Selasa, 18 Jun 2019
radarmadura
icon featured
Features

Akulturasi Budaya, Ber-KTP Sumenep, Berbahasa Bajo

08 Juni 2019, 14: 41: 04 WIB | editor : Abdul Basri

RAGAM: Warga berada di rumah panggung di Desa/Kecamatan Sapeken, Sumenep, kemarin.

RAGAM: Warga berada di rumah panggung di Desa/Kecamatan Sapeken, Sumenep, kemarin. (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

Share this      

Secara geografis, Pulau Sapeken lebih dekat dengan Pulau Bali. Namun, secara administratif, pulau tersebut masih masuk Kabupaten Sumenep. Bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari bukan bahasa Madura, melainkan Bajo, Sulawesi.

BADRI STIAWAN, Sumenep

KAMIS (6/6), Jawa Pos Radar Madura tiba di pelabuhan Kajuaro, Kecamatan Kangayan. Perahu sudah menanti dan siap berlayar ke Pulau Sapeken. Beberapa saat kemudian mesin dinyalakan. Sekitar 10 menit perjalanan, hentakan ombak mulai terasa. Angin tenggara cukup kencang sehingga gelombang laut cukup besar.

Pulau Paliat menghiasi pandangan sisi kanan perahu sepanjang perjalanan. Di sebelah kiri, Pulau Salarangan juga terlihat dari kejauhan. Estimasi perjalanan diperkirakan 45 menit. Namun, perahu yang ditumpangi harus melawan ombak, sehingga membutuhkan waktu lebih lama. Sekitar satu jam lebih perahu masuk ke perairan Sapeken.

Sampai di pulau ini, seperti bukan di Madura. Selain rumah, ada yang berbeda dengan masyarakat di pulau ini. Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi bukan bahasa Madura. Bahkan, saat ada yang menyapa hanya dibalas dengan senyuman karena tidak mengerti bahasanya. Akhirnya menggunakan bahasa Indonesia.

Rahman, warga Dusun Buket, Kecamatan Sapeken, mengatakan, di pulau ini, bahasa yang digunakan memang bukan bahasa Madura. Hal itu dikarenakan akulturasi budaya nenek moyang zaman dahulu. Menurut Rahman, Pulau Sapeken banyak disinggahi nelayan asal Sulawesi. Namun, tidak diketahui pasti tahun berapa.

Warga di sana masih mempertahankan rumah adat dan bahasa Bajo. Walaupun sebagian sudah direnovasi seperti rumah pada umumnya menggunakan tembok. Celurit juga terlihat tidak banyak digunakan. Warga di sana menggunakan parang.

Nama Sapeken sendiri diambil dari bahasa Bajo. Pekan memiliki arti tenggelam. Sebab, dahulu banyak orang tenggelam yang hanyut ke pulau ini. Tapi, bahasa Bajo di Sapeken sudah terkontaminasi oleh bahasa Jawa dan Madura. Jadi, tidak lagi berbahasa Bajo murni.

Pulau-pulau di sekitar Sapeken juga memiliki bahasa daerah yang berbeda. Pulau Pagerungan besar dan kecil misalnya menggunakan bahasa Mandar. Pulau Sepanjang berbahasa Madura khas Kangean. Sementara Pulau Salarangan berbahasa Madura.

Sekitar tahun 2017, pernah diselenggarakan festival akulturasi budaya Bajo. Panitia mengundang duta Malaysia dan Filipina, karena di negara tersebut menurutnya masih ada suku Bajo.

Keunikan Pulau Sapeken mengundang banyak perhatian. Banyak pelajar yang datang untuk melakukan penelitian seputar sosial budaya di pulau ini. Bahkan, ada pelajar asal Prancis dan Amerika yang pernah singgah untuk kursus bahasa Bajo di Pulau Sapeken.

Meski berbeda suku, bahasa, dan budaya, masyarakat Sapeken juga tetap mengakui statusnya sebagai bagian dari warga Sumenep. Di Pulau Sapeken tidak hanya tinggal suku Bajo. Ada juga Madura, Jawa, dan Bali. Keberagaman suku di pulau ini tetap tercipta kehidupan rukun meski hidup berdampingan.

Sayangnya, tidak banyak yang bisa dijelaskan Rahman tentang cerita Sapeken zaman dahulu. Dia mengarahkan untuk bertanya lebih lanjut pada tokoh sesepuh setempat. Namun, saat didatangi ke kediamannya, yang bersangkutan tidak ada di tempat. ”Tamban manditu (tinggal di sini saja. Bajo, Red). Tunggu orangnya datang. Ada bukunya juga soal asal-usul Sapeken ini,” jelas Rahman. 

(mr/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia