Senin, 24 Jun 2019
radarmadura
icon featured
Features

Kiprah Ikatan Santri Alumni Nurul Islam Karang Cempaka

Komitmen Jadi Lembaga Kehumasan Pesantren

18 Mei 2019, 15: 21: 55 WIB | editor : Abdul Basri

BERSAHAJA: Ketua Iksani Maulidi saat ditemui di Pondok Pesantren Nurul Islam, Desa Karang Cempaka, Kecamatan Bluto, Sumenep, Minggu (12/5).

BERSAHAJA: Ketua Iksani Maulidi saat ditemui di Pondok Pesantren Nurul Islam, Desa Karang Cempaka, Kecamatan Bluto, Sumenep, Minggu (12/5). (ZAINAL ABIDIN/RadarMadura.id)

Share this      

Alumni merupakan representasi lembaga pendidikan. Setiap tindakan maupun ucapan menjadi cerminan bagi masyarakat dalam menggambarkan. Organisasi alumni diharapkan berkontribusi terhadap perkembangan pesantren.

ZAINAL ABIDIN, Sumenep

PONDOK Pesantren Nurul Islam terletak di Desa Karang Cempaka, Kecamatan Bluto. Pesantren ini diasuh KH Ilyas Siraj. Pesantren ini mengelola pendidikan anak usia dini (PAUD), madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah diniyah (MD), madrasah tsanawiyah (MTs), madrasah aliyah (MA), dan sekolah menengah kejuruan (SMK). Selain itu, Sekolah Tinggi Alquran Nurul Islam (STIQNIS)

Pondok ini juga dikenal sebagai pesantren yang mengelola Lembaga Pengembangan Bahasa Arab (LPBA). Alumni di pondok ini tersebar di seluruh kecamatan di Kota Keris. Mereka membentuk wadah alumni dengan nama Ikatan Santri Alumni Pondok Pesantren Nurul Islam (Iksani).

Ikatan alumni tersebut dibentuk pada 1990. Hingga saat ini, mereka tetap eksis dan berkontribusi kemajuan pondok. Jawa Pos Radar Madura (JPRM) menemui Maulidi selaku ketua Iksani Minggu (12/5).

Saat itu dia sedang mengajar kitab kuning di pondok putri. Siang itu, suasana di lingkungan pondok cukup ramai. Di beberapa ruang kelas santri mengikuti pengajian kitab. Aktivitas perkuliahan di STIQNIS juga masih berjalan.

Kami bertemu Maulidi di area STIQNIS. Pria kelahiran 1970 itu menyampaikan, di pondok tersebut ada dua wadah santri. Yakni, Ikatan Santri Alumni Pondok Pesantren Nurul Islam (Iksani) dan Ikatan Santri Nurul Islam (Iksni).

Iksani merupakan wadah atau perkumpulan untuk semua alumni. Sementara Iksni untuk santri yang masih aktif belajar di pondok. ”Iksani ini merupakan organisasi yang melekat di pondok. Meskipun sudah jadi alumni, mereka tetap menjadi santri Pondok Nurul Islam,” katanya.

Pembentukan Iksani merupakan inisiatif alumni yang menginginkan tetap menjadi bagian dan menyumbangkan pemikiran serta tenaga untuk kemajuan pesantren. Pihaknya berupaya mengerti bagaimana upaya pesantren mendidik santri.

Para alumni berupaya membantu meringankan usaha pengasuh serta ustad dan ustadah dalam menjalankan pendidikan dan memajukan pondok. Kemudian, seluruh alumni sepakat membentuk perkumpulan yang diberi nama Iksani.

visi misi Iksani adalah terciptanya hubungan emosional antara alumni dan pengasuh sebagai lembaga kehumasan dan memfungsikan diri sebagai penggerak kemajuan pesantren. Iksani terbentuk pada 1990. Namun, hingga saat ini belum banyak program yang dijalankan.

Selama ini belum ada program khusus. Pihaknya masih fokus menyosialisasikan keberadaan pesantren kepada masyarakat. Mulai dari penerapan peraturan pesantren, lembaga yang dikelola, program unggulan, hingga perkembangan pesantren.

Fungsi Iksani masih dalam upaya promosi dan pengenalan pesantren kepada masyarakat. Terutama di wilayah yang selama ini merupakan basis santri dan alumni. Alumni Juga berkewajiban menyelesaikan permasalahan yang terjadi di pesantren.

”Peran alumni sebagai lembaga kehumasan pesantren sangat penting. Alumni hendaknya bisa menjadi garda terdepan dan corong informasi kemajuan pondok. Dengan begitu, minat masyarakat terhadap lembaga pendidikan pesantren meningkat,” ujarnya.

Menurut Maulidi, kemajuan pesantren bergantung pada peran dan kontribusi alumni dalam menyosialisasikan keberadaan pondok kepada masyarakat. Pihaknya ingin membangun hubungan emosional antara alumni dan pengasuh. Sebab, saat ini tidak sedikit alumni yang kurang menjaga komunikasi dan memikirkan perkembangan pondok.

”Sebagai alumni, jiwa kesantrian harus tetap melekat dan menjaga nama almamater. Sebab, alumni merupakan potret pesantren,” tuturnya.

Anggota Iksani kurang sekitar 200 orang. Mereka tersebar di sejumlah kecamatan. Basis alumni Nurul Islam itu di Kecamatan Bluto, Saronggi, dan Giligenting. Alumni mengunakan kemampuannya untuk menarik minat masyarakat agar memondokkan putra-putrinya di Nurul Islam. Misalnya, alumni yang mahir bahasa Arab, bahasa Inggris, mengadakan kursus bahasa di wilayah masing-masing. ”Upaya itu mampu menjadi magnet bagi masyarakat untuk memondokkan anaknya di Nurul Islam,” tutur alumnus Nurul Islam 1990 itu.

Maulidi mengungkapkan, banyak alumni yang mendirikan lembaga pendidikan. Di tiap kecamatan minimal ada satu lembaga yang dikelola alumni. Kemudian, siswa lulusan di sekolah itu diarahkan melanjutkan pendidikan di Nurul Islam.

”Banyak alumni yang mengajar di pondok. Terutama mengampu pengajian kitab selama bulan puasa. Kami berupaya memberdayakan alumni dengan menjadikannya guru atau tenaga pengajar sesuai dengan kemampuan masing-masing,” tuturnya.

Pertemuan Iksani digelar setiap tahun berbarengan dengan acara haul pondok. Seluruh alumni hadir dan berkumpul sehari sebelum hari H. Dalam pertemuan tersebut dibahas sejumlah hal yang berkaitan dengan pesantren. Mulai pembangunan, pendidikan, hingga kegiatan lain yang perlu diadakan.

”Alhamdulillah, kami sudah membangun asrama pondok. Yang saat ini sudah ditempati santri jurusan SMK. Kami juga terlibat langsung dalam proses penerimaan santri baru,” tuturnya.

Pihaknya segera mengadakan pertemuan dengan semua anggota Iksani untuk membahas persiapan pembentukan koperasi. Di situ juga akan diadakan rapat terkait regenerasi struktur kepengurusan Iksani.

Rencana pendirian dan pengelolaan koperasi pesantren sudah dibahas bersama dan mendapat restu dari KH Ilyas Siraj. Pihaknya juga merencakan pelaksanaan ngaji kitab setiap bulan. Tujuannya, agar lebih memperat tali silaturahmi dengan pondok dan mengembangkan wawasan keilmuan.

”Kami akan membentuk tim khusus yang bertugas menyosialisasikan dan menyelesaikan semua persoalan yang berkaitan dengan pesantren. Itu merupakan pengabdian kami kepada pondok Nurul Islam tercinta. Di pondok kami belajar menjadi santri seutuhnya,” tukasnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia