Senin, 14 Oct 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Keselamatan yang Terabaikan

Oleh Lukman Hakim AG.

18 Juni 2019, 15: 16: 54 WIB | editor : Abdul Basri

Keselamatan yang Terabaikan

Share this      

Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun.

KECELAKAAN transportasi laut kembali terjadi di perairan Sumenep. Kali ini menimpa KM Amin Jaya yang berlayar dari Pulau Guwa-Guwa, Kecamatan Raas. Perahu ini tenggelam di perairan antara Pulau Gili Iyang dan Pulau Sapudi saat menuju Kalianget kemarin (17/6).

Peristiwa nahas ini bukan yang pertama. Senin, 6 Oktober 2014, PLM Jabal Nur dari Pulau Raas tujuan Bali juga tenggelam. Perahu tersebut mengangkut rombongan pengantin, termasuk mempelai pria. Belasan korban meninggal dan puluhan lainnya hilang.

Kecelakaan itu mendapat perhatian Gubernur Jawa Timur –saat itu– Soekarwo. Jumat, 10 Oktober 2014, dia terbang ke Pulau Raas menggunakan helikopter. Siang itu dia didampingi Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim Sudarmawan dan Kepala Dinas Perhubungan dan Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) Jatim Wahid Wahyudi.

Setelah menemui korban selamat dan memberikan santunan, Pakde Karwo memberikan keterangan kepada wartawan. Ada dua hal yang disampaikan terkait dengan peristiwa tersebut. Pertama, dia menekankan pentingnya perangkat keselamatan penumpang. Yakni, ketersediaan pelampung untuk transportasi laut.

Dia menyadari jumlah pelampung di kapal masih kurang. Karena itu, dia minta Dishub dan LLAJ Jatim mendata dan melengkapi kekurangan pelampung. Dia juga menyatakan bahwa telah sepakat dengan Bupati A. Busyro Karim agar semua kapal harus ada tools penyelamatan. Terutama kapal kecil.

Bupati dibantu dishub akan mendata kapal-kapal yang belum memiliki pelampung. Dari data itu kemudian akan dianggarkan dalam APBD 2015 untuk memenuhi kebutuhan pelampung. Bagaimana tindak lanjut itu hingga saat ini?

Kedua, Pakde Karwo juga menyatakan tentang sharing dana untuk membeli kapal besar yang digunakan untuk mengangkut penumpang di perairan Sumenep. Kapal itu sudah terwujud. KMP Dharma Bahari Sumekar (DBS) III telah berlayar meski pernah mengalami masalah saat awal-awal beroperasi.

Kecelakaan ini seharusnya tidak hanya duka para korban. Pemerintah dan anggota dewan mestinya juga merah telinga. Bahwa kepekaan mereka tidak hanya ditunjukkan pada saat terjadi perahu tenggelam dan memakan korban.

Melalui tugas dan fungsi mereka mestinya bisa mencegah. Paling tidak mengurangi jumlah korban jiwa. Bagaimana keselamatan transportasi pelayaran menjadi perhatian. Ketersediaan pelampung harus diperjuangkan.

Hingga saat ini, masih banyak perahu tanpa kelengkapan keselamatan penumpang. Setiap hari ada lalu lintas pelayaran. Baik jarak dekat seperti Tanjung–Giligenting, Dungkek–Gili Iyang, Cangkareman–Gili Raja, dan lain-lain. Apalagi, lalu lintas perahu nelayan di Kecamatan Sapeken yang terdiri atas banyak pulau.

Bukankah pengambil kebijakan sadar bahwa Sumenep terdiri atas ratusan pulau?

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia