Minggu, 15 Sep 2019
radarmadura
icon featured
Features

Kiprah Organisasi Alumni Hisan Ponpes Nurul Cholil Bangkalan

14 Mei 2019, 03: 17: 10 WIB | editor : Abdul Basri

TETAP TERJALIN: Alumni Ponpes Nurul Cholil Bangkalan yang tergabung dalam organisasi Hisan Cabang Banjarmasin melakukan pertemuan rutin.

TETAP TERJALIN: Alumni Ponpes Nurul Cholil Bangkalan yang tergabung dalam organisasi Hisan Cabang Banjarmasin melakukan pertemuan rutin. (HISAN FOR RadarMadura.id)

Share this      

Santri tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi. Meskipun sudah berstatus sebagai alumni, tetap harus mengabdi. Mereka harus berkontribusi kepada pesantren dan masyarakat.

ADAM MUHLIS DINILLAH, Bangkalan

PONDOK Pesantren (Ponpes) Nurul Cholil berada di Jalan KH Moh. Kholil, Gang 3, Kelurahan Demangan, Kecamatan Kota Bangkalan. Di kompleks ini juga berdiri ponpes yang tak kalah terkenal. Yaitu, Ponpes Syaikhona Moh. Cholil.

Suasana ponpes ini hampir sama. Namanya sama-sama ada kata ”Cholil”. Juga sama-sama punya organisasi alumni. Ponpes Nurul Cholil punya Himpunan Santri Alumni dan Simpatisan Nurul Cholil. Disingkat Hisan.

Kamis (9/5) seusai salat Duhur, Jawa Pos Radar Madura (JPRM) menemui Sekretaris Hisan Syukron Muchlis. Dia menjelaskan kiprah organisasi alumni ini. Suasana ponpes yang teduh dengan sedikit terdengar suara ustad sedang mengisi kajian kitab siang itu mengiringi perbincangan kami.

Syukron tidak mengetahui begitu persis berdirinya Hisan. Menurut dia, antara 1987 atau 1997. ”Yang pasti, SK organisasi kami tahun 2000,” tutur Syukron.

Organisasi ini berdiri atas inisiatif beberapa alumni. Antara lain, H Jauhari Adnan, H Syafi’i, Nur, dan Fahri. Mereka bertemu pengasuh pesantren saat itu KH Muntashor di Jakarta. ”Saat itu pengasuh berada di Bandara Soekarno Hatta, hendak kembali ke Madura. Namun, alumni yang berada di Jakarta meminta izin saat itu untuk mendirikan Hisan,” jelasnya.

Saat itu alumni Ponpes Nurul Cholil baru 80 orang. Sementara santri baru 300-an orang. Setelah Hisan berdiri, perkembangan pesantren langsung signifikan. Sebab, alumni menjadi ”alat pemasaran” yang ampuh bagi ponpes.

Melalui lisan alumni, ponpes disampaikan kepada masyarakat. Juga dengan cara bersikap alumni di masyarakat. Hal ini disebut Syukron sebagai dakwah secara pribadi.

Salah satunya dengan memberikan santunan kepada anak yatim dan bakti sosial. ”Jika berdakwah di atas panggung, kami belum ada. Jadi, dakwah kami melalui sikap kami di masyarakat,” jelas pria kelahiran 5 Maret 1978 itu.

Dengan dukungan Hisan dalam pengembangan pesantren, kini Ponpes Nurul Cholil membuka cabang di beberapa tempat. Yaitu, Nurul Cholil 2 di Lantek Barat, Galis; Nurul Cholil 3 di Batangan, Tanah Merah; Nurul Cholil 4 di Separah, Galis; dan Nurul Cholil 5 di Sanglalang, Blega.

Organisasi ini tidak hanya berada di pusat. Kini sudah terdapat 34 cabang di sejumlah daerah di Indonesia. Mereka, alumni, juga melakukan dakwah. Di Banjarmasin, alumni iuran untuk membantu pembangunan beberapa musala.

Sementara di Bogor mereka membantu pembangunan sejumlah sekolah. Ini juga menjadi sarana dakwah alumni di masyarakat. ”Mayoritas alumni ini urban ke sejumlah daerah. Termasuk di Arab Saudi dan Malaysia,” jelasnya.

Tak hanya itu, Hisan juga menjadi pencetus usaha milik pesantren. Usaha ini terdapat di sejumlah kecamatan di Bangkalan. ”Ada sekitar 9 usaha pribadi milik pesantren. Semua pencetusnya adalah Hisan,” jelasnya.

Sembilan usaha itu terdiri atas enam 6 NC MART yang tersebar di Kecamatan Galis, Tanah Merah, Kota Bangkalan, dan Modung. Tiga usaha lain berupa Surya Indah Reload. Surya Indah Reload menangani konter. Saat ini sudah ada 700 konter yang terdaftar sebagai member.

Meskipun menjadi salah satu pencetus, usaha itu tidak lantas dimiliki dan dikelola oleh Hisan. Sepenuhnya diserahkan pada ponpes. ”Alhamdulillah sudah 10 tahun usaha milik ponpes berjalan. Keuntungannya sekarang kalau tidak salah mencapai tiga miliar rupiah,” tutur Syukron.

Hal ini menjadi salah satu bentuk kepedulian alumni pada pesantren. Dia mengakui tidak mewajibkan anggota melakukan iuran dalam perkumpulan setiap dua bulan sekali. Sebab, menurut pria yang pernah bersekolah di Jakarta ini, tidak semua alumni memiliki ekonomi yang bagus.

Karena itu, salah satu topik bahas dalam setiap reuni alumni adalah masalah bisnis dan peluangnya. Setiap pertemuan acara spiritualnya tidak lama. Sekitar setengah jam. ”Selebihnya dimaksimalkan untuk ngobrol sesama alumni,” imbuhnya.

Ini jadi salah satu penguat Hisan dalam setiap reuni, di mana alumni akan ngobrol dan sharing terkait peluang usaha yang bagus. ”Di sana juga bisa menarik alumni yang misalkan belum bekerja atau tidak memiliki usaha, bisa ikut jejak alumni yang sudah sukses,” jelas Syukron.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia