Rabu, 13 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Features

Kiprah Ikatan Alumni Pondok Pesantren Assirojiyyah Sampang

Menebar Manfaat bagi Pesantren dan Umat

23 Mei 2019, 12: 30: 59 WIB | editor : Abdul Basri

SANTAI: Sekretaris Koordinator Kecamatan Sampang 1 IKAPPAS Agus Wedi membaca koran Jawa Pos Radar Madura, Kamis (16/5).

SANTAI: Sekretaris Koordinator Kecamatan Sampang 1 IKAPPAS Agus Wedi membaca koran Jawa Pos Radar Madura, Kamis (16/5). (IMAM S. ARIZAL/RadarMadura.id)

Share this      

Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di negeri ini. Dari pesantren, lahir generasi-generasi muslim multitalenta. Tidak hanya paham ilmu agama, tetapi juga menguasai ilmu sosial. Hingga lahirlah generasi yang menebarkan manfaat.

IMAM S. ARIZAL, Sampang

SEBAIK-baik manusia adalah yang bisa memberi manfaat bagi manusia lainnya. Itulah prinsip yang dipegang Ikatan Alumni Pondok Pesantren Assirojiyyah (IKAPPAS) Sampang. Dengan prinsip ini, para alumni selalu berupaya memberikan nilai positif bagi lingkungan sekitar. Mereka melebur dengan masyarakat demi memberikan kontribusi di berbagai lini kehidupan.

IKAPPAS berdiri sekitar 1987. Awalnya organisasi ini hanya terbentuk di Surabaya. Organisasi ini menjadi wadah para alumni Assirojiyyah untuk bersilaturahmi, melepas kangen, dan menguatkan solidaritas.

Setelah terbentuk di Surabaya, daerah-daerah lain ikut menyusul. Seperti di Pontianak, Jakarta, Madura, dan daerah-daerah lain. Tiap daerah menggunakan nama IKAPPAS dan ditambahi dengan asal daerah. Misalnya, IKAPPAS Surabaya yang kemudian disingkat menjadi IKAPPASS. IKAPPAS Pontianak menjadi IKAPPASPON. Begitu pun dengan daerah-daerah lainnya di penjuru tanah air.

”IKAPPAS ini menyebar hampir di 80 persen provinsi di Indonesia,” kata Sekretaris Koordinator Kecamatan Sampang I IKAPPAS Agus Wedi kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Kamis (16/5).

Meski sudah terbentuk di berbagai provinsi, tetapi organisasi ini tidak terbentuk secara hierarki. Struktur IKAPPAS hanya terbentuk di daerah. Tidak ada pengurus pusat atau pengurus tingkat nasional. Karena itulah, antara satu daerah dengan daerah lainnya memiliki posisi yang sama.

”Hierarki organisasi langsung ke Pengasuh Pondok Pesantren Assirojiyyah KH Athoullah,” tegas Agus.

Fokus utama pesantren ini yakni pada penguatan akidah, moral, dan akhlak masyarakat serta alumni. Karena itulah, program kerja yang digelar banyak yang bermuatan keagamaan. Di samping tentu saja kegiatan reuni menjadi salah satu agenda pokok yang tidak bisa ditinggalkan.

”Kami menggelar bahtsul masail mingguan, bulanan, dan empat bulanan,” jelasnya. ”Melalui bahtsul masail ini para alumni dan masyarakat bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar keagamaan,” tambahnya.

Sebagai organisasi alumni, IKAPPAS juga terus berupaya berkontribusi kepada almamater. Ketika pesantren membutuhkan biaya untuk pembangunan, alumni kompak memberikan bantuan. Para alumni merasa memiliki antar alumni terhadap Pondok Pesantren Assirojiyyah.

”Contohnya, saat pesantren membangun gedung lantai empat, para alumni langsung sumbangan. Alhasil, gedung tersebut dibangun 100 persen melalui swadaya alumni dan simpatisan,” paparnya.

Selain ke pesantren, IKAPPAS juga berkontribusi kepada masyarakat dan umat. Banyak anggota IKAPPAS yang menjadi tokoh masyarakat. Mereka mendirikan lembaga pendidikan, pondok pesantren, madrasah, taman pendidikan Alquran, dan lainnya. Yang terpenting bagi mereka, di mana pun berada harus bermanfaat.

Saat ini ada ratusan ribu anggota IKAPPAS di berbagai daerah. Mereka menggeluti profesi berbeda-beda. Ada yang menjadi pengusaha, politisi, nelayan, petani, aparatur sipil negara (ASN), birokrat, dan semacamnya. Ada pula yang tengah menjadi penyelenggara pemilu.

”Sesuai kaidah khairunnas anfa’uhum linnas. Jadi, sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat bagi manusia yang lainnya,” tukasnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia