Sabtu, 23 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Jati Diri Kaum Muslimin

Oleh Hanif Muslim*

19 Mei 2019, 05: 32: 34 WIB | editor : Abdul Basri

Jati Diri Kaum Muslimin

Share this      

SEORANG pahlawan lebih tahu jati dirinya daripada orang lain. Yang sangat tidak baik itu adalah jika seseorang tahu jati diri kita melebihi pengetahuan kita pada diri kita sendiri. Kalau kita lihat, seorang pejuang itu pasti mempunyai guru spiritual sendiri. Muhammad al-Fatih mempunyai seorang ulama spiritual dan banyak dari kalangan wanita. Kalau peribahasanya, ”di samping laki-laki hebat pasti ada perempuan hebat”. Benarkah?

Rasulullah juga punya guru spiritual, yaitu Allah sendiri melalui perantara malaikat Jibril. Tapi, tidak bisa dipungkiri bahwa di samping Rasulullah juga mempunyai wanita hebat. Di samping Rasulullah ada Khadijah, Aisyah, dan Zainab. Di samping Sayyidina Ali ada Fatimah. Di samping Umar ibn Khattab ada Ummu Kultsum binti Ali ibn Abi Thalib. Di samping Utsman bin Affan ada Dzunnurain yaitu kedua putri Rasulullah. Ini semua tidak bisa dipungkiri.

Kalau kita sekarang sudah punya gak? Mencari perempuan hebat tidak usah mencari istri atau bahkan pacaran, kerena ada wanita hebat yang telah ada di samping kita, ibu. Imam Syafi’i juga mempunyai yang hebat. Di samping Sayyidina Hasan dan Husain ada Fatimah binti Muhammad SAW. Di samping Nabi Isa ada Maryam. Jadi untuk memotivasi tidak harus pacaran. Pacaran memang dilarang agama.

Who ourselves? Kalau kita ditanya siapa jati diri kita pasti berbeda-beda. Tapi kalau ditanya satu, ”Siapa dan bagaimana jati diri kaum muslimin?” Inilah yang akan penulis bahas pada lembaran yang mencukupi ini, dan tentunya juga teman-teman masih punya pendapat yang banyak mengenai ini. Yuk kita kaji bersama!

Islam lahir tidak langsung dewasa, karena bumi juga lahir tidak langsung sendirinya, butuh miliaran tahun. Seolah bayi, tidak langsung dewasa, masih tahap anak-anak, diberi nama, diajari berbicara, terus remaja, dewasa, dan menua, lalu tinggal menunggu ajal untuk ke liang lahat. Dan ini terjadi kepada Nabi Adam A.S. bagaimana dia adalah seorang muslim pertama.

Pejuang tahu saat yang tepat untuk hijrah dan membebaskan kembali negerinya. Tahu bagaimana menggempur musuh-musuhnya di benteng Khaibar dan di sumur Badar. Tahu bagaimana mengubah masyarakat jahiliah menjadi masyarakat yang haus ilmu. Bahkan, mengguncangkan dua imperium terbesar di dunia saat itu, yaitu Romawi dan Persia.

Itulah Muhammad ibn Abdillah. Darinya kita belajar kesempurnaan. Baginya, 23 tahun adalah waktu yang cukup untuk membangun peradaban gemilang dari segi politik, ekonomi, dan kebudayaan serta ilmu pengetahuan.

Nabi Muhammad SAW. diutus bukan untuk membuat agama baru. Tapi, untuk menyempurnakan agama yang dibawa oleh rasul sebelumnya. Kalau memang begitu, tentunya Nabi Muhammad mendapatkan suatu misi yang sangat berat.

”Wahai orang-orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk salat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil. Yaitu, separuhnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari (seperdua) dari itu, dan bacalah Alquran itu dengan perlahan-lahan” (Al-Muzzammil [73]:1-4)

Untuk apa? ”Sesungguhnya kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu” (Al-Muzzammil [73]:5). Seberapa beratnya? ”Sekiranya kami turunkan Alquran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan itu kami buat untuk manusia agar mereka berpikir” (Al-Hasyr [59]:21).

Berat, sangat berat sekali, hingga gunung pun tak sanggup untuk menerimanya. Gunung itu akan hancur. Dan inilah kita saat ini. Kita lupa akan jati diri yang lebih kuat daripada gunung. Mungkin langit punya banyak bintang, bulan, matahari, tata surya, dan galaksi. Tapi kita punya impian, pengalaman, dan cita-cita. ”Dan perumpamaan itu kami buat untuk manusia agar mereka berpikir” (Al-Hasyr[59]:21). Mungkin seperti itulah beban dan amanah yang diemban oleh Rasulullah SAW. manusia yang tak ada sebelum dan sesudahnya.

Kalau Nabi Adam dulu diajari bahasa, maka Nabi Muhammad pertama diajari bahasa yaitu iqra. Kalau Nabi Ibrahim dulu dibesarkan dalam gua, maka Nabi Muhammad juga selalu menginap dalam gua. Kalau Nabi Musa dihanyutkan ke sungai Nil, maka Nabi Muhammad juga ”dihanyutkan” dengan cara hijrah dari Makkah ke Madinah.

Seperti itulah jati diri umat Islam, bagaimana dengan ketapel dan tongkat bisa mengalahkan seorang raja. Bagaimana seseorang yang jatuh dalam sumur bisa menjadi raja. Bagaimana seorang yang dihanyutkan dalam arusnya sungai Nil bisa menghancurkan kerajaan. Bagaimana seorang yang dibesarkan dalam gua dengan berani menenteng kapak menghancurkan berhala Namrud.

Meski begitu, kita tidak boleh sombong. Mari kita bangkit dengan jati diri umat Islam! 

*)Santri Pondok Pesantren Banyuanyar, Pamekasan

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia