Senin, 16 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Pesantren Periodik Kaum Beriman

Oleh Ashimuddin Musa*

30 Mei 2019, 09: 56: 39 WIB | editor : Abdul Basri

Pesantren Periodik Kaum Beriman

Share this      

RAMADAN bulan yang penuh berkah, ia terjadi satu kali dalam setahun. Setiap kaum muslimin menyambut bulan suci ini dengan berpuasa sebagai perwujudan penyempurnaan salah satu ibadah dari rukun Islam yang lima: syahadat, salat, puasa, zakat, dan haji. Ramadan memiliki keunggulan yang lebih dibandingkan dengan bulan-bulan lain. Setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas dan sabar akan mendapatkan ganjaran berlipat-lipat. Sebab itu, jadikanlah bulan ini sebagai momentum untuk menyempurnakan hubungan vertikal dengan Allah SWT (hablun minallah) dan hubungan horizontal antara manusia dengan manusia (hablun minannas), untuk menabung bekal nanti di akhirat.

Ada sebuah penemuan menarik tentang hikmah berpuasa. Di antaranya dituturkan oleh kedokteran yang mengungkapkan bahwa puasa tidak saja secara mental bisa menajamkan fungsi indrawi dan mengendurkan tekanan jiwa serta melatih orang menahan hawa nafsu dari segala angkara murka. Tetapi juga, puasa secara fisik dapat menurunkan tekanan darah dan kadar lemak. Demikian juga Allan Cott dalam Why Fast mengakui manfaat puasa bagi seseorang. Bahkan, rekannya dari Moskow, Yuri Nikolayev menulis bahwa puasa membuat seseorang tetap awet muda secara fisik dan mental.

Penelitian seorang dokter di Mesir yang dikutip jurnal dokter bulanan Tabibuka al-Khas (Edisi Kairo), dalam temuannya ia berkesimpulan bahwa puasa menjadikan usia orang yang berpuasa tambah panjang ketimbang orang yang tidak berpuasa. Karena itulah, Allah mengingatkan melalui firman-Nya, ”.....Dan melakukan puasa lebih baik bagimu, jika kamu tahu” (QS. Al-Baqarah (02): 184). Mahabenar Allah SWT yang telah mewajibkan kita berpuasa. Sesungguhnya, dengan datangnya perintah puasa merupakan bentuk pendidikan dan melatih hamba-Nya agar menjadi insan yang sehat jasmani dan rohani secara paripurna.

Pada hakikatnya, berpuasa bukan hanya sekadar menahan rasa lapar dan haus, menghiasi bulan Ramadan dengan pembacaan ayat-ayat Alquran hanya untuk adu keramaian antara masjid satu dengan yang lainnya, tetapi puasa adalah pendidikan pesantren periodik di mana kita selaku umat Islam dituntut untuk belajar dan melatih diri menuju manusia yang sehat jasmaniah dan batiniah secara sempurna. Tentu, ini tidaklah mudah. Sebagai hamba Allah, ada beberapa tanggung jawab yang besar untuk diwujudkan sebagai pemenuhan pengabdian kita kepada Allah. Kalau di dalam Islam, umat Islam ada amanah yang harus ditegakkan dengan cara yang sebaik-baiknya dan dengan penuh tanggung jawab, yaitu hubungan hamba dengan Allah (hablun minallah) serta hubungan hamba dengan sesamanya (hablun minannas).

Hubungan hamba dengan Tuhannya yaitu dengan meningkatkan ibadah lebih sempurna. Terkadang, kaum muslimin tidak seimbang dalam menjalankan ibadah puasa. Mereka terkadang sudah merasa aman dan terbebas dari beban moral hanya dengan tidak makan sepanjang hari, sementara hal-hal yang berkaitan dengan hubungan horizontal belum diberikan tempat secara proporsional. Kenyataan ini masih marak terjadi antara manusia yang satu dengan yang lainnya, yang tidak mencerminkan kepribadian seseorang yang baik. Perselisihan, pertikaian, penyebaran hoaks, propaganda, provokasi, dan banyak lagi kejelekan-kejelekan seakan-akan sudah menjadi kebiasaan ringan di antara mereka. Atas kenyataan ini, perlu adanya penyadaran terhadap masyarakat tentang hakikat makna puasa dan substansinya.

Islam mengajarkan umatnya berpuasa agar setiap umat memiliki rasa kepedulian dan solidaritas sosial yang tinggi. Melalui berpuasa, yaitu dengan menahan rasa lapar dan haus, orang-orang yang berpuasa juga dapat merasakan kelaparan dan kehausan yang diderita orang lain (kaum duafa) hingga mendorongnya meringankan beban orang lain. Solidaritas kemasyarakatan tinggi misalnya dengan membantu sesamanya, baik bantuan berupa verbal (nasihat) maupun finansial (bantualn materi) untuk meringankan beban duafa tersebut. Sampai di sini menjadi jelas bahwa orang puasa tidak hanya melatih diri berdisiplin jasmaniah, tetapi juga sekaligus disiplin rohaniah.

Oleh karena itu, persaudaraan sangatlah penting. Sebab melalui persaudaraan sebagaimana terkandung dalam pendidikan Allah melalui perintah puasa ini, tentu saja akan menjadikannya kehidupan ini harmonis, jauh dari tindakan-tindakan kekejian, angkara murka dan hal-hal lain yang dapat mencerai-beraikan hubungan antara manusia. Etos itu tentu saja diinspirasi oleh (QS. Ali Imran (3): 133-134) yang mendorong agar sebagian manusia mendermakan sebagian harta, menahan marah, suka memberikan maaf, dan segera bertobat bila terdapat dosa.

Bagaimana dengan kondisi bulan Ramadan saat ini? Saudara seagama terkadang tidak bisa dipungkiri terjadi cekcok, baik secara langsung ataupun tidak yang disebabkan pengaruh informasi bohong (hoaks), menjadikan momentum kesucian bulan ini tidak begitu dimanfaatkan untuk menyemai kebaikan. Paling parah lagi, bagaimana seandainya para tokoh agama juga ikut-ikutan tersulut propaganda kelicikan para pelaku hoaks.

Hemat kami, untuk soal ini kita hadapi dengan lebih dewasa dalam menghadapi persoalan tanpa harus adanya intimidasi dan tindakan amoral. Umat Islam harus tetap bersatu membentuk komunitas muslim yang kuat demi terwujudnya kesejahteraan, keamanan, dan solidaritas sosial. Tokoh masyarakat seharusnya mampu mengendalikan pengikut atau jamaah kelompoknya agar tidak sampai terprovokasi oleh kabar-kabar yang belum jelas kebenarannya. Meskipun kabar yang beredar tersebut diketahui benar adanya, bukan berarti dibolehkan melakukan berbagai macam cara, melainkan harus dengan cara yang sebaik-baiknya (QS. An-Nahl (16): 125). 

*)Santri PP Annuqayah daerah Latee Guluk-Guluk, Sumenep.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia