Jumat, 13 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Sumenep

Petani Keluhkan Harga Garam

Kw-1 Hanya Rp 600 Ribu Per Ton

17 Juni 2019, 15: 25: 58 WIB | editor : Abdul Basri

KERJA KERAS: Petani mengais garam di lahan pegaraman Desa Karang Anyar, Kecamatan Kalianget, Sumenep, Sabtu (15/6).

KERJA KERAS: Petani mengais garam di lahan pegaraman Desa Karang Anyar, Kecamatan Kalianget, Sumenep, Sabtu (15/6). (ZAINAL ABIDIN/RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Garam mulai dipanen. Tapi, senyum petani tidak begitu merekah. Sebab, harga pada awal musim ini tidak berbanding lurus dengan biaya dan modal yang mereka keluarkan.

Moh. Tamil, petani garam Desa Karang Anyar, Kecamatan Kalianget, menuturkan, saat ini harga jual garam produksi petani sangat murah dibandingkan tahun lalu. Kemarau tahun lalu harga jual garam masih di kisaran Rp 1,2 juta per ton. Bahkan, saat panen raya tembus Rp 2 juta per ton.

Sekarang harga garam kualitas satu (kw-1) hanya Rp 600 ribu per ton. Garam kw 2 dan 3 bisa jauh lebih murah. Menurut dia, harga garam saat ini belum bisa menutupi biaya produksi dan ongkos pekerja. ”Kalau harga garam hanya segitu, petani tidak dapat untung, yang ada hanya capek,” tuturnya Sabtu (15/6).

Pria 53 tahun itu mengaku heran mengapa garam rakyat saat ini terjual murah. Padahal belum banyak petani yang panen. Gudang juga belum banyak melakukan penyerapan. Lazimnya, harga garam murah ketika hasil produksi garam petani melimpah dan stok di gudang banyak.

Hasil produksi tahun ini diperkirakan lebih banyak dari tahun lalu. Kualitas garam tahun ini juga lebih bagus. Sebab, petani sudah banyak yang menggunakan geomembran dan sistem pengolahan sesuai standar. ”Di tengah meningkatnya kualitas dan kuantitas produksi, harga garam malah turun. Kalau tahun lalu petani makmur dan bisa merasakan hasil jerih payah,” katanya.

Dia khawatir harga garam akan terus merosot. Sebab, sebentar lagi sudah memasuki musim panen. Jika garam sudah dipanen, khawatir harga akan lebih rendah. Selama ini petani menjual hasil produksi garam kepada tengkulak atau pengepul. ”Banyak petani yanga mendapatkan suntikan modal dari tengkulak. Jadi hasil produksi dijual kesitu. Harga sepenuhnya ditentukan tengkulak,” ungkapnya.

Dia berharap pemerintah memfasilitasi perusahaan pengolah garam agar bisa membeli garam rakyat. Pemerintah juga harus mengawasi stabilitas harga. Jika garam terjual dengan harga murah, petani akan rugi.

Yang paling diharapkan, pabrik tidak membeli garam impor. Sebab, akan berdampak pada harga garam lokal yang pada akhirnya mengakibatkan garam petani tidak terserap maksimal. Seingatnya hanya tahun lalu PT Garam yang menyerap garam rakyat dengan jumlah banyak.

”Semoga harga garam bisa segera normal. Penyerapan garam rakyat oleh gudang atau pabrik juga bisa maksimal, agar kesejahteraan petani garam di Sumenep meningkat,” harapnya.

Direktur Utama (Dirut) PT Garam Budi Sasongko mengatakan, harga garam rakyat mengikuti mekanisme pasar. Sampai saat ini pemerintah belum menentukan harga dasar. Seharusnya, harga garam kw-1 berada di atas Rp 800 ribu per ton supaya kesejahteraan petani meningkat.

Budi mengatakan, mekanisme pasar meliputi empat lini. Yakni, distributor, tengkulak atau pengepul, pabrik, dan lembaga pemerintah seperti PT Garam. Ke mana pun garam dijual, yang penting di situ ada kesepakatan antara petani dengan distributor. Pihaknya membenarkan bahwa saat ini  harga garam merosot.

”Risiko pasar bebas memang seperti ini. Apalagi, sampai sekarang belum ada penetapan harga dasar penjualan garam dari pemerintah,” ujarnya.

Pihaknya berupaya menjaga stabilitas harga dengan membeli garam rakyat kw-1 seharga Rp 1,2 juta per ton. Ada sekitar 120 ribu ton garam rakyat yang terserap. Penyerapan garam rakyat menggunakan dana penyertaan modal negara (PMN).

Apabila dana itu habis, pihaknya tidak bisa membeli garam rakyat. Sampai saat ini tidak ada undang-undang (UU) yang mewajibkan PT Garam untuk menyerap semua garam rakyat. ”Kuncinya petani harus bisa lebih meningkatkan kualitas produksi agar harga garam bisa melambung tinggi,” tandasnya.

(mr/nal/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia