Sabtu, 23 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Features

Kacapa’an, Kesenian Tradisional yang Tetap Lestari

09 Juni 2019, 15: 59: 15 WIB | editor : Abdul Basri

ATRAKTIF: Penari memperagakan tarian kacapa’ di acara pernikahan wartawan Jawa Pos Radar Madura Anis Billah dengan Munawaroh di Desa Sejati, Kecamatan Camplong, Sampang, kemarin.

ATRAKTIF: Penari memperagakan tarian kacapa’ di acara pernikahan wartawan Jawa Pos Radar Madura Anis Billah dengan Munawaroh di Desa Sejati, Kecamatan Camplong, Sampang, kemarin. (IMAM S. ARIZAL/RadarMadura.id)

Share this      

Kesenian tradisional lambat laun mulai ditinggalkan oleh generasi muda. Kehadiran seni modern membuat warisan tradisi leluhur kerap dilupakan. Tetapi, berbeda dengan seni kacapa’an yang hingga kini tetap dilestarikan oleh masyarakat Desa Sejati, Kecamatan Camplong, Sampang

IMAM S. ARIZAL, Sampang

PULUHAN sorot mata tertuju pada delapan pemuda berseragam putih kombinasi ungu. Diiringi musik rebana, para pemuda itu menunjukkan kelihaiannya dalam menari. Tarian yang tidak hanya menunjukkan kelenturan, tetapi juga terselip gerakan kuda-kuda dalam seni bela diri.

Itulah tari kacapa’an. Tari tradisional yang masih tetap dipertahankan oleh masyarakat Desa Sejati, Kecamatan Camplong, Sampang. Tari tersebut diperagakan dalam acara resepsi pernikahan wartawan JPRM Anis Billah dengan Muwarawoh di Dusun Mandala, Desa Sejati, Kecamatan Camplong, kemarin (8/6).

Tari kacapa’an merupakan perpaduan antara seni, bela diri, dan religiusitas. Kacapa’an ini lazim ditampilkan pada acara resepsi pernikahan. Baik di wilayah Desa Sejati atau ke daerah-daerah lain di Jawa Timur.

Tari yang diperagakan mengandung unsur bela diri. Ada gerakan kuda-kuda. Namun, mereka memainkannya dengan cara samar.

Unsur religiusitasnya bisa dilihat dari musik dan lagu yang dinyanyikan. Alat musik yang dipakai yaitu rebana. Sementara lagu-lagu yang dinyanyikan dari syair-syair salawat nabi.

”Kesenian ini merupakan warisan nenek moyang,” kata Ach Rompaji, koordinator Tim Kacapa’an Nurul Huda, Desa Sejati.

Saat ini para pemain kacapa’an merupakan generasi ketiga. Dia mengaku tidak mengetahui siapa penggagas tarian tersebut. Tetapi, tarian ini sulit ditemukan di daerah lain. ”Daerah lain tidak ada. Yang ada hanya di Desa Sejati,” ujarnya.

Di Desa Sejati, masih banyak grup seni kacapa’an. Mereka rata-rata merupakan kelompok musik hadrah. Tetapi, berbeda dengan hadrah pada umumnya. Ada ciri khas, baik dari sisi tempo, pukulan, ataupun tarian yang dimainkan. Karena itulah, mereka berani bersesumbar bahwa sulit ditiru oleh kelompok lain.

”Kelompok hadrah lain tidak bisa meniru, kecuali seperguruan,” tegas pria murah senyum itu.

Bukan perkara mudah mempertahankan seni kacapa’an. Terlebih saat ini sudah banyak seni tari modern yang lebih diminati masyarakat. Akan tetapi, demi mempertahankan nilai-nilai luhur, dia bersama rekan-rekan satu tim tetap mempertahankannya.

”Sekarang saingannya al-Banjari. Cuma al-Banjari tidak ada demonstrasi pengantar pengantin,” imbuhnya.

Gubahan rebana dalam kesenian kacapa’an ini terbagi dalam lima jenis. Yakni, yahum alias ruddad atau tari duduk. Gubahan rebana dalam yahum ini bervariasi dari pembukaan hingga ruddad selesai.

Kedua, gubahan tembangan pada saat atraksi zab atau rrka. Ketiga, musik kratangan, saat penari memperagakan atraksi memutar tubuh. Keempat, musik kacapa’, saat penari melakukan atraksi keliling yang diselingi gerakan kuda-kuda dalam seni bela diri. Kelima, musik sabungan, yakni saat penari mengajak pengantin berkeliling di lokasi acara.

”Kalau pukulannya juga macam-macam,” paparnya. Ada tennoh yang bunyinya cuma ting tang ting tang. Ada pula kotakan yang bunyinya tang ting tang ting tang tang, dan lain-lain,” tambahnya.

Seni kacapa’an ini tidak hanya tampil di Desa Sejati. Mereka kerap tampil di luar daerah. Pernah tampil di Bangkalan serta di Surabaya. Tarif yang dipatok pun berbeda-beda, bergantung biaya transportasi.

”Kalau tampil di luar desa tarifnya sekitar Rp 3,5 juta. Yang ke Surabaya Rp 4,5 juta,” kisahnya. ”Untuk tampil di desa sendiri kami tidak terlalu mematok harga tinggi. Kadang cuma Rp 2 juta,” tukasnya.

(mr/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia