Senin, 24 Jun 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Puasa dan Kedamaian Sosial

Oleh Matroni Musèrang*

03 Juni 2019, 10: 30: 21 WIB | editor : Abdul Basri

Puasa dan Kedamaian Sosial

Share this      

DASAR utama puasa adalah ”keimanan” (baca; Alquran), bukan ”kemampuan”. Kalaupun ada warung buka, menjual bakso, menjual nasi bukan alasan kita untuk ”mengutuk” si penjual. Apalagi sampai membongkar dan membakar. Ketika keimanan yang menjadi fondasi seseorang berpuasa, maka untuk menghormati bulan puasa semua manusia diperintah menghormati sesama manusia (berpuasa atau tidak puasa).

Sebagaimana Nabi Muhammad SAW juga sangat menghormati semua manusia, baik yang beragama Islam maupun non-Islam. Bagaimana mungkin yang berpuasa bisa mengganggu sesama. Dengan menghormati bulan puasa, apakah pantas atau etis kita mengganggu orang lain? Tentu tidak, sebab bulan puasa merupakan bulan bagi orang-orang yang beriman untuk benar-benar membersihkan kotoran-kotoran di pikiran, di hati, dan tingkah laku.

Di bulan puasa, kita sudah tidak lagi memiliki musuh, pikiran buruk, dan tingkah laku buruk kepada sesama. Sebab, pikiran dan hati kita sudah mulai ”bercahaya” lantaran kita bersihkan dengan amalan-amalan baik setiap detik. Hati selalu berzikir, pikiran selalu mengingat Sang Maha, dan tindakan yang baik.

Puasa seperti hujan. Siapa yang akan mandi dan akan menengadah tentu berbeda hasilnya. Puasa merupakan obral kebaikan. Kita harus berlomba-lomba lebih banyak mendapatkan. Pikiran dan hati yang berpuasa tidak akan mengganggu dan menghina sesama makhluk. Siapa yang paham makna iman akan damai hati dan pikiran dengan keberagaman dan keberagamaan yang memang sudah hukum alam.

Untuk mengetahui makna puasa, tentu banyak pengetahuan yang harus kita baca dengan baik. Sebab, pembaca yang baik adalah pendamai bagi sesama.

Apa yang dilakukan kelompok-kelompok radikal atau ekstrem itu didasarkan pada pemahaman parsial. Mengapa harus buru-buru menghukum dan menjustifikasi orang kafir dan berdosa, sementara pemahaman kita pun belum tentu ”benar”. Ketika kita suka menghakimi orang lain dengan kafir dan dosa, lantas kapan etika/moral kita akan naik (mikraj), dari yang suka menghakimi orang dengan kafir dan dosa menjadi manusia yang menghormati dan cinta orang lain.

Nilai substansial puasa adalah tauhid sosial, terjaganya dari membuat kesalahan dan mampu menahan untuk tidak mengganggu orang lain. Bagi kita yang paham makna iman dan makna puasa, membongkar warung sebenarnya perbuatan tercela. Alasannya amar makruf nahi mungkar, QS Ali Imran ayat 110 dinyatakan bahwa Engkau adalah umat terbaik yang diturunkan di tengah manusia untuk menegakkan kebaikan, mencegah kemungkaran (kejahatan), dan beriman kepada Allah.

Saya sependapat dengan Kuntowijoyo bahwa ayat di atas mengandung nilai-nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi. Yang penting digarisbawahi adalah ”umat terbaik”. Apakah kita sudah menjadi umat atau merasa terbaik bagi orang lain? Untuk dikatakan baik oleh orang lain bergantung pada etika atau moral kita. Kalau tingkah kita mengbongkar dan mengafirkan orang lain apakah itu perbuatan baik (makruf)?

Apakah membongkar itu baik? Kalau iya, baik menurut siapa? Maka membaca kondisi dan kausalitas dari fenomena orang berjualan itu penting. Puasa merupakan momentum untuk membaca ayat (tadarus), ayat sosial, ayat Alquran. Kalau kita belum membaca ayat sosial dalam hal ini para penjual di warung-warung, lantas kita memgbongkar, apakah tidak dosa, walaupun warung itu menjual makanan? Mengapa tidak membongkar markas koruptor di negeri ini? Mengapa menjual itu yang setiap hari mendapatkan untung satu juta ke bawah?

Kalau kita puasa, apa makna puasa kita sebenarnya? Kalau kita manusia, di mana rasa kemanusiaan kita? Kalau kita beriman, di manakah keimanan kita? Mengapa kita lebih tajam ke bawah daripada tajam ke atas? Apakah puasa hanya dijadikan tameng untuk membongkar agar kita disebut sebagai pencegah kemungkaran? Terlalu suci puasa dijadikan alat untuk mengbongkar hak orang lain.

Universalitas nilai yang dicita-citakan amar makruf nahi mungkar akan terlihat dan terbukti ketika manusia mengamalkan. Untuk mengamalkan kita diperintah mengetahui ilmunya. Maka cita-cita dari amar makruf nahi mungkar menjadi penting dicapai siapa pun. Dibutuhkan pembacaan yang serius dan pemikiran mendalam bagaimana mengaplikasikan konsep ini.

Pengertian ”mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran” kalau dibiarkan secara tekstual akan berkata apa adanya. Kebaikan kalau kita maknai itu apa? Apakah hanya sebatas membantu orang lain, melaksanakan perintah Allah? Lalu, kemungkaran itu apa? Apakah hanya tidak mabuk-mabukan? Tidak zina? Tidak berbuat jahat? Apakah hanya sedangkal itu pemahaman kita atas kata-kata dari Alquran.

Bagaimanapun, amar makruf nahi mungkar tidak akan pernah selesai kita bicarakan. Tugas kita terus membaca memperbarui cakrawala pemikiran dan keilmuan. Maka dengan sendirinya berpuasa merupakan beramar makruf nahi mungkar akan ikut bersama kita. Bersama orang-orang yang terus belajar dan membaca. 

*Santri Nadhlatul Ulama Gapura

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia