Senin, 24 Jun 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Santri Kosmopolitan

Oleh Mohammad Saleh*

14 Mei 2019, 03: 10: 40 WIB | editor : Abdul Basri

Santri Kosmopolitan

Share this      

BOLEH jadi, sampai detik ini, posisi santri dalam aras kebangsaan Indonesia masih dipertanyakan. Seakan peran dan kontribusinya masih diragukan. Lebih-lebih menjadi tenaga struktural dalam kepemerintahan negara. Masih ada yang memandang sebelah mata bahwa santri kurang mampu dalam hal-hal yang berkaitan dengan perannya sebagai warga negara, yang sebenarnya punya hak sama dengan warga lainnya, dalam mengisi peran apa saja di alam kemerdekaan ini.

Mereka yang ragu akan peranan santri sebenarnya masih buta sejarah bahwa dalam segala pertempuran yang dilakukan anak bangsa, baik sebelum Indonesia berdiri atau sesudah negara ini tegak, dipimpin oleh sebagian besar santri. Contoh kecilnya adalah Fatahillah, pembebas Sunda Kelapa dari tangan Portugis 1527, kemudian memberikan nama Jakarta, ternyata pernah menjadi santri di Aceh dan menuntut ilmu sampai ke Makkah. Kemudian contoh-contoh lainnya, Trunojoyo dari Madura, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Cik Di Tiro, dan lain-lain. Ternyata mereka adalah santri.

Bahkan pada masa pergerakan kemerdekaan, banyak dipimpin santri dalam memberikan semangat agar Indonesia lepas dari penjajah. Sebut misalnya, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asya’ari, Agus Salim, Abdul Muis, dan lain-lain. Setelah kemerdekaan pun, yakni dalam rangka mempertahankan kemerdekaan dari serbuan Jepang dan NICA (tentara Belanda yang hendak menguasai Indeonesia kembali), para pelopornya adalah santri. Misalnya, Zainal Musthafa, Soedirman, M. Toha, Tengku Abdul Jalil, dan sebagainya.

Bahkan di alam kemerdekaan selanjutnya, sampai detik ini, santri menjadi sentrifugal dalam pembangunan bangsa. Mengapa santri sedemikian hebat? Tak lain karena mempunyai pemikiran yang kosmopolitan, artinya mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas. Sebab,  mereka ditugaskan di muka bumi sebagai khalifah.

Bumi yang luas ini dapat dikelola dengan baik apabila sang pengelolanya mempunyai pengetahuan yang luas pula. Jika sebatas memahami pengetahuan yang sempit, misalnya, santri hanya mencukupkan diri tahu sebatas fiqiyah, maka sebagai khalifah di bumi, itu tak akan cukup juga.

Menjadi santri yang kosmopolitan adalah memahami setiap ilmu Allah yang maha luas ini. Makanya, dalam sejarah perkembangan pengetahuan santri, dari dahulu sampai sat ini, santri mesti mengetahui segala cabang ilmu Allah SWT itu. Misalnya, politik, sosial, ekonomi, fisika, kimia, matematika, sejarah, dan sebagainya.

Dari tabiat santri yang selalu kosmopolitan, tonggak kepemimpinan negara dan bangsa selalu dapat dipikulnya dengan baik. Dalam menghadapi segala tantangan dan tekanan, pemikirannya selalu vertikal dan horizontal. Karena itu, apa pun masalah yang menghadang, santri selalu berhasil mencari jalan keluar. Dengan demikian, kosmopolitan santri berhasil menyelaraskan hidupnya sesuai dengan tabiat yang seimbang, yakni dunia dan akhirat.

Dalam pandangan sejarah kebangsaan, sebagaimana dikatakan J.C. Van Leur, sejarah Indonesia adalah sejarah internasional. Karena perkembangan sejarah bangsa kita tak dapat dilepaskan dari peran pesantren, dapat kita katakan bahwa ”pesantren history is an international history” (Suryanegara, 1998: 134). Pandangan itu bertolak dari pemikiran bahwa sentral atau roh pergerakan nasional Indonesia itu selalu dimotori oleh golongan santri yang mengedapankan pemikiran kosmopolitannya.

Dari sikap kosmopolitan santri itu, apa pun perkembangan dunia modern yang dianggap baik dapat diserap. Santri menjadi ahli bahasa apa pun, bukan sesuatu yang muskil. Santri ahli teknologi apa pun, juga suatu hal yang biasa. Dan santri menjadi ahli politik, bahkan menjadi politikus pun adalah kewajaran. Sehingga peranannya di dalam dunia mengantarkan dunia menjadi penuh rahmat dan sebagai khalifah di bumi menjadi pengelola bumi yang tidak tamak, loba, dan congkak. Dengan demikian, tercipta keseimbangan alam yang dinamis berkat kosmopolitan santri tersebut.

Tulisan ini bukan berarti mau menafikan peranan bangsa yang bukan dari santri. Sebab, mereka juga punya peran sebagaimana peran santri di atas. Tetapi, marilah kita jujur membaca sejarah bahwa sesungguhnya kemerdekaan yang kita rasakan saat ini sebagian besar ditopang oleh kaum santri. Kaum santrilah yang tampil paling depan mengomando gerakan perlawanan terhadap penjajah. Dan kaum santrilah yang meletakkan dasar pemikiran falsafah Pancasila sebagai dasar negara hingga kita punya ideologi kukuh sebagaimana kita rasakan detik ini.

Dengan kejujuran kita memandang peran kosmopolitan santri, maka cibiran bahwa santri terbelakang, santri adalah kaum sarungan yang terpinggirkan dalam pembangunan bangsa, tidak akan muncul di benak kita. Sebab, santri adalah poros kebangsaan Indonesia itu sendiri. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. 

*)Ketua Pengurus PP Annuqayah Daerah Lubangsa Utara sekaligus sopir kiai.

Santri Kosmopolitan

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia