Senin, 24 Jun 2019
radarmadura
icon featured
Sumenep

Satu Kerapu Merah Bisa Seharga Rp 1 Juta

Sapeken Kaya Hasil Laut Kualitas Ekspor

10 Juni 2019, 12: 44: 30 WIB | editor : Abdul Basri

KAIS REZEKI: Nelayan berada di perairan Kecamatan Sapeken, Sumenep, kemarin.

KAIS REZEKI: Nelayan berada di perairan Kecamatan Sapeken, Sumenep, kemarin. (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Profesi nelayan cukup menjanjikan bagi masyarakat Kecamatan Sapeken. Keuntungan yang diperoleh dari hasil tangkap ikan sangat besar. Bahkan, satu ekor ikan kakap merah dengan berat lebih satu kilogram bisa dihargai Rp 1 juta.

Abu Siri, nelayan asal Dusun Buket, Desa/Kecamatan Sapeken, mengungkapkan, nelayan biasanya menggunakan pancing untuk menangkap ikan. Paling banyak dicari ikan kerapu karena harganya yang mahal. Tapi, tidak semua jenis kerapu. Hanya ikan kerapu merah yang dibeli dengan harga tinggi oleh pengepul.

”Sekitar Rp 700 ribu per kilogram. Kalau kerapu jenis lain sekitar Rp 200 ribu. Itu pun harus dijual hidup-hidup. Kalau mati, murah,” ungkap pria 46 tahun itu saat diwawancarai RadarMadura.id Sabtu (8/6).

Hasil laut masyarakat kepulauan Sapeken banyak dijual ke Pulau Dewata. Sebab, permintaan dari daerah tersebut cukup tinggi. Biasanya untuk menu di restoran. Tidak hanya ke Bali, ikan kerapu juga banyak diekspor ke luar negeri. Salah satunya Hongkong.

Pada momen hari raya Imlek, kata Abus Siri, harga kerapu merah bisa tembus Rp 1 juta per kilogram. Sekali berangkat memancing, Abu Siri bisa menghabiskan waktu sekitar empat hari di laut. Hasil yang didapat variatif. Terkadang sekali melaut bisa mendapat kerapu merah dengan berat dua kilogram.

Namun, tidak mudah untuk mendapat ikan tersebut. Bahkan, dia lebih sering mendapat ikan jenis lain. ”Campur. Kadang kerapu jenis lain. Paling besar kerapu merah itu berat 3 kilogram. Tapi, itu jarang bisa didapat,” ujar Abu.

Penghasilan yang bisa didapat sekali melaut lebih dari Rp 1 juta. Kalau dapat ikan bagus, penghasilannya lebih besar. Misal mendapat ikan kerapu merah dengan bobot 4 kilogram. Sudah pasti bisa mengantongi Rp 2,5 juta, bahkan bisa lebih.

Jutaan rupiah dari hasil penjualan itu masih kotor, belum dipotong biaya operasional. Tapi yang pasti, lanjut Abu, cukup untuk menafkahi keluarga. Dia mengaku sudah sejak bujang berprofesi sebagai nelayan. Mengikuti jejak orang tuanya.

Hasil tangkap yang memiliki harga tinggi berikutnya yakni lobster. Harga udang besar ini sekitar Rp 400 ribu per kilogram. Namun, tidak mudah mendapatkan lobster. Untuk mendapat udang tersebut nelayan harus menyelam.

”Lobster mutiara yang mahal. Kalau lobster bambu atau jenis lainnya lebih murah,” terangnya.

(mr/bad/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia