Sabtu, 07 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Jihad Melawan Hawa Nafsu

Oleh Rahmat Hidayat*

26 Mei 2019, 15: 32: 37 WIB | editor : Abdul Basri

Jihad Melawan Hawa Nafsu

Share this      

BULAN Ramadan selalu dimaknai dengan bulan jihad. Dua tragedi besar terjadi pada bulan ini, Perang Badar Al-Kubra dan Fathu Makkah. Sejarah Islam mencatat Perang Badar merupakan perang pertama terbesar melawan kaum musyrikin Quraisy. Pada 8 H di bulan yang sama, umat Islam berhasil merebut Makkah dari tangan Quraisy secara damai, tanpa ada pertumpahan darah. Peristiwa ini dikenal dengan Fathu Makkah dan disebut sebagai yaumul marhamah (Syalabi, 2003: 169).

Jihad dalam Islam selalu mengedepankan kemaslahatan dan kepentingan umat banyak. Namun pada perkembangannya, jihad sering mengalami reduksi makna. Ada beberapa kelompok sempalan yang mengusung misi politis berupaya keras membajak makna jihad. Bahkan dalam konteks perpolitikan Indonesia, jihad sering kali dimanipulasi sebagai alat politik dan dibenturkan dengan Pancasila dan demokrasi yang dianggap tidak islami.

Dalam realitas sosial keagamaan, tidak sedikit kalangan internal dan eksternal muslim kurang tepat dan bahkan salah dalam memahami makna jihad. Secara internal, umat Islam sering kali menganggap jihad sebagai peperangan semata. Di sisi lain, eksternal Islam (non-Islam) selalu menyamakan jihad dengan terorisme. Pemaknaan perang semata-mata pada jihad merupakan pemaknaan yang reduktif dan jihad sangat menolak tindakan terorisme.

Jihad tidak melegitimasi cara-cara kekerasan dan tindakan terorisme. Bom bunuh diri bukanlah jihad yang pantas diapresiasi. Terorisme telah menumbalkan banyak nyawa yang tidak berdosa dan Islam menilainya sebagai tindakan yang kontra kemanusiaan. Tindakan tersebut benar-benar menyalahi aturan agama Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian.

Berjihad merupakan perjuangan membela kemanusiaan dan mewujudkan keadilan serta menolak kezaliman dengan menegakkan kebenaran. Jihad adalah strategi umat Islam untuk membumikan misi kekhalifahan di muka bumi. Aksi teror yang membuat kerusakan di muka bumi ini (QS. Al-Baqarah: 11-12) justru sangat bertentangan dengan misi kekhalifahan dan ajaran Islam.

Para sufi menafsirkan (tafsir al-isyari) jihad paling besar adalah perjuangan seseorang menyucikan hati dari sifat-sifat tercela dan menghiasi hati dengan sifat-sifat terpuji (Masduqi, 2013: 51). Menurut sabda Nabi, jihad yang paling besar adalah jihad melawan hawa nafsu dalam diri. Namun, betapa banyak umat Islam hari ini menjadi budak hawa nafsunya sendiri yang kemudian menjerumuskannya ke dalam kebencian dan kenistaan.

Pasca Pemilu 2019, fenomena ujaran kebencian dan caci maki masih bertebaran di jagat maya. Hawa nafsu politik yang berlebihan telah menyulut api kebencian dalam masyarakat kita serta menghalau laju demokrasi yang sehat. Hate speech yang dibungkus dengan politik ataupun agama kelak menjadi bom waktu yang siap memorak-porandakan perdamaian dan persatuan bangsa.

Menyitir pernyataan Rumi bahwa mata cinta tidak akan melihat keburukan dan mencari kesalahan orang lain, akan tetapi mata benci akan mengumbar dan membesar-besarkan kesalahan orang lain. Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. Adagium ini menegaskan bahwa kebencian akan memalingkan mata hati ini untuk melihat kebaikan yang ada pada orang lain.

Dewasa ini, tidak sedikit dari kita gemar mengonsumsi bangkai saudara sendiri akibat termakan hawa nafsu (QS. Al-Hujurat: 13). Kita menolak lupa kasus almarhum nenek Hindu yang jenazahnya ditelantarkan lantaran perbedaan pilihan politik. Hawa nafsu politik yang membabi buta ini menjadi suatu ancaman yang serius bagi stabilitas sosial masyarakat Indonesia.

Di bulan suci Ramadan ini, Allah SWT. memerintahkan kepada umat Islam untuk berpuasa. Ibadah ini tidak sekadar menahan makan, minum, dan nafsu biologis, melainkan berpuasa adalah jihad melawan hawa nafsu. Ibadah puasa merupakan perjuangan umat Islam untuk menjaga kejernihan hati, pikiran, semua pancaindra, tangan, lisan, dan kaki dari sifat-sifat tercela.

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin membagi puasa ke dalam tiga tingkatan. Pertama, puasa orang awam yang berorientasi menahan makan, minum, dan menjaga kemaluan dari syahwat biologis semata. Kedua, puasa khusus yaitu puasa yang tidak sekadar menahan lapar dan haus, melainkan juga menjaga seluruh pancaindra, tangan, kaki, dan lisan dari perbuatan maksiat dan hal-hal yang syubhat. Ketiga, puasa khusus yang khusus merupakan puasa hati dari kepentingan (hawa nafsu kekuasaan) jangka pendek, perasaan benci, dengki, dan penyakit hati lainnya.

Puasa tahun ini harus dimaknai sebagai jihad melawan hawa nafsu kebencian. Puasa ibarat air sejuk yang memadamkan api kebencian yang membara akibat konfrontasi kepentingan politik pasca pemilu. Dalam konteks kebangsaan, berpuasa harus dimaknai sebagai upaya mencapai rekonsiliasi damai pasca pemilu. Ramadan kali ini adalah momen kita bersama untuk saling memaafkan, menjalin silaturahmi, dan merajut ukhuwah wathaniah yang telah lama kusut. 

*)Alumnus PP Al-Amien Prenduan

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia