Senin, 24 Jun 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Makna (Ke)Pendekar(an)

Oleh Achdiar Redy Setiawan*

04 Juni 2019, 11: 06: 39 WIB | editor : Abdul Basri

Makna (Ke)Pendekar(an)

Share this      

RANGKAIAN Pemilu 2019 telah usai seiring telah diumumkannya rekapitulasi nasional oleh KPU RI pada 21 Mei. Memang masih tersedia ruang bagi peserta untuk menggugat jika terdapat ketidakpuasan dan indikasi kecurangan penyelenggaraan. Namun, penting untuk mengingatkan: selalu ada yang menang dan kalah dalam setiap kontestasi. Tawa bahagia dan tangis kesedihan senantiasa beriringan mengiringi setiap hasil akhir kompetisi. Sifat kesatria menerima kekalahan dan tidak jemawa berlebihan atas kemenangan adalah sebuah pilihan sikap yang perlu dikedepankan.

Saya teringat dengan lema ”pendekar”. Pendekar dalam benak mayoritas kita selalu terasosiasi kepada lema kedigdayaan, kekuatan kanuragan, dan kesaktian mandraguna. Memori kolektif sebagian besar masyarakat tentang figur pendekar masih lekat dengan terminologi seseorang yang jago, lakon protagonis yang senantiasa menang melawan antagonis.

Saya teringat dengan tema diskusi Majelis Maiyahan Bangbang Wetan pertengahan Januari lalu di Taman Budaya Cak Durasim, Surabaya, yang bertajuk ”Bangsa Pendekar”. Jiwa kependekaran seperti apakah yang penting untuk ditumbuhkan di zaman serba modern ini?

Pertanyaan substansial di atas perlu dihunjamkan pada aspek kemanusiaan kita. Apakah masih memerlukan ruang untuk saling mengalahkan (sebagaimana dilekatkan pada terminologi pendekar) dan saling menegasikan? Fenomena saling ingin memerdekakan diri (atas pihak lain) semakin tampak jelas di tahun politik ini.

Pemilu serentak 2019 menyeruakkan situasi yang memiriskan hati, khususnya ketika membincang pemilihan orang nomor satu di negeri ini. Kontestasi pemilihan presiden yang celakanya karena sistem yang ada (hanya) menyediakan dua pasang calon, membelah antar pendukung sedemikian rupa. Kompetisi yang terhampar terlihat brutal, bahkan barbarian di beberapa kesempatan.

Maka diperlukan redefinisi makna kependekaran pada realitas kekinian. Proses dan metodologi kontekstualisasi makna ini dilakukan sebagaimana menjadi ciri maiyahan: melongok pada akar agama, juga budaya. Emha Ainun Nadjib memberi perspektif menyegarkan. Beliau mengambil tamsil makna kependekaran ini pada pencak silat yang lahir dan tumbuh di bumi pertiwi.

Filosofi pencak silat menekankan pada sifat kemanusiaan yang tinggi. Tujuan penguasaan jurus silat yang paling utama bukan untuk kejemawaan diri. Mengalahkan (atau mengendalikan) nafsu diri sendiri lebih diprioritaskan. Pendekar silat yang terbaik, kata Mbah Nun, bukanlah yang paling banyak merobohkan musuh. Justru ia yang tak pernah berkelahi dan tak punya musuh (namun siapa pun segan) sesungguhnya telah mencapai puncak kependekaran.

Hal ini sejalan dengan filosofi budaya yang berakar kuat pada masyarakat Jawa, lanjut Cak Nun. Ada ajaran tentang ”ngalah, ngalih, ngamuk”. Ketika berhadapan dengan masalah, tingkatan tertinggi yang disarankan adalah mengalah. Pada aras berikutnya, ketika masih terjadi, ada baiknya ”ngalih”, beranjak dan tidak berusaha menanggapi dorongan untuk saling mengalahkan. Barulah ketika ”ngalah” dan ”ngalih” telah ditempuh, ”ngamuk” dipersilakan. Tapi lagi-lagi tujuannya bukan untuk kedigdayaan diri, tapi lebih kepada pembelaan terhadap prinsip menegakkan kebenaran dan nilai kebaikan.

KH. Ahmad Muzammil menegaskan, jika ingin mencari teladan tentang (ke)pendekar(an), pada diri Rasulullah Muhammad SAW terdapat segudang pelajaran. Rasulullah adalah maha pendekar. Kiai Muzammil lantas menyitir sebuah ayat QS At-Taubah 128. Term belas kasih dan sayang perlu diletakkan sebagai puncak kemanusiaan. Rasulullah tidak pernah ingin menyakiti dan membuat menderita manusia lain. Kisah hidup Rasulullah mengajarkan untuk setia bergerak pada episentrum kebaikan dan kemanfaatan yang tinggi bagi manusia dan lingkungan sekitar (khoiru an naas anfa’uhum li an naas).

Uswah yang diangkat dari substansi agama dan budaya ini perlu dihidangkan ulang. Kontestasi tidak untuk terus mengunggulkan diri secara membabi buta, lalu pada saat yang sama menjatuhkan dan menegasikan se laen. Hoaks dan ujaran kebencian yang masif selama fase kampanye pemilu sungguh sangat jauh dari ajaran nilai agama, juga budaya. Niat untuk memosisikan diri, juga kandidat jagoannya sebagai pendekar yang harus didukung seyogianya dilakukan tanpa menghina dan merendahkan kemanusiaan yang lain. Adab dan akhlak kemanusiaan perlu diletakkan sebagai karakter utama pendekar.

Manusia Indonesia perlu merujuk pada akar agama dan budaya sebagaimana didedahkan di atas ketika berhadapan dengan situasi kiwari. Zaman boleh berganti, namun kita perlu merawat jiwa pendekar yang bersemayam pada porsi dan definisi yang lebih pas. Merangkul, tidak memukul. Berkolaborasi, bukan berkompetisi (yang saling menegasi). Mengajak (berjalan bersama), bukan menginjak sesama. Maka bangsa ini pun akan diliputi keberkahan karena diisi para pendekar yang penuh cinta.

*Alumnus Ponpes Raudhatut Tholibin, Kolor, Sumenep

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia