Senin, 24 Jun 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Kiai ”Mukasyafah”

Oleh: Habibullah*

01 Juni 2019, 11: 46: 00 WIB | editor : Abdul Basri

Kiai ”Mukasyafah”

Share this      

JUDUL di atas hendak menggambarkan tentang kiai yang bisa menebak peristiwa di masa datang dan juga di masa silam. Ilmuwan yang bisa menebak peristiwa masa depan biasa disebut futurolog. Mereka yang bisa menguraikan peristiwa masa silam disebut sejarawan. Nah, kiai yang saya maksudkan di atas bisa dua-duanya. Yang terpenting lagi –ini yang sangat mengherankan– ramalannya tidak berdasarkan pada beragam fenomena, data, dan skema teoritis ilmiah. Kendati pun demikian, ramalannya itu acap kali benar.

Saya tidak menemukan bahasa yang pas untuk melabeli kiai yang demikian. Orang Madura biasanya menyebut kiai saja. Tanpa embel apa-apa. Jelas ini sebutan terlalu umum. Bisa bikin rancu dengan varian kiai lain. Dibilang dukun atau paranormal juga kurang pas. Bisa berkonotasi lain. Sebab, dukun dan kiai beda. Dukun kurang memiliki ilmu agama. Sedangkan kiai adalah alumni pesantren, bahkan pengasuh pesantren yang notabene memiliki dasar syariat yang kuat.

Saya menyebutnya ”mukasyafah” karena ia bisa menyingkap hal yang bakalan terjadi dan telah terjadi sesuai dengan arti harfiah kata mukasyafah itu sendiri. Catatan mukasyafah di sini sama sekali tidak berkaitan dengan maqam kesufian atau kewalian.

Sebab itu, kiai ”mukasyafah” ini tidak otomatis bisa dibilang wali atau sufi, sepanjang dilihat dari kriteria kesufian dan kewalian yang dalam banyak hal tidak memperlihatkan terus-menerus karamah yang diberikan Allah kepada dirinya. Kiai ”mukasyafah” ini justru setiap hari nonstop menampakkan kesaktiannya, bahkan pada beberapa kiai ”mukasyafah”, ada gejala menampakkan aib orang lain di khalayak umum.

Padahal dalam maqam sufi, menampakkan aib orang lain adalah pantang, kendati pun niatnya untuk memperbaiki. Ada seorang sufi yang hendak memperbaiki cara mengajar seorang muridnya, harus mengendap-endap tengah malam ke kamar murid itu, membangunkannya dan berbisik tentang kesalahannya dan cara memperbaikinya. Itu dilakukan agar aib si murid dalam mengajar tidak ketahuan orang lain.

Lumrahnya kiai ”mukasyafah” tidak demikian. Siapa saja bisa dilucuti aibnya di depan puluhan mata di ruang tamu. Akan lebih memalukan jika di samping orang itu adalah tetangga atau saudaranya sendiri. Saya dan tiga teman pernah bertamu ke salah seorang kiai ”mukasyafah”. Sial bagi salah satu teman saya ketika si kiai bilang, ”Sampean ini doyan memendam hati ketika melihat wanita cantik.”

Kepada teman saya yang lain, kiai itu berkata, ”Istri Sampean lebih rajin bekerja ketimbang Sampean. Sampean ini agak malas. Kapan rezekinya bisa lancar?” Saya tahu keduanya sangat malu saat itu. Apa mau dikata.

Terkadang, tebakan yang bikin malu ini menjadi daya kejut yang bisa membuat orang tambah yakin akan kesaktian si kiai. Misalnya, seorang tamu bertanya apa sebab tembakaunya tidak laku mahal. Lalu, si kiai menjawab, ”Itu bukan tembakau Sampean. Sampean tidak ikut menyiram. Yang menyiram itu istri Sampean. Sampean cuma mau untungnya saja.” Jelas si tamu terkejut karena tidak ada yang tahu tentang hal tersebut kecuali dia dan istrinya. Di satu sisi dia merasa malu. Di sisi lain hatinya makin meyakini akan kesaktian kiai tersebut.

Jika kiai ”mukasyafah” bisa meramal dengan jitu tanpa berdasarkan data dan riset, lalu dari mana dasar ramalan tersebut?

Salah satu murid kiai ”mukasyafah” berkata kepada saya bahwa kemampuan untuk meramal seperti itu bisa diperoleh dengan amalan atau laku tirakat tertentu. Geneologi kiai ”mukasyafah” ini berkaitan dengan kiai ”mukasyafah” yang lebih senior. Dia bisa mewariskan ilmu itu kepada anak keturunannya dan bisa diberikan kepada muridnya asal siap melakukan laku tirakat yang dianjurkan. Ujung dari tirakat ini –biasanya di asta atau makam-makam keramat– adalah untuk mendapatkan kekuatan untuk mengendalikan jin.

Informasi ini saya peroleh dari salah seorang murid kiai ”mukasyafah” yang awalnya sering sowan ke berbagai kiai ”mukasyafah” dan sekarang krisis kepercayaan karena faktor jin tersebut.

Dia punya tiga alasan untuk menguatkan asumsinya bahwa kiai ”mukasyafah” bisa meramal karena berkolaborasi dengan jin: Pertama, perilaku kiai sendiri tidak menunjukkan perilaku orang sufi yang sangat menjaga diri dari ria dan bicara jorok, kadang kasar, serta melukai perasaan orang lain. Kedua, kiai ”mukasyafah” punya pohon, hewan, atau benda yang itu menjadi tempat berdiamnya jin peliharaannya.

Ketiga, tidak ada orang yang tahu tentang masa depan dan hal yang gaib kecuali Allah dan orang suci. Namun, orang suci yang diberi karamah oleh Allah akan menyembunyikan karamah tersebut. Baru akan ditampilkan dalam keadaan terpaksa. Maka, orang yang serbatahu tentang hal gaib jelas karena ia punya bisikan jin. Dalam Alquran dijelaskan bahwa jin biasa menguping bisikan langit dan dalam sejarah orang Arab ia senantisa berkolaborasi dengan para kahin atau peramal. 

*)Guru di Pondok Pesantren Annuqayah

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia