Senin, 24 Jun 2019
radarmadura
icon featured
Sumenep

Disperta Imbau Petani Hindari Pestisida Keras

11 Juni 2019, 16: 05: 00 WIB | editor : Abdul Basri

DAUN EMAS: Petani menyiram tanaman tembakau di Desa Pakandangan Barat, Kecamatan Bluto, kemarin.

DAUN EMAS: Petani menyiram tanaman tembakau di Desa Pakandangan Barat, Kecamatan Bluto, kemarin. (ZAINAL ABIDIN/RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Musim tanam tembakau 2019 sudah tiba. Petani di sebagian wilayah Sumenep mulai menanam bibit daun emas tersebut. Dinas petanian tanaman pangan hortikultura dan perkebunan (dispertapahorbun) mengimbau petani tidak menggunakan obat pestisida keras.

Imbauan tersebut disaampaikan Kasi Tanaman Semusim Dispertapahorbun Sumenep Bejo Budiono. Dia mengatakan, selama tiga tahun terakhir potensi pertanian tembakau di Sumenep cukup bagus. Luas tanam selalu mencapai target 21 ribu hektare. Namun, selama ini masih banyak petani yang salah melakukan penanaman.

 Mulai dari penggunaan bibit, pupuk, penggunaan obat pestisida, hingga pemupukan yang tidak sesuai dengan teknis. Akibatnya, kualitas hasil produksi masih relatif rendah. Petani yang sudah menggunakan bibit unggul dan bersertifikat itu petani di Kecamatan Pasongsongan.”Bantuan bibit unggul masih banyak. Ada sekitar 19 kilogram. Keunggulan bibit itu dalam setiap 20 gram bisa cukup ditanam untuk 1 hektare. Sementara, bibit biasa hanya setengah hektare,” terangnya.

Petani juga harus memerhatikan teknis pemupukan tanaman. Pemupukan yang baik dan berimbang itu dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama sejak tanaman berumur satu minggu sampai 15 hari. Pemupukan tahap kedua dari usia 25 – 30 hari. ”Untuk satu hektare tembakau membutuhkan pupuk NPK sekitar 200 kilogram. Kalau menggunakan pupuk ZK 100 kg,” terangnya.

Penggunaan pestisida dalam pengendalian hama penyakit juga harus diperhatikan. Petani diminta untuk agar tidak menggunakan pestisida cair yang memiliki kandungan kimia tinggi. Sebab, penggunaan pestisida keras bisa mempengaruhi terhadap kualitas tembakau. ”Kalau bisa menggunakan pestisida organik atau pengawasan dan pembasmian hama dilakukan secara manual,” imbaunya.

Anggota Komisi III DPRD Sumenep Dulsiam meminta dispertapahorbun lebih aktif memberikan penyuluhan kepada petani. Juga mendorong petani supaya bisa menerapkan sistem teknologi pertanian agar hasil produksi bagus dan kesejahteraan petani meningkat. ”Penyuluhan kepada petani harus maksimal agar hasilnya juga bisa maksimal,” tandasnya. 

(mr/nal/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia