Senin, 24 Jun 2019
radarmadura
icon featured
Features

Cara Ponpes Nasyrul Ulum Melestarikan Baca Kitab Kuning

10 Juni 2019, 12: 42: 17 WIB | editor : Abdul Basri

GIAT: Santriwati Ponpes Nasyrul Ulum Bagandan, Kelurahan Jungcangcang, Kecamatan Kota Pamekasan, membaca kitab kuning.

GIAT: Santriwati Ponpes Nasyrul Ulum Bagandan, Kelurahan Jungcangcang, Kecamatan Kota Pamekasan, membaca kitab kuning. (PRENGKI WIRANANDA/RadarMadura.id)

Share this      

Generasi muda yang fasih membaca kitab kuning hampir langka. Pondok pesantren berperan penting menumbuhkan minat belajar membaca kitab tanpa harakat itu.

PRENGKI WIRANANDA, Pamekasan

LANTUNAN irama tasrif terdengar dari salah satu kelas di Pondok Pesantren Nasyrul Ulum. Santri dan santriwati kompak melagukan tasrif dengan indah nan merdu.

Para santri sangat fasih melafalkan ”lirik” berbahasa arab itu. Usai melagukan tasrif, kemudian dilanjutkan dengan belajar membaca kitab kuning.

Santri terlihat sangat antusias. Mulut mereka komat kamit menghafalkan beberapa materi yang disampaikan ustad. Meski dituntut belajar dan menghafal secara serius, tidak ada raut wajah yang menunjukkan bahwa mereka tertekan. Mereka justru riang. Selain membaca, mereka juga memaknai isi yang tertuang dalam kitab tersebut.

Pengasuh Ponpes Nasyrul Ulum KH Idris Hamid mengatakan, belajar membaca kitab kuning lebih sulit dibanding belajar lainnya. Banyak komponen pengetahuan yang harus dimiliki santri.

Santri harus paham ilmu nahwu dan saraf. Mereka juga harus menghafal nazam. Lalu, santri juga harus dibiasakan latihan sehingga bisa lancar membaca dan memahami kitab kuning itu.

Meski sulit, bukan berarti tidak bisa dipelajari. Asal ada kemauan dan semangat belajar yang kuat, diyakini kesulitan tersebut bisa ditaklukkan. ”Kuncinya semangat belajar,” katanya kemarin (9/6).

KH Idris Hamid menyampaikan, Ponpes Nasyrul Ulum, Bagandan, komitmen melestarikan baca kitab kuning. Berbagai upaya dilakukan agar santri berminat belajar membaca dan memahami kitab tersebut.

Salah satunya, menerapkan metode pembelajaran yang sangat menarik. Yakni, membaca kitab sembari dilagukan serta ada pancingan contoh untuk mempermudah pembelajaran.

Metode tersebut diambil dari kitab Al-Miftah Lil Ulum dari Sidogiri. Metode tersebut diterapkan kepada santri. Hasilnya, santri senang belajar kitab kuning dan mudah memahami kitab tersebut.

Santri juga diberi wadah untuk melakukan kajian isi kitab kuning. Materinya beragam. Di antaranya, tentang tasawuf, akhlak, fikih, dan tafsir. ”Kajian-kajian terus kami lakukan,” katanya.

KH Idris Hamid menyampaikan, belajar kitab kuning sangat penting. Isi kitab tersebut orisinal. Jika santri memahami, bisa menjabarkan isi kandungan dari kitab tersebut.

Karena itu, ponpes yang berada di Kelurahan Jungcangcang, Kecamatan Kota itu terus melestarikan baca kitab kuning. Harapannya, santri bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Minimal, dalam membaca Alquran tidak salah. Sebab, memiliki dasar keilmuan yang baik dalam membaca kalimat berbahasa Arab. ”Bisa membaca dan memahami kitab kuning bagi kami sangat penting,” tandasnya.

(mr/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia