Rabu, 13 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Features

Organisasi Alumni Ibnu Cholil Masih Belia, tapi Tetap Jaga Etika

22 Mei 2019, 05: 33: 59 WIB | editor : Abdul Basri

JATI DIRI SANTRI: Pengasuh Pesantren Ibnu Cholil Bangkalan KH Imam Buchori Cholil (berdiri lima dari kiri) bersama anggota HASIB dalam acara reuni dan silaturahmi tahunan di halaman Pesantren Ibnu Cholil Bangkalan 2018.

JATI DIRI SANTRI: Pengasuh Pesantren Ibnu Cholil Bangkalan KH Imam Buchori Cholil (berdiri lima dari kiri) bersama anggota HASIB dalam acara reuni dan silaturahmi tahunan di halaman Pesantren Ibnu Cholil Bangkalan 2018. (HOIRUL UMAM FOR RadarMadura.id)

Share this      

Menjadi alumni sebuah pesantren dituntut memberikan dampak positif di daerah asal masing-masing. Hal itu yang hingga kini menjadi pegangan anggota HASIB.

ADAM MUHLIS DINILLAH, Bangkalan

ORGANISASI alumni Pondok Pesantren Ibnu Cholil Bangkalan masih belia. Bernama lengkap Himpunan Alumni dan Santri Ibnu Cholil Bangkalan atau disingkat HASIB.

Organisasi ini berdiri pada 2016. Dicetuskan oleh alumni ponpes yang beralamat di Jalan Halim Perdana Kusuma, Bangkalan, itu. Awalnya, hanya alumni 2006 yang mengusulkan pembentukan organisasi alumni.

Ide itu muncul karena melihat alumni pesantren yang didirikan sejak 1996 ini sudah mencapai ribuan. ”Saat ini alumni Ponpes Ibnu Cholil lebih dari dua ribuan yang tersebar di seluruh Indonesia,” tutur Ketua Umum HASIB Hoirul Umam kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Rabu (15/5).

Umam merupakan santri yang mengenyam pendidikan Ponpes Ibnu Cholil selama 4 tahun. Sejak 2000 hingga 2004. Ketika ditemui di kediamannya di Kelurahan Mlajah, Bangkalan, Umam menceritakan awal mula berdirinya HASIB.

”Awalnya keanggotaan HASIB ini hanya alumni. Tapi, banyak santri yang komplain. Kenapa mereka tidak dimasukkan ke dalam organisasi, tapi setiap acara reuni diminta untuk selalu hadir,” jelas Umam.

Pada 2018, pria kelahiran 8 Oktober 1985 tersebut langsung mengumpulkan seluruh pengurus untuk bermusyawarah. Awalnya nama HASIB ini ’alumni santri’. Ketika ’santri’ dimasukkan hanya ditambahi ’dan’. Menjadi ’alumni dan santri’,” jelasnya.

Belakangan, permintaan untuk kembali menambah keanggotaan dengan menyertakan simpatisan mulai ramai. Namun, ini belum bisa diterima. ”Kami rasa ini cukup sulit dan butuh waktu. Khawatir juga nanti akan mengubah nama organisasi,” jelasnya.

Ponpes yang diasuh KH Imam Buchori Cholil ini juga menjadi pusat kegiatan HASIB. Agenda yang dilakukan memang baru reuni tahunan. ”Kami, para alumni, juga sering melakukan kegiatan bakti sosial. Namun, ini bukan agenda utama,” jelas Umam.

Umam mengakui HASIB masih baru meniti karir. Belum sebesar organisasi alumni pesantren lainnya. Karena itu, perlu diperkuat tali silaturahmi dan komunikasi lebih dulu. ”Kata kiai, meskipun sudah keluar, kami masih santri. Tapi, bedanya tidak di pondok. Sampai kapan pun santri itu tetap santri karena tidak ada mantan santri,” tegasnya.

Seluruh anggota HASIB dituntut melakukan dakwah di masyarakat.Menurut dia, sebagai alumni ponpes, semuanya otomatis menyandang nama ustad. Karena itu, setidaknya alumni minimal bisa berdakwah di langgar-langgar.

”Untuk misi khusus dari pondok tidak ada, ini hanya personal alumni saja. Dengan berdakwah, juga sekaligus menyosialisasikan Pondok Ibnu Cholil juga toh,” imbuhnya.

Cara menjaga etika sebagai santri di dunia luar menjadi tantangan. Hal ini sangat dirasakan Umam semenjak keluar dari pesantren. Sebagai alumni, harus berkelakuan baik yang mencirikan sebagai seorang yang pernah menjadi santri.

”Di era modern ini, kebanyakan santri itu minder untuk mengakui jika mereka ini santri. Namun, mau tidak mau jati diri seorang santri itu pasti tertanam dalam jiwanya,” ungkap Umam.

Umam mengakui, tidak semua anggota HASIB menjadi seorang dai di daerah asalnya. Namun, menjaga jati diri santri itu wajib. ”Banyak kok yang menjadi PNS atau aparatur negara lainnya. Namun, image santri ini harus tetap dibawa ke mana pun,” tandasnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia