampaikan, hingga kini tim SAR belum menemukan tanda-tanda lokasi jasad korban. Sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP), pencarian akan dilaksanakan hingga hari ini (23/6). Jika tetap tidak ditemukan, pencarian bakal dihentikan dan korban dianggap meninggal.

(mr/nal/bam/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia