Selasa, 18 Jun 2019
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Pencuri Kotak Suara Mulai Disidang

Dua Terdakwa Juga Dijerat Pasal Sajam

22 Mei 2019, 05: 37: 31 WIB | editor : Abdul Basri

PERDANA: Dua terdakwa pembawa lari kotak suara mengikuti sidang pemeriksaan saksi di Pengadilan Negeri Sampang kemarin.

PERDANA: Dua terdakwa pembawa lari kotak suara mengikuti sidang pemeriksaan saksi di Pengadilan Negeri Sampang kemarin. (RUSYDI ZAIN/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Kasus pencurian kotak suara pada Pemilu 2019 mulai menggelinding ke pengadilan. Dua terdakwa, Yusuf, 35, dan Romadhon, 20, dihadirkan ke Pengadilan Negeri (PN) Sampang kemarin (21/5). Warga Desa Bapelle, Kecamatan Robatal, itu menjalani sidang perdana.

Mereka didakwa dengan pasal 517 UU 07/2017 tentang Pemilu dengan ancaman hukuman lima tahun penjara. Usai pembacaan dakwaan, sidang dilanjutkan ke agenda pemeriksaan saksi.

Berdasarkan berita acara pemeriksaan (BAP), saksi berjumlah enam orang. Namun, yang hadir pada sidang perdana tersebut hanya dua. Sidang itu harus diselesaikan selama tujuh hari.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang Anton Zulkarnaen mengatakan, agenda sidang akan dilaksanakan secara maraton selama tujuh hari. Menurut dia, semua yang berkaitan dengan pidana pemilu harus diselesaikan selama tujuh hari.

”Sidang pidana pemilu ini berbeda dengan pidana umum lainnya. Jadi, kami bukan mempercepat atau mengebut,” paparnya.

Agenda sidang berikutnya masih pemeriksaan saksi. Jika empat saksi dalam BAP tiga kali tidak menghadiri pemanggilan di sidang, mereka akan dijemput paksa. ”Dua saksi yang hadir dari Bawaslu dan KPU tingkat kabupaten, yang tidak hadir ini panitia di tingkat TPS dan satu anggota polisi yang mengamankan terdakwa,” terangnya.

Dua terdakwa terancam hukuman berlapis. Sebab, selain melanggar Undang-Undang Pemilu, juga melanggar UU 12/1951 pasal 2 ayat 1. ”Proses hukumnya dipisah. Jadi, yang sekarang ini pelanggaran pemilunya. Terkait sajamnya masih dalam tahap pemberkasan dari polres ke kejaksaan,” terang Anton.

Komisioner Bawaslu Sampang Yunus Alighafi hadir ke PN untuk memberikan kesaksian. Pihaknya juga membenarkan bahwa ada empat saksi yang tidak hadir di sidang perdana. ”Ini sejarah karena satu-satunya se-Indonesia kejadian kotak suara yang dicuri pada pemilu serentak ini,” paparnya.

Yusuf dan Romadhon membawa kotak suara menggunakan mobil Suzuki Ertiga M 1697 HI. Mobil itu baru bisa dihentikan saat dihadang menggunakan truk dalmas. Sebelum diserahkan ke polres, mereka diamankan di Mapolsek Robatal.

Pada saat pencurian satu kotak suara, pencoblosan dan penghitungan surat suara (SS) tetap berlangsung. Setelah itu, mereka ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara kepemilikan senjata tajam (sajam). Berkaitan dengan kasus kotak suara yang dibawa lari, masih dalam kajian sentra penegakan hukum terpadu (gakkumdu). Kasus tersebut menggelinding ke kejaksaan sebelum masuk pengadilan.

Sajam yang dibawa mereka digunakan untuk mengancam aparat kepolisian dan warga. Aksi mereka sebelumnya dinyatakan belum melakukan tindakan untuk menggagalkan pelaksanaan pemilu. Itu berdasar UU 7/2017 tentang Pemilu. Namun, dalam proses akan menggagalkan pemilu.

(mr/rus/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia