Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Features

Kiprah Ikatan Alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar

Akan Dirikan Baitul Maal dan Perguruan Tinggi

25 Mei 2019, 06: 21: 47 WIB | editor : Abdul Basri

BERSAHAJA: Ketua Harian IKAMA Badri Amin saat ditemui di kediamannya di Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, Sumenep, Sabtu (18/5).

BERSAHAJA: Ketua Harian IKAMA Badri Amin saat ditemui di kediamannya di Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, Sumenep, Sabtu (18/5). (ZAINAL ABIDIN/RadarMadura.id)

Share this      

Alumni adalah bagian tak terpisahkan dari pondok pesantren. Mereka berperan penting dalam melestarikan ajaran agama dan budaya pesantren di tengah masyarakat.

ZAINAL ABIDIN, Sumenep

PENELUSURAN Jawa Pos Radar Madura (JPRM) terhadap keberadaan dan kiprah alumni pondok pesantren (ponpes) di Sumunep berlanjut. Sabtu (18/5) koran ini bersilaturahmi ke Pondok Mathali’ul Anwar di Desa Pangarangan, Kecamatan Sumenep.

Pondok ini didirikan oleh almarhum KH. Abdullah bin Husein pada 1930. Almarhum merupakan salah seorang kiai karismatik di Kota Keris. Pondok ini banyak mencetak alumni yang sukses dan menduduki jabatan penting di pemerintahan. Seperti Bupati Sumenep A. Busyro Karim. Juga banyak alumni jadi penulis atau seniman terkenal. Misalnya, Mahwi Air Tawar, Mahendra, dan penyair Ibnu Hajar, serta nama-nama lain. Selain itu, banyak yang duduk di kursi DPRD.

Alumni di pondok ini membentuk organisasi Ikatan Alumni Pondok Mathali’ul Anwar (IKAMA). Siang itu, koran ini ditemui salah seorang ustad atau pengurus biro kepondokan. Setelah menyampaikan maksud dan tujuan peliputan, koran ini diarahkan menemui Ketua Harian IKAMA Badri Amin di Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng.

Sekitar 25 menit perjalanan dari arah Kota koran ini sampai di kediaman Badri Amin. Pembicaraan diawali dengan penjelasan terkait terbit khusus rubrik khusus yang mengulas kiprah alumni ponpes di Madura.

IKAMA dibentuk dan dikukuhkan pada 1988. Pembentukan IKAMA dalam rangka mempererat tali silaturahmi dan ukhuwah antara alumni dengan pesantren. Juga mengembangkan peran alumni dan wali santri untuk kemajuan pesantren. Apalagi, mayoritas alumni merupakan wali santri.

”Hampir lebih dari 50 persen anggota IKAMA merupakan wali santri. Atas dasar itulah alumni membentuk wadah yang diberi nama IKAMA,” tuturnya.

Alumni Mathali’ul Anwar menyebar di seluruh kecamatan di Kota Keris. Namun, basis alumni yaitu di Kecamatan Talango, Saronggi, Batuputih, dan Ganding. Anggota IKAMA yang terdata 2.500 orang. Namun jika didata secara keseluruhan, bisa lebih dari tiga ribu.

Anggota IKAMA merupakan santri alumni semua angkatan. Struktur kepengurusan terdiri atas pelindung yaitu pengasuh. Kemudian dewan penasihat, ketua harian, koordinator kecamatan (korcam), dan koodinator desa (kordes).

Organisasi ini berpusat dan berkedudukan di lingkungan pesantren. Semua kebijakan dan program tetap bernaung kepada pengasuh. ”Selama tidak direstui kiai, rencana itu tidak akan dijalankan atau direalisasikan. Kami mempunyai AD/ART yang harus dipatuhi dan dijalankan semua anggota,” ucapnya.

Visi misi IKAMA ialah mewujudkan cita-cita perjuangan para muassis dengan semangat kebersamaan para alumni dalam berkhidmat, meningkatkan implementasi ajaran agama Islam secara kafah, dan menjawab persoalan keagamaan seiring dengan dinamika kehidupan.

Lalu, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) kreatif, profesional, dan berakhlakul karimah, dan yang terakhir ialah meningkatkan kehidupan sosial ekonomi secara merata bagi santri dan alumni.

”Secara garis besar, tugas dan tanggung jawab alumni ialah memajukan pondok, baik dari sisi pembangunan, program pendidikan, jumlah santri, maupun keberlangsungan kehidupan pesantren,” katanya.

Program pendidikan dipasrahkan kepada biro pendidikan di pesantren. Sementara kegiatan alumni mengadakan pertemuan rutin setiap empat bulan sekali. Lokasi kegiatan sudah dijadwal di tiap kecamatan yang dikoordinasi oleh korcam.

Sejumlah kegiatan yang dilaksanakan dalam pertemuan tersebut ialah Khotmil Quran, tahlil, dan pembacaan salawat barzanji, dan dilanjutkan dengan pengajian kitab Musnad Imam Syafii yang diampu KH Abu Suyuf Ibnu Abdillah selaku pengasuh pondok.

Kemudian, dilanjutkan dengan rapat koordinasi (rakor) bersama anggota yang membahas program pembangunan sarana-prasarana (sarpras) pondok. Menurut dia, alumni mempunyai peran penting bagi pesantren. Alumni bertanggung jawab dalam berbagai hal yang berkaitan dengan pesantren.

 Mulai dari segi keamanan, pembangunan, program pendidikan, hingga kehumasan pesantren. Untuk keamanan, alumni bertanggung jawab menyelesaikan semua persoalan yang terjadi di pesantren.

Lalu di bidang pembelajaran, alumni ikut membantu pengasuh dan asatid dalam menyusun jadwal kegiatan pembelajaran. Sampai sekarang, banyak alumni yang masih aktif mengajar di pondok.

Setiap masa penerimaan santri baru, alumni di tiap kecamatan menyosialisasikan dan mengajak masyarakat untuk memasukkan putra dan putrinya ke Pondok Mathali’ul Anwar. Lembaga pendidikan di Mathali’ul Anwar lengkap. Mulai pendidikan anak usia dini (PAUD), TK, MI, MTs, SMA, dan MA.

”Pondok Mathali’ul Anwar merupakan pondok salaf, namun tidak mengesampingkan pendidikan formal. Peraturan yang diterapkan juga ketat dan mendidik,” papar pria kelahiran 7 Juni 1969 itu.

Selama ini, alumni berupaya meningkatkan pembangunan sarpras pondok. Tahun ini membangun ruang tamu, ruang pengurus, koperasi, dan aula pesantren. Semua kebutuhan ditanggung alumni, mulai perencanaan, pendanaan, hingga pencarian tukang. Bangunannya terdiri atas dua lantai dan diperkirakan membutuhkan dana Rp 2,5 miliar. ”Alhamdulillah saat ini progres pembangunan sudah mencapai sekitar 50 persen,” harap alumnus Mathali’ul Anwar tahun 1989 itu.

Kiai tidak mengizinkan ada dana bantuan dari pemerintah untuk pembangunan pesantren. Semua harus murni sumbangan alumni. Karena itu, IKAMA berupaya mengumpulkan dana pembangunan dari para alumni, wali santri, dan simpatisan.

”Kalau setiap alumni bisa menyumbang Rp 200 ribu. Maka, dana yang terkumpul bisa mencapai Rp 600 juta. Sementara total dana yang dibutuhkan sekitar Rp 2,5 miliar,” paparnya.

Lebih dari 200 alumni Mathali’ul Anwar berada di luar kota. Rata-rata mereka menjadi pengusaha sukses. Ada juga yang berprofesi sebagai dosen. ”Keperdulian mereka terhadap pondok sangat besar. Mereka ingin Mathali’ul Anwar maju dan berkembang dari semua aspek,” ucapnya penuh bangga.

Dalam rangka menjaga dan memperkuat keuangan pesantren, pihaknya berencana mendirikan lembaga keuangan Baitul Maal Wat Tamwil (BMT). Setiap bulan ada uang iuran dan tabungan santri yang dititipkan kepada ustad. Rencana tersebut akan diajukan kepada kiai. Terutama mengenai dana atau saham yang masuk dari para alumni.

Selain itu, berencana mendirikan perguruan tinggi. Pembangunan gedung dan sarana-prasarana yang dibutuhkan tetap ditanggung IKAMA. ”Mohon doa dan dukungan. Semoga ini bisa terwujud demi kemajuan Pondok Mathali’ul Anwar,” pungkasnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia