Senin, 24 Jun 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Politik Kebangsaan Kaum Muda

Oleh Muhammad Aufal Fresky*

22 Mei 2019, 05: 08: 44 WIB | editor : Abdul Basri

Politik Kebangsaan Kaum Muda

Share this      

SILAKAN amati ulah sebagian warganet di media sosial. Sungguh ironis dan sangat memuakkan. Sebagian adalah kaum muda. Gemarnya menghujat dan mencaci maki pemerintahan yang sah. Perbedaan politik dijadikan bahan bakar untuk menyerang pemimpinnya. Tidak ada nalar. Apalagi belas kasih. Hilang rasa toleransi. Siapa pun yang berbeda dicemooh habis-habisan.

Politik saat ini tidak dipungkiri menjadi pemecah belah bangsa. Momentum pilpres dan pileg dijadikan ajang saling membenci dan memfitnah. Hancur lebur persatuan kita jika semua anak bangsa bersikap begitu. Tidak memandang kebaikan dan kemaslahatan umat sebagai prioritas dalam setiap gerak-geriknya. Potensi tercerai-berainya masyarakat tidak lagi dipedulikan. Terpenuhinya hasrat mencaci maki jauh lebih diutamakan dibandingkan persaudaraan.

Akankah kita biarkan kondisi semacam ini terus berlanjut? Jangan-jangan justru kaum mudalah yang menjadi pemicu terjadinya perpecahan dan permusuhan antarwarga.

Sebagian di antara kita membiasakan diri untuk berpikir negatif terhadap yang lain hanya gara-gara persoalan sepele. Politik menjadi semacam pedang yang memecah jalinan silaturahmi. Sepertinya sebagian dari kawula muda terpancing ulah provokator. Provokasi secara terus-menerus akan tertanam di alam bawah sadar. Apalagi orang tersebut tidak bersikap bijak dan kritis dalam menghadapi berbagai provokasi berupa hoaks, misalnya.

Kesantunan dan keadaban dalam berpolitik tidak lagi menjadi perangai kita sebagai sebuah bangsa yang menjunjung tinggi adat ketimuran. Tak perlu kita membenci saudara sebangsa hanya karena beda pilihan politik. Perbedaan pandangan politik itu hal yang biasa. Mustahil membuat semua orang di Indonesia sama pikirannya dengan kita. Mereka juga memiliki logika tersendiri kenapa memilih calon-calon tertentu. Mestinya, perbedaan itu bisa semakin meningkatkan toleransi sebagai sesama anak bangsa.

Karena itu, kaum muda jangan berperan sebagai api penyulut permusuhan. Langah kaum muda ditunggu segenap masyarakat Indonesia. Jangan jadi provokator dan penyebar hoaks yang bisa menimbulkan perpecahan. Kaum muda yang digadang-gadang sebagai pemimpin perubahan harus memainkan perannya dalam merajut persatuan masyarakat. Menjadi agen perdamaian. Mengajak dan mengedukasi masyarakat bahwa perbedaan politik itu biasa dan tidak perlu dipermasalahkan secara berlebihan.

Kaum muda jangan anti terhadap politik. Tanpa kehadiran kaum muda dalam kontestasi politik nasional, rasanya politik Indonesia akan menjadi hambar. Sebab, proses kaderisasi kepemimpinan nasional bisa dimulai dari partisipasi aktif kaum muda. Lalu, bagaimana langkah nyatanya keterlibatan pemuda dalam perpolitikan nasional? Apakah harus jadi anggota/pengurus parpol? Apakah harus jadi timses calon-calon tertentu? Saya rasa tidak mesti demikian.

Para pemuda tidak harus terlibat dalam politik praktis. Pemuda bisa turut andil berperan menjaga persatuan masyarakat dalam kontes politik. Pemuda maju di garda terdepan sebagai pemain utama dalam mengikatkan tali persaudaraan dan solidaritas bangsa. Inilah yang disebut politik kebangsaan.

Politik kebangsaan kaum muda menjadikan urusan bangsa dan negara sebagai prioritas sepak terjang di dunia politik. Walaupun dia tidak terdaftar sebagai anggota/ pengurus parpol, tetapi berperan nyata menjaga NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dari berbagai upaya-upaya berbagai pihak untuk memecah belah. Kaum muda adalah aktor penggerak yang diharapkan bisa menyusun taktik dan strategi agar oknum-oknum pemecah belah bangsa ini tersadarkan.

Politik kebangsaan kaum muda dimaknai sebagai langkah dan tindakan kaum muda untuk tetap menjaga empat pilar (Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI) agar tetap lestari. Masyarakat tidak akan mudah goyah dan gampang menjelek-jelekkan pemimpin dan negaranya rasa cinta tanah air tertanam kuat dalam jiwanya. Dan pemuda bisa mengambil peran itu; untuk membangun nasionalisme dan patriotisme seluruh warga Indonesia.

Cakupan politik kebangsaaan kaum muda lebih luas. Tidak melulu membahas kekuasaan dan jabatan. Namun lebih kepada bagaimana membangun serta menjaga Indonesia. Penting juga bagaimana agar bangsa ini menjadi bangsa yang disegani oleh bangsa-bangsa asing di berbagai belahan dunia.

*)Kader Penggerak NU dan pelayan di Yayasan dan PP. AL-IKHLAS, Pamekasan

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia