Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Features

Mengunjungi Makam dan Jejak Perjalanan Panji Laras

Dari Sabung Ayam hingga Mitologi Tujuh Sumur

14 Juni 2019, 11: 27: 42 WIB | editor : Abdul Basri

KERAMAT: Makam Panji Laras di Kelurahan Polagan, Kecamatan Sampang, tampak bercorak klasik kemarin.

KERAMAT: Makam Panji Laras di Kelurahan Polagan, Kecamatan Sampang, tampak bercorak klasik kemarin. (IMAM S. ARIZAL/RadarMadura.id)

Share this      

Setiap legenda memiliki alur cerita berbeda-beda. Bahkan satu tokoh bisa dimiliki oleh berbagai daerah. Seperti kisah Panji Laras yang diklaim banyak darah. Termasuk Sampang juga memiliki kisah beserta perjalanan sang penyabung ayam itu.

IMAM S. ARIZAL, Sampang

Pada tahun 1990-an, kisah Panji Laras kerap menjadi buah bibir di masyarakat. Anak-anak yang sedang ngaji di surau biasanya disuguhi kisah-kisah keteladanan tentang tokoh-tokoh terdahulu. Tetapi, tak ada yang peduli dari mana kisah para legenda itu berasal.

Nah, masyarakat yang kerap mendengar kisah Panji Laras kiranya bisa mencoba menelusuri jejaknya di Kelurahan Polagan, Kecamatan Sampang. Di daerah ini terdapat sebuah makam yang diyakini sebagai peristirahatan terakhir sang tokoh legendaris itu. Bukan hanya makam, segala penunjang kisah hidupnya juga lengkap.

Jawa Pos Radar Madura mencoba mengunjungi makam Panji Laras kemarin (13/6). Tak ada pengunjung yang datang ke tempat tersebut. Hanya penjaga makam yang siang kemarin sedang membersihkan sampah-sampah yang berserakan.

Akhmad Fauzan MK, demikian juru pelihara makam Panji Laras memperkenalkan diri. Dia mempersilakan koran ini menelusuri jejak demi jejak Panji Laras. Termasuk kisah dan mitologinya tentang tujuh sumur di sekitar makam.

Dikisahkan, cerita Panji Laras berawal saat Raja Jayengrono berburu di hutan. Dia tersesat dan tiba-tiba melihat sebuah rumah yang dihuni perempuan dan nenek tua. Raja terpesona melihat kecantikan perempuan yang bernama Timun Emas alias Centil Kuning itu. Jayengrono kemudian menikahi Centil Kuning.

Beberapa bulan setelah menikah, Jayengrono meminta izin kepada Centil Kuning kembali ke kerajaan untuk mengurus rakyatnya. Saat berpamitan, Centil Kuning sedang hamil tiga bulan. Setelah ditunggu beberapa bulan, ternyata raja tersebut tidak kunjung datang.

”Dan pada akhirnya, perempuan itu melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Panji Laras,” kata Fauzan.

Waktu terus berjalan, Panji Laras tumbuh besar. Saat Panji sudah bisa berjalan, tiba-tiba anak tersebut melihat seekor burung elang yang berputar-putar di atas rumahnya sambil mencengkeram sebutir telur. Lalu, burung itu turun dan meletakkan telur di dekat Panji.

Panji Laras mengambil telur itu dan menceritakan peristiwa aneh tersebut kepada ibunya. Ibunya lalu mengeramkan telur itu ke lilitan ular. Sebab, dia tidak punya ayam untuk dieramkan.

”Beberapa hari kemudian, menetaslah telur itu menjadi seekor ayam jantan yang diberi nama Cindi Laras,” imbuhnya.

Ayam jantan itu selalu menang saat diadu dengan ayam-ayam jago lainnya. Saat itu ayam tersebut kesohor hingga terdengar oleh raja. Dipanggillah Panji Laras untuk menghadap istana sembari membawa sang Cindi Laras untuk diadu dengan ayam jago milik raja. Pertarungan itu dimenangkan oleh ayam milik Panji Laras.

Karena ayamnya kalah, sang raja pun kecewa. Dia memanggil Panji Laras dan ditanyakan asal-usulnya. Dari penjelasan itulah, sang raja menyadari bahwa yang ada di depannya itu merupakan putranya sendiri.

”Setelah Panji Laras bertemu dengan ayahandanya, dia berpamitan kepada ayahanda dan ibundanya untuk belajar agama Islam,” jelas Fauzan.

Setelah beberapa tahun mendalami agama Islam, dia diperintahkan oleh gurunya untuk mengembara ke Pulau Garam. Di Madura inilah dia menyebarkan agama Islam. Tak lupa dia juga membawa ayam jagonya untuk dijadikan media dakwah.

”Jadi, dia adu ayam dengan orang lain. Jika lawannya kalah, maka berjanji akan memeluk Islam,” kisahnya.

”Dalam perjalanan menyebarkan Islam, Panji Laras tiba di Dusun Madegan, Kelurahan Polagan, Sampang. Beliau menetap dan wafat di sini,” tambahnya.

Ditanya bagaimana dengan kisah Panji Laras di daerah lain? Menurut dia, memang banyak versi tentang kisah tersebut. Tetapi dari bukti-bukti sejarah, yang paling mendekati kebenaran yakni di Polagan, Sampang.

Di sini terdapat makam, musala, tempat sabung ayam, sumur, dan 18 batu andesit dengan berbagai macam ukuran. Ada pula jejak kaki ayam, batu berangka tahun, batu asah, batu pijakan kuda, batu cucian, batu sendi, dan polos. Benda-benda tersebut, menurut Fauzan, identik dengan kisah Panji Laras.

Menurut ahli sejarah, angka tahun yang terdapat di relief tahun 1301 Saka atau sekitar 1.379 Masehi. Bentuk fondasi makam dan peninggalan batu andesit berelief yang terdapat di makam Panji Laras merupakan bekas bangunan candi pada zaman hindu.

Selain soal benda-benda bersejarah, ada pula mitos tujuh sumur Panji Laras. Tujuh sumur tersebut berbeda-beda khasiatnya. Ada sumur suci, tempat berwudu Panji Laras. Ada pula sumur pemandian kuda, sumur asah tajih, sumur pertemuan tamu, sumur pemandian para kerabat, sumur pemandian ayam, dan sumur taman. ”Tapi, kisah sumur tujuh itu lebih bersifat mitos,” tandasnya.

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia