Senin, 24 Jun 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Ramadan Media Silaturrahmi

Oleh Khalil Djazoely*

18 Mei 2019, 15: 19: 27 WIB | editor : Abdul Basri

Ramadan Media Silaturrahmi

Share this      

BULAN suci Ramadan merupakan bulan terbukanya kesempatan. Ini sebabnya Ramadan menjadi bulan yang sangat dinanti-nantikan seluruh umat muslim. Selain menyandang bulan penuh hikmah, Ramadan bisa disebut sebagai bulan silaturahmi. Bulan di mana semangat menyambung persaudaraan biasa dilakukan oleh umat Islam, khususnya muslim Indonesia yang sedang terkoyak seperti saat ini.

Momen menjalin kebersamaan tampak pada pelaksanaan salat Tarawih berjamaah, tadarus, dan kuliah-kuliah tujuh menit menjelang dan setelah salat berjamaah. Semua itu dibungkus dalam wadah kebersamaan yang dirajut dalam ikatan silaturahmi.

Pada bulan ini, hati seorang muslim mestinya begitu lapang, pemaaf, dan memiliki semangat persaudaraan yang tinggi. Tidak salah jika Ramadan adalah bulan silaturahmi, yaitu saat-saat kita sangat terbuka untuk menjalin hubungan sosial yang renggang, berkubu, atau bahkan terputus akibat momen elektoral. Silaturahmi pada Ramadan sangat mudah dilakukan dengan alasan keagamaan yang kuat tanpa merasa kehilangan harga diri.

Apa makna silaturahmi di bulan Ramadan? Silaturahmi memiliki makna spesifik. Dalam nash Alquran dan Hadis begitu banyak yang mengulas topik tentang ini. Salah satu hadis Nabi Muhammad SAW yang populer di antaranya adalah: Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada salat dan puasa?” Sahabat menjawab, ”Tentu saja!” Rasulullah pun kemudian menjelaskan, ”Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwah di antara mereka. (Semua itu) adalah amal saleh yang besar pahalanya. Barang siapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan.” (HR. Bukhari-Muslim).

Mungkin suatu hikmah tersendiri jika Ramadan kita tahun ini hanya berjarak beberapa hari dengan pesta demokrasi yang suhunya begitu panas. Ramadan memberikan peluang perenungan bahwa proses demokrasi seharusnya menjadi pesta rakyat dalam memilih pemimpin. Maka, segala bentuk fitnah, hoaks, kebencian, dan perpecahan adalah sampah yang tidak perlu dan sepantasnya dibuang.

Ramadan memberikan peluang kepada kita untuk merajut kembali ikatan yang terkoyak antara orang tua dan anak, guru dan murid, kiai dan santri. Pesan nabi di atas tentang silaturahmi menunjukkan betapa seseorang yang mendamaikan (mediator) antara saudara yang sedang bertengkar atau berselisih sangat diapresiasi dalam bentuk pemberian pahala yang lebih besar oleh Allah SWT dibandingkan ibadah ritual seperti salat dan puasa.

Sebagai muslim kita percaya bahwa silaturahmi dapat melapangkan rezeki, keberkahan hidup, dan panjang umur. Pelaksanaan silaturahmi akan menemukan pemaknaan puncaknya saat dilakukan seseorang yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Terlebih lagi ibadah puasa mengandung dimensi sosial yang sangat tinggi. Lapar dan haus harus direfleksikan dalam bentuk kepedulian (caring) kepada sesama dalam berbagai bentuk seperti saling memaafkan, berkunjung, menyambung ikatan persaudaraan yang terputus, menyenangkan sesama berupa pemberian sedekah atau hadiah, dan lain-lain.

Sangat disayangkan jika Ramadan yang suci, Ramadan yang berkah, Ramadan yang penuh maghfirah belum mampu mendamaikan ”dua kubu” yang berseberangan untuk kembali menyatu dalam nikmatnya silaturahmi. Padahal, Allah SWT telah menyediakan Ramadan sebagai fasilitas menambah ketakwaan kepada-Nya, memperbanyak amalan ibadah karena pahala yang semakin dilipatkan, serta penghapusan dosa dan semua salah.

Semoga kita masih bisa berharap bahwa pada penghujung puasa nanti kita bisa kembali menjadi insan yang fitri. Menjadi ummatan wahidah dengan semangat silaturahmi. Mari kita lupakan kategori yang telanjur menjadi istilah antara cebong dan kampret, serta mencoba sadar bahwa perbedaan tidak untuk memisahkan, melainkan perbedaan agar kita senantiasa beriringan. Dengan demikian, Ramadan kita tahun ini tetap menjadi Ramadan yang penuh makna.

*)Alumnus PP Mambaul Ulum Bata-Bata. Staf pengajar di PP Al-Majidiyah Palduding, Pamekasan

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia