Sabtu, 14 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features

Antusiasme Masyarakat Membaca Buku di Perpustakaan Keliling

Pengunjung CFD Berharap Koleksi Lebih Lengkap

17 Juni 2019, 15: 12: 32 WIB | editor : Abdul Basri

TAMBAH WAWASAN: Warga menemani anaknya membaca buku di sekitar mobil perpustakaan keliling di area Taman Bunga Pottre Koneng Sumenep kemarin.

TAMBAH WAWASAN: Warga menemani anaknya membaca buku di sekitar mobil perpustakaan keliling di area Taman Bunga Pottre Koneng Sumenep kemarin. (ZAINAL ABIDIN/RadarMadura.id)

Share this      

Berbagai cara dilakukan pemerintah untuk mengembangkan budaya baca masyarakat. Salah satunya melalui pengoperasian mobil perpustakaan keliling (perpusling). Mobil itu menjangkau beberapa titik untuk mendekatkan diri dengan pembaca.

ZAINAL ABIDIN, Sumenep

SETIAP hari Minggu suasana car free day (CFD) di area Taman Adipura Sumenep selalu ramai pengunjung. Masyarakat berbaur di lokasi tersebut untuk menikmati hari libur sembari melihat penampilan yang disuguhkan panitia.

Warga datang ke CFD bersama pasangan, teman, dan keluarga. Di area CFD sebelah utara terdapat mobil perpustakaan keliling milik Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Sumenep. Mobil ini membuka pelayanan bagi masyarakat yang ingin membaca.

Mobil tersebut stand by di lokasi pukul 06.00–08.00. Banyak masyarakat yang memanfaatkan fasilitas tersebut untuk membaca. Utamanya dari kalangan anak-anak SD dan SMP. Mereka membaca di mobil tersebut dengan ditemani orang tua.

Mobil perpusling menyediakan ratusan koleksi bacaan. Selain bisa membaca buku yang disediakan di rak mobil, para pembaca juga bisa memilih buku yang disediakan di kotak luar. Antusiasme masyarakat untuk membaca buku di fasilitas tersebut cukup tinggi.

Warga menilai mobil perpustakaan keliling sangat bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat. Minat baca masyarakat akan meningkat apabila ada pelayanan yang mudah dijangkau. Banyak masyarakat yang tidak bisa membaca buku di perpustakaan karena faktor waktu dan jarak tempuh.

Irma Widjiyanti, warga Desa Kolor, Kecamatan Kota Sumenep, menuturkan, koleksi buku yang disediakan di mobil perpusling sudah lumayan dan beragam. Mulai dari buku bacaan, cerita atau dongeng, tata boga, dan yang lain. Dengan begitu, warga bisa memilih buku yang ingin dibaca.

”Alangkah baiknya lagi kalau koleksi buku ditambah dan lebih dilengkapi. Misalnya, terkait teknologi, pertanian, dan sejarah,” ungkap dia.

Perempuan 36 tahun itu berharap agar dinas terkait juga bisa mengganti atau memperbarui koleksi di perpusling. Semua buku terbitan lama diganti dengan yang baru. Apalagi, buku yang sudah kusam atau rusak. Supaya warga lebih berminat membaca di perpusling, khususnya anak-anak.

”Yang baca buku di perpusling lebih banyak siswa. Kalau koleksi bukunya tidak menarik, mereka akan malas membaca buku di sini. Padahal, fasilitas ini sangat bagus untuk mendorong minat baca,” katanya kemarin (16/6).

Kepala DPK Sumenep Ahmad Masuni mengatakan, pengoperasian mobil perpusling merupakan program pengembangan budaya baca di masyarakat. Sejauh ini, program perpusling berjalan dengan baik. Dalam sebulan mobil itu aktif datang ke sekolah, balai desa, dan kantor kecamatan. Ada dua unit mobil perpusling yang dioperasikan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Selama 14 hari mobil itu datang ke tiap kecamatan. Dan selama ini antusias masyarakat cukup baik dengan memanfaatkan mobil perpusling untuk membaca buku. Buku di mobil tersebut hanya bisa dibaca di tempat, tidak bisa dipinjam. ”Perpusling juga membantu sekolah dalam hal membuat struktur pengelolaan, penataan buku, dan pemasangan nomor buku,” ujarnya.

Pihaknya mengakui koleksi buku di perpusling belum lengkap. Ada sebagian buku yang merupakan terbitan lama. Namun, bukan berarti selama ini pihaknya tidak melakukan pengadaan buku baru. Pengadaan dan penambahan koleksi buku rutin dilakukan.

Dalam satu tahun anggaran, ada sekitar 400 judul buku yang dibeli. Jumlah judul buku di perpusling sekitar 900 judul. Kualifikasi meliputi buku keagamaan, pengetahuan umum, sejarah, fiksi, dan lain sebagainya. Setiap tahun, buku yang sudah lama diganti. ”Tahun terbitannya tidak lama-lama banget,” klaimnya.

Anggaran untuk pengadaan buku tidak banyak. Tahun lalu sekitar Rp 160 juta. Sementara, kebutuhan masyarakat terhadap buku semakin meningkat. Dengan begitu, perlu dilakukan penambahan anggaran.

Pihaknya membeli buku yang banyak dibutuhkan masyarakat. Terutama bagi siswa atau mahasiswa yang butuh referensi. Selama ini instansinya berkoordinasi dengan semua lembaga pendidikan di Kota Keris untuk mengetahui buku yang sering dibutuhkan siswa. Termasuk dengan pondok pesantren (ponpes).

Menurut dia, minimnya warga yang membaca buku di perpusling bukan hanya karena koleksi buku sedikit. Tetapi, membaca belum menjadi kebutuhan. Mereka datang ke perpus hanya ketika butuh referensi. ”Kami harap minat masyarakat untuk membaca buku di perpus dan perpusling meningkat,” tukasnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia