Senin, 24 Jun 2019
radarmadura
icon featured
Sumenep

Tak Semua Petani Terapkan Jajar Legowo

Dewan Minta Maksimalkan Peran Penyuluh

06 Mei 2019, 15: 26: 54 WIB | editor : Abdul Basri

GIGIH: Petani menanam padi di lahan pertanian sekitar Jalan Arya Wiraraja, Kecamatan Kota Sumenep, kemarin.

GIGIH: Petani menanam padi di lahan pertanian sekitar Jalan Arya Wiraraja, Kecamatan Kota Sumenep, kemarin. (JUPRI/RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Penanaman padi dengan sistem jajar legowo belum berjalan maksimal di Sumenep. Hal tersebut dapat memengaruhi hasil produktivitas petani yang belum signifikan.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dispertapahorbun Sumenep Habe Hajat menyampaikan penanaman padi dengan sistem jajar legowo sudah dipraktikan sebagian petani. Namun pihaknya tidak menampik masih banyak yang menanam padi dengan teknik biasa. ”Sebagian yang belum,” ucapnya kemarin (5/5).

Habe menuturkan, rata-rata petani yang enggan menanam padi dengan sistem jajar legowo karena membutuhkan lebih lama dibandingkan dengan biasanya. Menurut dia, jajar legowo lebih rumit. Namun, jajar legowo memberikan keuntungan ekonomis kepada petani.

Menurut dia, padi yang ditanam dengan sistem jajar legowo dapat menghasilkan gabah lebih banyak. ”Jajar legowo anakan dari padi itu lebih banyak, dan benihnya lebih sedikit,” terang Habe.

Penanaman padi sistem ini juga menghemat terhadap penggunaan pupuk. Sebab, pemberian pupuk dilakukan dengan cara dipasang dengan terarah. ”Pemasangannya kan langsung kepada benihnya, tidak ditabur,” imbuhnya.

Habe berjanji akan mendorong petani agar menanam padi dengan sistem jajar legowo. Yaitu, dengan memaksimalkan peran penyuluh pertanian yang ada di bawah naungan dispertapahorbun. ”Kita akan tetap maksimalkan peran teman-teman (penyuluh pertanian, Red) di lapangan untuk melakukan sosialisasi,” janjinya.

Anggota Komisi II B DPRD Sumenep Nurus Salam mengatakan, penanaman padi dengan teknik jajar legowo masih menjadi yang terbaik. Namun, tidak semua petani yang menanam dengan sistem tersebut karena ketidaktahuan.

Dia meminta agar dispertapahorbun memaksimalkan peran penyuluh. Dia menuding sebagian besar sosialisasi dari penyuluh hanya terhenti sampai di kelompok pertanian. ”Hendaknya datang langsung ke sawahnya petani, agar bisa diketahui cara yang tepat untuk penanganan struktur tanah di sawah milik petani,” pintanya. (jup)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia