Selasa, 17 Sep 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Mudik Rohani

Oleh Abd. Munib*

02 Juni 2019, 15: 22: 48 WIB | editor : Abdul Basri

Mudik Rohani

Share this      

TRADISI mudik di Indonesia identik dengan kebiasaan tahunan menjelang hari raya besar keagamaan, misalnya menjelang Lebaran. Masyarakat Jawa mengenal mudik berasal dua suku kata yakni, muleh yang berarti pulang dan udik yang bermakna kampung. Mudik adalah pulang kampung. Ini diperkuat dalam Wikipedia yang mendefinisikan mudik sebagai kegiatan perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halaman.

Momen mudik selalu menyisakan tragedi kecelakaan. Karena itu, tidak kalah penting menjaga keselamatan sekaligus hati-hati dalam perjalanan. Karena keselamatan itulah pemudik menyiapkan bekal, minimal ongkos transportasi. Lebih dari itu, pemudik biasanya sudah jauh-jauh hari menyiapkan segala kebutuhan yang lengkap dengan ancang-ancang agenda saat sampai di kampung. Tidak ada yang salah perihal persiapan tersebut, sebab begitulah seharusnya menjalani kehidupan.

Dalam rangka mewujudkan kesejahteraan sosial, kenyamanan, dan kemulusan hidup, maka harus ada persiapan dan perencanaan matang sebagai bekal. Di sini mudik menjadi penting karena dapat berjabatan tangan dengan orang tua, silaturahmi dengan famili, dan dengan tetangga kampung halaman kian akrab usai bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun tidak bersua di ruang nyata. Dengan demikian, mudik bukan sekadar tentang naik apa.

Tetapi juga tentang bagaimana merenung bahwa kebaikan apa pun yang dicapai pemudik hari ini tidak lepas dari peristiwa masa lalu di kampung halaman. Kampung halaman menjadi saksi bisu orang tua yang melahirkan, memperjuangkan, dan mungkin mereka-mereka (baca: orang tua) telah tiada. Tak heran bila banyak pemudik meluangkan waktu khusus untuk ziarah kubur orang tua atau almarhum kakek-nenek. Kearifan lokal di kampung halaman akan tetap lestari jika cita-cita luhur tetap terpatri di relung jiwa, sekalipun sangat lama tinggal di kota. Bahkan, meski para sesepuh kampung telah pergi mendahului kita.

Seharusnya memang demikian. Mudik menjadi peristiwa sakral sekaligus senantiasa mengingatkan kita akan ciri khas kampung yang menjunjung semangat kekeluargaan dan jauh dari kata individualistik. Sayangnya, dekade ini mudik tak ubahnya seperti ajang unjuk kesuksesan diri yang dicapai dari kota. Maka wajar bila pulang kampung atau mudik menjadi ajang pamer kendaraan mewah, perkakas rumah berkelas yang diboyong dari kota seberang, dan pamer budaya anyar yang diadposi dari kota tempat merantau, serta tak segan mengultuskan new life style alias gaya hidup baru yang glamor.

Didukung dengan kekakuan sebagian besar dari para perantau yang menganggap mudik sebatas kerinduan pada kampung halaman alam dunia semata. Nyaris, para perantau tidak mengambil ibrah dari filosofis mudik guna mempersiapkan bekal untuk kepentingan hidup di kampung yang sesungguhnya, yakni akhirat. Kepulangan pada kampung akhirat inilah yang disebut dengan mudik rohani. Sebagaimana telah diimani umat Islam bahwa di alam akhirat nanti hanya terdapat dua kampung, yaitu surga dan neraka.

Sebelum sampai pada kampung surga atau neraka, para pemudik rohani transit terlebih dahulu di alam kubur. Ketika hendak menuju alam kubur, kendaraannya bukan mobil mewah melainkan keranda. Bekal yang dibutuhkan bukan merek barang bergengsi tetapi amal salih. Di alam kubur itu pula, keuntungan yang ingin dicapai bukan tentang harta dan kuasa, tetapi tentang selamat dari siksa. Negosiasi dan wawancaranya bukan dengan rekan kerja yang mudah disogok melainkan dengan malaikat Munkar dan Nakir. Meskipun mungkin jawaban dari soal kedua malaikat tersebut telah kita hafal selama ini, tapi jelas bukan menjadi jaminan keselamatan kita kelak.

Maka kalau untuk mudik ke kampung halaman di dunia saja sudah bejibun bekal dipersiapkan, lalu bagaimana dengan bekal menuju kampung akhirat? Padahal, jalan menuju kampung akhirat lebih terjal dan bukan tidak mungkin lebih seram pun menakutkan. Misalnya, saat kita mudik dari Kota Jogjakarta ke kampung Madura lalu kehabisan uang transportasi di tengah jalan bisa jadi teman kita dapat menggenapi dengan pinjaman. Tapi, kehabisan bekal saat mudik ke kampung akhirat tidak mungkin ada yang meminjamkan amal salih atau pahala. Setiap individu sibuk dengan catatan amal sendiri, bahkan konon dua orang yang sangat akrab di dunia, di akhirat tidak bertegur sapa lantaran saking paniknya.

Jauh sebelum transit di alam kubur menuju kampung akhirat, pemudik rohani akan berjabatan dengan maut. Tubuh dibalut kain kafan. Sekarang, kita masih hidup. Kita bisa memperbaiki dan menyiapkan bekal dengan gairah kerja amal salih guna menjadi hamba terhormat di kampung akhirat.

”Apalah artinya hidup ini bila sisa yang tak menentu ini pun aku kehilangan kehormatan,” kata Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca. 

*)Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia