Sabtu, 14 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features

Aditya Pratama, Bocah Sembilan Bulan, Korban Selamat KM Amin Jaya

Ibu Tak Tertolong, Ayah Takut Kehilangan

19 Juni 2019, 16: 02: 27 WIB | editor : Abdul Basri

SAYANG ANAK: Salihan menggendong Aditya Pratama di Puskesmas Dungkek kemarin.

SAYANG ANAK: Salihan menggendong Aditya Pratama di Puskesmas Dungkek kemarin. (ZAINAL ABIDIN/RadarMadura.id)

Share this      

Salihan berusaha tegar saat sang istri menjadi korban tenggelamnya KM Amin Jaya. Di tengah ombak besar dan kapal yang terbalik, anaknya yang berumur sembilan bulan masih bisa tersenyum. Salihan semakin takut kehilangan.

ZAINAL ABIDIN, Sumenep

TENGGELAMNYA Kapal Motor (KM) Amin Jaya menyisakan duka mendalam. Tragedi maut yang menelan belasan korban jiwa itu mengakibatkan banyak orang tua kehilangan anaknya dan anak kehilangan orang tuanya.

KEHILANGAN: Sifa dipapah kakek dan neneknya saat datang ke kecamatan untuk melihat jenazah orang tuanya

KEHILANGAN: Sifa dipapah kakek dan neneknya saat datang ke kecamatan untuk melihat jenazah orang tuanya (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Seperti dialami Aditya Pratama. Putra dari pasangan Salihan, 36, dan Ummatun, 30, warga Pulau Guwa-Guwa, Kecamatan Raas. Akibat peristiwa tersebut, anak yang baru genap berusia 9 bulan itu tidak akan lagi bisa merasakan kelembutan kasih sayang seorang ibu.

Ibu yang mengandung dan melahirkannya kini telah tiada dan pergi untuk selama-lamanya. Ummatun menjadi salah seorang korban kecelakaan laut itu. Sementara Aditya dan Salihan selamat.

Keduanya masih menjalani perawatan di Puskesmas Dungkek hingga kemarin (18/6). Sejak Aditnya dirawat di puskesmas, masyarakat berdatangan untuk menjenguk. Warga iba akan nasib bocah ini. Bahkan ada warga setempat yang ingin menjadikan anak angkat.

Termasuk tokoh perempuan Dewi Khalifah. Pengasuh Pondok Pesantren Aqidah Usymuni itu menyebut peristiwa yang menimpa Aditya merupakan keajaiban. Dia menambah kata ”Muhammad” di depan nama Aditya Pratama dengan harapan agar jiwa dan kehidupannya mulia seperti Nabi Muhammad SAW.

Pertama dibawa ke puskesmas oleh warga yang menolong, suhu tubuh Aditya panas sehingga membuatnya nangis.Saat inikondisinya membaik. Begitu juga dengan kondisi Salihan.

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berkesempatan mewawancarai Salihan. Kemarin siang (18/6) pria kelahiran 1983 itu tengah menggendong anaknya sembari memberikan susu formula. ”Mohon maaf kalau nanti kalimat yang saya sampaikan kurang jelas karena sampai sekarang kepala saya masih sedikit pusing,” tuturnya.

Dia ikut kapal itu bersama istri dan anaknya. Naik dari Pulau Guwa-Guwa dan akan turun di Pelabuhan Gersik Putih, Kalianget. Keluarga ini hendak berangkat ke Banjarmasin. ”Hampir delapan tahun saya bekerja di sana sebagai kuli mebel. Anak ini juga lahir di Banjarmasin,” katanya.

Namun, nasib berkata lain. Istrinya mengembuskan napas terakhir ketika tenggelam di laut. Saat kejadian, dia dan istrinya duduk di luar kabin kapal. Aditya digendong Ummatun. Saat kapal diterjang ombak dan terbalik, dirinya sempat menyelamatkan keduanya dengan berpegang ke tiang kapal. Saat ingin menaikkan anak dan istrinya ke atas kapal, pegangannya lepas. Mereka tercebur ke laut.

”Saya berusaha berenang dan menarik tangan istri saya. Kemudian, istri saya menyerahkan Aditnya pada saya. Sehingga saya tidak bisa memegang tangannya lagi. Akhirnya, dia tenggelam,” ucapnya sambil mengingat masa kelam itu.

Melihat anaknya tersenyum, Salihan berupaya berenang dan kembali naik ke atas kapal bersama sejumlah korban selamat yang lain. Selama dua jam Salihan dan anaknya menahan dingin. Tubuh anaknya menggigil.

”Saya menangis dan berteriak minta tolong. Saya terus mendekap tubuh Aditnya. Anak ini masih sempat tersenyum dan melihat wajah saya. Itu yang membuat saya semakin takut kehilangan,” tuturnya.

Dua jam kemudian, sebuah perahu nelayan asal Desa Lebeng, Kecamatan Pasongsongan, datang. Perahu-perahu itu menolong dan membawanya ke pesisir pantai Dungkek. Saat turun dari kapal, saya sudah tidak sadar. Sadar saat dirawat di puskesmas.

”Semoga arwah istri diterima di sisi Allah dan ditempatkan di tempat yang terbaik. Semoga kelak Aditya menjadi anak saleh yang selalu berbakti dan mendoakan almarhumah ibunya,” harap Salihan.

Kondisi 39 korban selamat yang menjalani perawatan di Puskesmas Dungkek semakin membaik. Sejumlah pasien sudah diperbolehkan pulang. Rahmat, 7, yang sebelumnya terbaring lemas dan diinfus, kini juga membaik.

Bocah yang kehilangan ibu dalam peristiwa tersebut sudah bisa duduk, makan, dan berkomunikasi. ”Sudah tidak pusing. Hanya, masih sedih karena ibu saya (Susi) tidak selamat dan meninggal dunia,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Korban lain, Rahman, 39, juga kian membaik. Sebelum dirawat di puskesmas, dia mengaku pusing, panas dingin, dan mual. ”Alhamdulillah sekarang sudah enakan. Saya ingin cepat pulang ke rumah,” ujarnya.

Plt Kepala Dinkes Sumenep Agus Mulyono menyatakan, Aditya Pratama yang awalnya badannya panas kini normal dan membaik. Begitu juga kondisi Inara yang dirawat di RSUD. ”Orang tua anak Aditya Pratama, Salihan, juga telah membaik dan bisa diajak komunikasi. Kami akan terus memantau perkembangan kesehatan korban,” katanya.

Mayoritas korban syok dan mengalami dehidrasi karena lama berada di laut. Terutama anak-anak dan balita. Misalnya, Inara yang mengalami hipotermia atau suhu tubuh yang terlalu dingin sehingga harus dirujuk ke rumah sakit. ”Perkembangan kesehatan anak itu sudah baik. Hanya, masih butuh perawatan medis,” terangnya.

Pihaknya akan menyiapkan 17 unit ambulans di rumah sakit untuk mengantar jenazah ke Pelabuhan Dungkek. Selanjutnya, jenazah akan dibawa ke Pulau Guwa-Guwa. Juga menambah dokter dan perawat di Puskesmas Dungkek agar semua pasien dapat pelayanan paripurna. 

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia