Rabu, 13 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Berpuasa Media Sosial

Oleh Fahrur Rozi*

23 Mei 2019, 12: 24: 33 WIB | editor : Abdul Basri

Berpuasa Media Sosial

Share this      

BERAPAKAH jumlah pengguna media sosial di Indonesia saat ini? We Are Social Hootsuite menyebut angka 150 juta jiwa atau sebesar 56% dari populasi penduduk Indonesia. Lewat riset yang dirilis pada Januari 2019 tersebut, ditemukan juga angka bahwa pengakses media sosial lewat ponsel 130 juta jiwa. Ini menandakan pengakses melalui ponsel jauh lebih banyak ketimbang lewat laptop ataupun komputer.

Di tingkat dunia, jumlah pengguna Facebook di Indonesia menempati urutan ketiga dan keempat untuk Instagram. Masing-masing pengguna aktif 140 juta dan 56 juta. Sementara untuk Twitter, Indonesia berada di urutan ke-12 dengan jumlah pengguna 6,6 juta.

Besarnya data ini menunjukkan bahwa media sosial kita memiliki banyak sekali penghuni. Sebagaimana lazimnya sebuah kerumunan massa, maka di situ akan muncul kegaduhan-kegaduhan. Dan benar adanya, kita bisa menyaksikan kegaduhan-kegaduhan itu diproduksi setiap hari. Kalau kita membuka Twitter, selalu muncul trending topic baru tiap hari dengan tagar yang beragam, dari tema politik sampai hal-hal receh urusan asmara.

Bulan Ramadan kali ini pun keriuhan itu tak pernah padam. Penyebabnya, apa lagi kalau bukan pilpres. Ini tampak berbeda dengan Ramadan-Ramadan sebelumnya. Keriuhan pada Ramadan sebelumnya mungkin hanya soal razia-razia warung dan semacamnya. Tapi kali ini topiknya fokus pada soal pilpres. Tema-tema lain hanya sebagai selingan.

Bagi orang yang apolitis atau bosan dengan dunia politik yang gaduh, mungkin mereka muak dengan pertengkaran-pertengkaran yang tak usai-usai di media sosial. Tapi, mereka tidak punya cara untuk mencegahnya. Pilihan mereka, ya, bertahan atau menutup akun media sosialnya.

Tapi, bagaimana jika seandainya ada gerakan masal puasa media sosial pada bulan Ramadan kali ini? Bisakah gerakan ini menyaingi gerakan koin-koinan yang sudah banyak berhasil beberapa waktu silam? Andaikan berhasil, ini akan menjadi gerakan yang cukup penting, terutama dalam lanskap politik negeri ini.

Kita bayangkan separo (75 juta) dari pengguna media sosial di Indonesia tidak membuka akunnya selama satu bulan. Jika masing-masing akun diasumsikan menghasilkan satu status atau cuitan politik tiap harinya, maka kita bisa mengurangi kosa kata politik di media sosial 2 miliar selama sebulan. Itu angka yang besar sekali.

Tapi, tantangannya akan sangat berat. Media sosial sudah menjadi rumah kedua bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Bahkan, skandal kebocoran data Facebook beberapa waktu lalu yang membuat sebagian pengguna di Amerika memilih menghapus akun Facebook-nya, tidak banyak berdampak bagi pengguna di Indonesia. Soal privasi tampaknya bukan hal penting bagi masyarakat kita.

Media sosial menurut sejumlah penelitian bisa menjadi candu. Sebagai sebuah candu, maka orang merasa sulit untuk menghindarinya. Akan terasa ada yang kurang jika dalam beberapa jam saja mereka tidak membuka media sosial. Ketika mereka membukanya, jam-jam berputar terasa amat cepat. Tanpa terasa tiba-tiba sudah satu jam, dua jam, tiga jam, di hadapan ponsel.

Aktivitas seperti ini akan kian sulit dihindari saat bulan Ramadan. Ketika badan dalam keadaan lemas dan malas untuk beraktivitas, media sosial akan menjadi mainan empuk untuk membunuh waktu. Dengan menekuri ponsel, tiba-tiba kita sudah mendengar lantunan azan Magrib tanda waktu berbuka. Lapar dan lemas menjadi tidak begitu terasa. Aktivitas itu berlanjut tiap hari, menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan.

Pola komunikasi media sosial juga berbeda jauh dengan komunikasi secara verbal. Di media sosial, untuk mencaci seseorang amatlah mudah. Tinggal mengetik umpatan-umpatan yang paling mewakili kemarahan kita atas status atau cuitan orang. Akan berbeda situasinya jika orang yang akan kita umpat benar-benar ada di hadapan kita. Kita akan berpikir seribu kali untuk melakukan tindakan tidak terpuji itu.

Pola komunikasi semacam itu yang membuat media sosial kita menjadi ladang sampah kemarahan yang tidak berkesudahan. Masing-masing orang merasa bebas berkata-kata kasar tanpa memandang perasaan orang yang diumpatnya. Bahkan, terkadang umpatan-umpatan itu ditujukan kepada orang-orang yang secara kedudukan sangat mulia. Hal itu terjadi umumnya karena pandangan politik yang berbeda.

Kembali ke pembahasan awal, jika kita tidak bisa benar-benar berhenti membuka akun media sosial, kita sebenarnya tetap bisa menjadi bagian dari gerakan ini, yaitu dengan puasa status-status yang memancing pertengkaran. Kita hindari membicarakan politik yang serba tidak menentu seperti sekarang ini. Kita cegah jari-jari kita mengetikkan status, komentar, atau cuitan yang menyulut amarah.

Iktikad semacam itu sudah bisa mengurangi keriuhan yang terjadi di media sosial. Kita bisa menyumbang damainya bulan Ramadan, bulan di mana seharusnya setiap muslim menghindari pertengkaran-pertengkaran.

*Alumnus PP Annuqayah Lubangsa Selatan. Pengelola alineabaru.com

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia