Jumat, 15 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Perang Terbesar di Bulan Ramadan

Oleh: Suaidi*

29 Mei 2019, 13: 42: 22 WIB | editor : Abdul Basri

Perang Terbesar di Bulan Ramadan

Share this      

ISLAM dikenal secara luas di dunia pasca melewati banyak perang. Peperangan yang dilakukan Rasulullah saja mencapai dua puluh tujuh kali. Perang yang termasuk cukup ganas sembilan kali. Yaitu, Badar, Uhud, al-Muraisi’, Khandaq, Quraizhah, Khaibar, Penaklukan Makkah, Hunain, dan Tha’if.

Adapun jumlah pertempuran saat Rasul tidak terjun secara langsung mencapai empat puluh tujuh kali. Secara keseluruhan, baik yang diikuti langsung dan tidak langsung oleh beliau, berjumlah tujuh puluh empat kali.

Sejumlah perang yang dijalani Rasulullah sehingga berakhir dengan kemenangan tersebut mampu mengalihkan kepercayaan tokoh atau pemuka agama. Awalnya pihak oposisi akhirnya berkoalisi. Salah satunya, Sayyidina Umar bin al-Khattab RA, tokoh yang disegani dan ditakuti kaum kafir Quraisy bahkan oleh Rasulullah itu menjadi pengikut setia beliau. Selain Sayyidina Umar RA., yang masuk Islam pasca penaklukan Makkah (Fathu Makkah) adalah Islamnya Abu Sufyan bin Al-Harits (yang cukup ganas memerangi rasul di Makkah), Islamnya Suhail bin ’Amr (orator profesional kafir Qurays). Kemudian, Al-Harits bin Hisyam (pra-Islam, ia kaum kafir Qurays yang akhirnya rela mati syahid di Perang Yarmuk) dan masih banyak lainnya yang masuk Islam pascaperang di era Rasul.

Ramadan: 20 Kemenangan

Ramadan disebut dengan syahrul jihad wal intisharat (bulan jihad dan kemenangan). Sebab, di bulan suci ini ada sekitar 20 perang yang dimenangkan kaum muslim masa lalu. Di antaranya; Perang Badar (17 Ramadan tahun kedua H), Fathu Makkah (10 Ramadan 8 H), Ma’rakah Buwaib (Ramadan, 13 H), Ma’rakah Qodisiah (Ramadan, 15 H), Ma’rakah Nuba (Ramadan, 31 H), penaklukan Pulau Rhodes (Ramadan, 53 H), Penaklukan Kota Andalus (28 Ramadan, 13 H), penaklukan India dan Pakistan (Ramadan, 94 H), Fathu Umuriyah (Ramadan, 223 H), penaklukan Kota Sirakusa (Ramadan, 264 H), pertempuran Manzikert (Ramadan, 463 H), Perang Zallaqah (Ramadan, 479 H), Perang Harim (Ramadan, 559 H), Perang Hittin (Ramadan, 584 H), penaklukan Armenia (Ramadan, 673 H), Perang Ain Jalut (Ramadan, 685 H), Perang Syaqhab (Ramadan, 702 H), penaklukan Bosnia dan Herzegovina (Ramadan, 791 H), penaklukan Pulau Siprus (Ramadan, 829 H), dan disebut perang Ramadan yang disebut Perang Arab-Israel. Perang ini terjadi ketika tentara Mesir dan Suriah mengawali peperangan melawan Israel. Pertempuran ini terjadi 10 Ramadan 1390 H (6 Oktober 1973 M).

Historisitas 20 tragedi perang di bulan Ramadan tersebut merupakan salah satu tamsil bahwa banyak perang saat kaum muslimin sedang menjalani puasa dan diambil kesempatan oleh orang-orang kafir untuk memenangkan peperangannya. Namun, yang terjadi adalah kekalahan demi kekalahan. Kalahnya orang kafir dalam perang-perang tersebut terjadi karena kepribadian orang muslim telah tertanam prinsip; kalah dalam perang mati syahid, sedangkan menang di medan pertempuran adalah pahala besar karena telah mampu membuat Islam menjadi lebih jaya dan semakin ditakuti.

Ramadan: The Riil of Battle

Banyak perang kaum muslimin masa lalu baik di masa Rasulullah (74 peperangan baik diikuti dan tidak didampingi beliau) maupun pasca beliau wafat. Banyak kemenangan yang diraih kaum muslimin. Namun, perang sesungguhnya masih ada yang jauh lebih sulit ditaklukkan. Sebagaimana pesan rasul pasca menang di Badar: Kalian telah pulang dari pertempuran kecil menuju pertempuran akbar. Lalu, sahabat bertanya, ”Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah? Rasul menjawab, ”jihad (memerangi) hawa nafsu.”

Mengapa demikian? Karena nafsu tidak ada tali yang mengikat. Bukan uang yang menjadi penguat, tapi iman yang melekat di dada setiap diri manusia. Iman merupakan bentuk penguat sesungguhnya. Maka, dialog beliau mulai terbukti akhir-akhir ini. Eksistensi persaudaraan mereka penuh pertanyaan, terutama pra-pasca pilkada (17 April 2019) tidak sedikit kaum muslim saling serang antarsatu individu dengan individu yang lain baik secara dahir maupun batin. Hanya karena beda pilihan tidak sedikit yang menyerang secara fisik.

Rasulullah memosisikan jihad dalam pengertian fisik sebagai jihad yang derajatnya kalah dari jihad mengendalikan hawa nafsu. Perang melawan hawa nafsu adalah perang terbesar di bulan mubarokah ini. Tidak sedikit jumlahnya yang berujar kebencian di media demi memuaskan nafsu politiknya. Tidak terhitung jumlah kaum muslim yang saling mencari kesalahan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Sengguh ironis kenyataan yang demikian. Bulan yang seharusnya menambah pahala disebabkan tidak mampu mengendalikan hawa nafsu dalam diri mereka malah berubah menjadi bulan penuh dosa. 

*)Alumnus PP Salafiah al-Is’af Kalabaan, Guluk-Guluk, Sumenep

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia