Sabtu, 07 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Sumenep

Amin Jaya Bukan Kapal Penumpang

20 Juni 2019, 15: 31: 27 WIB | editor : Abdul Basri

KERJA KERAS: Tim SAR menyisir perairan Dungkek, Sumenep, mencari korban tenggelamnya KM Amin Jaya yang belum ditemukan kemarin.

KERJA KERAS: Tim SAR menyisir perairan Dungkek, Sumenep, mencari korban tenggelamnya KM Amin Jaya yang belum ditemukan kemarin. (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Share this      

BANGKAI Kapal Motor (KM) Amin Jaya berhasil dievakuasi Tim SAR BPBD dan Basarnas Jawa Timur. Kapal yang sebelumnya mengalami kecelakaan itu kini dievakuasi ke pantai Desa Rumben Barat, Kecamatan Dungkek, Sumenep.

Meski dihantam gelombang tinggi hingga terbalik, kapal tersebut tidak banyak mengalami kerusakan. Hanya rusak di bagian ekor dan tiang. Banyak pihak yang menilai bahwa kapal tersebut bukan kapal penumpang.

Subaidi, perajin kapal kayu di Desa Romben Barat, menuturkan, kapal tersebut tidak cocok dioperasikan untuk mengangkut penumpang. Ukuran kapal terlalu kecil. Panjangnya hanya sekitar 11 meter dengan lebar tiga meter. Tidak laik mengangkut penumpang dan barang dengan jumlah banyak.

Bentuk kapal itu sama dengan perahu pencari ikan. Bedanya hanya dimodifikasi dengan memasang atap di bagian tengah. ”Standarnya, kapal itu memuat beban maksimal 1,5 ton. Kalau memuat penumpang sekitar 25 orang, itu sudah sangat cukup,” ucapnya.

Kepala Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kalianget Supriyanto membenarkan bahwa kapal tersebut tidak termasuk kategori kapal penumpang. Sebab, ukuran kapal hanya 3 gross tonnage (GT). Padahal, standar kapal tradisional yang bisa mengangkut penumpang harus di atas 7 GT. ”Tidak sesuai dengan standar Kementerian Perhubungan,” jelasnya kemarin (19/6).

Kapal tradisional harus disesuaikan dengan peruntukan. Misalnya, kapal menangkap ikan, kapal penumpang, pengiriman barang atau sembako, dan kapal pelayanan wisata. Dengan begitu, tidak semua kapal tradisional bisa digunakan sebagai kapal penumpang. ”Kapal itu sudah melebihi kapasitas maksimal 1,5 ton. Jadi, sangat berbahaya jika berlayar, apalagi dengan kondisi cuaca buruk,” ucapnya.

Pihaknya sudah melaksanakan rapat bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur untuk membahas kecelakaan yang dialami KM Amin Jaya. Selama ini, Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Laut terus berupaya meningkatkan keselamatan, keamanan, dan pelayanan kapal penumpang. Khususnya kapal penumpang tradisional di seluruh wilayah perairan Indonesia.

Salah satunya dengan menyosialisasikan kepada masyarakat pemilik kapal tradisional untuk mendukung aturan-aturan keselamatan dan keamanan serta pelayanan pelayaran. Tujuannya, agar mereka paham akan pentingnya keselamatan saat berlayar.

Sosialisasi itu juga merupakan langkah preventif mengantisipasi kecelakaan. Namun, upaya tersebut belum bisa meningkatkan kesadaran pemilik kapal terkait peraturan tersebut.

Pihaknya sudah mengingatkan pemilik kapal transporatsi agar selalu memastikan kapalnya layak dan mengetahui jumlah penumpang tidak melebihi kapasitas serta menyediakan pelampung. Nakhoda juga harus memperhatikan laporan dan kondisi cuaca, baik dari BMKG maupun pengamatan secara visual. ”Kami sangat sedih dengan peristiwa itu,” ucapnya.

Pihaknya akan melakukan penyuluhan kepada pemilik kapal dan operator kapal supaya paham pentingnya keselamatan saat berlayar. Sebab, keselamatan di atas segalanya.

KSOP tidak bisa bekerja sendiri mengantisipasi kecelakaan laut. Butuh koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Di samping melakukan sosialisasi, pemerintah harus menyediakan sarana transportasi yang layak bagi masyarakat.

(mr/nal/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia