Senin, 24 Jun 2019
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Pembacokan Gegerkan Pengunjung Pasar

Diduga Buntut Cekcok Makruf vs Sahri

27 April 2019, 08: 00: 59 WIB | editor : Abdul Basri

DALAM PERAWATAN: Kondisi Mohammad Bahri mulai membaik setelah mendapat pengobatan di Puskesmas Palengaan kemarin.

DALAM PERAWATAN: Kondisi Mohammad Bahri mulai membaik setelah mendapat pengobatan di Puskesmas Palengaan kemarin. (ANIS BILLAH/RadarMadura.id)

Share this      

PAMEKASAN – Pengunjung Pasar Palengaan dikejutkan dengan Mohammad Bahri yang lari terbirit-birit sekitar pukul 07.30 kemarin (26/4). Tubuh pria 32 tahun itu berdarah. Pedagang dan pengunjung pasar yang melihat langsung mengerumuninya.

Saladi, pedagang ikan asal Sampang, menuturkan, awalnya suasana pasar kondusif. Tiba-tiba pengunjung dikejutkan dengan kedatangan Bahri dalam keadaan terluka. Dia berlari dari barat ke dalam pasar.

”Yang saya lihat, bajunya masih dipakai. Mungkin dia pergi ke dalam pasar untuk mengamankan diri. Soalnya waktu itu pasar sedang ramai,” katanya.

Warga Dusun Tengginah II, Desa Palengaan Daya, Kecamatan Palengaan, itu berlari seorang diri. Tidak ada yang mengejar. Di saat bersamaan, suasana di pasar sedang ramai. Saladi tidak tahu pasti siapa yang melukai. ”Kalau ketahuan siapa yang melukai, sudah dimassa,” ujarnya.

Kades Palengaan Daya Syamsul Arifin menyampaikan, kejadian tersebut bermula saat Bahri pergi ke pasar untuk belanja. Kemudian dia bertemu Hafid, 39, warga Dusun Tengginah I, Desa Palengaan Daya. Mereka terlibat cekcok yang berujung pada penganiayaan. ”Mungkin hanya kesalahpahaman sehingga cekcok itu terjadi. Padahal, keduanya masih memiliki hubungan keluarga,” jelasnya.

Informasi yang beredar, kemungkinan kejadian tersebut ada sangkut pautnya dengan pembacokan antara Sahri, 35, warga Desa Palengaan Daya, dan Makruf, 40, warga Desa Palengaan Laok, pada Minggu (21/4). Namun, Syamsul belum bisa memastikan hubungan dua peristiwa tersebut.

Beberapa hari sebelumnya, pihaknya mengumpulkan pihak-pihak yang terlibat pembacokan. Pemerintah desa melakukan upaya damai antar kedua pihak. Mereka sepakat berdamai. ”Hafid tidak hadir karena berada di rumah istrinya di Desa Pasanggar, Kecamatan Pegantenan. Mungkin dia tidak mengerti atau belum tahu kalau keduanya sudah sepakat berdamai,” terangnya.

Kapolsek Palengaan Iptu Bambang Irawan menjelaskan, peristiwa tersebut bertepatan dengan hari pasaran. Saat kejadian, korban sedang menunggu istrinya yang berbelanja di pasar. Pelaku membacok korban dari belakang. Sabetan pisaunya mengenai kepala korban yang hingga jatuh telentang.

Kemudian, pelaku membacok lagi, tapi ditepis dengan kaki kirinya. Pelaku kembali berupaya membacok korban, namun ditangkis dengan kaki kanan korban. Korban sempat melawan saat terjadi pembacokan. ”Masyarakat yang berada di lokasi tidak berani melerai. Mereka berhamburan lari,” terangnya.

Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka sobek di jempol kiri dan telapak kaki kiri dan kanannya. Di kepala kanan bagian belakang juga terluka. Di punggung kiri juga terluka kena bacokan.

Setelah kejadian itu, Hafid menyerahkan diri ke mapolsek setempat. Barang bukti (BB) yang diamankan polisi sebilah pisau. Sedangkan korban dibawa ke puskesmas.

”Awalnya cekcok mulut yang menyebabkan adanya ketersinggungan. Kami masih mendalami motif penganiayaan itu,” terang Kapolres Pamekasan AKBP Teguh Wibowo.

Sebelumnya, Sahri dan Makruf terlibat perkelahian pada Minggu (21/4). Peristiwa itu disebut-sebut karena masalah dukung-mendukung pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Versi lain menyebut terkait kesalahpahaman mengenai uang. (bil)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia