Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Features

Satu Jam Bersama Pengurus Ikatan Alumni Darussyahid Sampang

02 Juni 2019, 15: 20: 20 WIB | editor : Abdul Basri

FOKUS: Pengurus dan panitia temu alumni Ikada menggelar rapat di Pondok Modern Darussyahid, Jalan Merapi Gang II/10 C, Kelurahan Rongtengah, Kecamatan Sampang, Rabu malam (29/5).

FOKUS: Pengurus dan panitia temu alumni Ikada menggelar rapat di Pondok Modern Darussyahid, Jalan Merapi Gang II/10 C, Kelurahan Rongtengah, Kecamatan Sampang, Rabu malam (29/5). (IMAM S. ARIZAL/RadarMadura.id)

Share this      

Ikatan Alumni Darussyahid (Ikada) Sampang baru berdiri pada 2009. Namun organisasi ini telah memiliki anggota di berbagai pelosok negeri. Mereka menyebar dengan berbagai profesi, tetapi tetap menjalankan nilai-nilai pesantren.

IMAM S. ARIZAL, Sampang

PONDOK Modern Darussyahid didirikan sekitar 1996 oleh KH Ahmad Fahrurrozi Faruq Zubair. Pondok ini terletak di Jalan Merapi Gang II/10 C, Kelurahan Rongtengah, Kecamatan Sampang. Persis sebelah timur Monumen Trunojoyo.

Pesantren ini memiliki misi mencetak kader yang berilmu dan bertakwa, pemimpin umat yang mampu dan berkemampuan melaksanakan amar makruf nahi mungkar. Saat ini santri yang bermukim di pondok sekitar 160 orang, baik putra maupun putri.

Ada pula santri kalong alias yang tidak bermukim di pondok. Tapi santri kalong ini hanya berlaku bagi santri putri. Untuk santri putra wajib menetap di asrama pondok manakala hendak menempuh studi di Darussyahid.

Setiap tahun alumni pesantren ini melanjutkan studi ke berbagai perguruan tinggi di berbagai kota-kota besar. Ada pula yang sudah menjadi kiai, advokat, politisi, pengusaha, dokter, dan profesi lain. Awalnya tidak ada wadah yang menyatukan alumni ini sebelum akhirnya terbentuk Ikatan Alumni Darussyahid (Ikada).

Ikada lahir sekitar 2009. Organisasi ini digagas Syaiful Arif sekaligus ketua Ikada pertama bersama Moh. Rasyad, Fahrurrozi Fahmi, Efendi, Salim, dan Hasyim Alwi. Menurut Rasyad, saat kali pertama dibentuk, organisasi ini hanya beranggotakan sekitar 100 orang. ”Saat ini anggota yang terdata sekitar 350 orang,” kata Rasyad saat ditemui di Pondok Darussyahid pada Rabu malam (29/5).

Struktur Ikada saat ini masih tunggal. Tidak ada pengurus cabang atau pengurus daerah. Semua alumni di tanah air menyatu dalam satu struktur. Jakfar Sodik saat ini dipercaya untuk menakhodai organisasi tersebut. ”Tetapi kami membentuk koordinator per angkatan sekolah formal,” jelas Jakfar.

Para alumni Darussyahid saat ini banyak yang melanjutkan kuliah di Jakarta, Surabaya, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan lainnya. Ada pula yang tinggal di Kalimantan, Lampung, Bali, serta hampir di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur.

Banyak faktor mengapa Ikada dibentuk. Menurut Jakfar, alumni Darussyahid sudah ada dimana-mana. Karena itulah para alumni ingin memiliki wadah yang bisa menyatukan satu sama lain. ”Untuk merangkul teman-teman alumni lintas generasi yang sebelumnya belum pernah komunikasi,” tegasnya.

”Dengan Ikada, antar alumni bisa silaturahmi dan bisa berkontribusi terhadap kemajuan pondok,” tambah Jakfar.

Selain alasan itu, dengan adanya Ikada bisa memperkuat jaringan alumni dengan perguruan tinggi di berbagai daerah. Mereka yang sudah menempuh di pendidikan tinggi bisa menginspirasi santri yang masih bermukim di pondok. Termasuk memfasilitasi santri yang hendak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. ”Ikada ini juga menjadi wadah pengembangan diri alumni,” imbuhnya.

Sebagai organisasi alumni, program yang digelar tidak terlalu muluk-muluk. Yang terpenting Ikada bisa memberikan manfaat, baik bagi anggota, bagi pondok, maupun bagi masyarakat secara luas. Kegiatan kami yang rutin digelar yakni reuni setiap tahun. Pada momen itu kami membicarakan hal-hal apa saja yang harus dilakukan terhadap pondok,” paparnya.

Program lainnya sosialisasi perguruan tinggi kepada siswa akhir yang masih bermukim di pondok. Banyak manfaat yang telah dirasakan dengan adanya Ikada ini. Sebelum ada Ikada, komunikasi antar alumni kurang lancar dan kurang solid. Sejak adanya Ikada, alumni bisa intens komunikasi hingga bisa terus berkontribusi untuk pondok, bahkan untuk bangsa dan negara.

Sebelum ada Ikada, ujar Jakfar, komunikasi dengan pengasuh berlangsung secara individual. Saat ini, setelah organisasi alumni terbentuk, silaturahmi dengan pengasuh dan asatidz semakin baik. Termasuk para alumni juga semakin loyal kepada pondok.

”Kalau kontribusi, para alumni ini membantu menyukseskan dalam proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) serta memberikan sumbangan pemikiran untuk kemajuan pondok,” ucapnya.

”Rencana ke depan, Ikada mau membangun koperasi dengan saham dari alumni dan keuntungannya akan diberikan kepada pondok,” tukasnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia