Minggu, 19 May 2019
radarmadura
icon featured
Pamekasan

Pengguna Kontrasepsi Jangka Panjang Minim

26 April 2019, 13: 56: 17 WIB | editor : Abdul Basri

FOKUS: Kabid KB DP3AKB Pamekasan Soerjati membeberkan data akseptor 2019 kemarin.

FOKUS: Kabid KB DP3AKB Pamekasan Soerjati membeberkan data akseptor 2019 kemarin. (ANIS BILLAH/RadarMadura.id)

PAMEKASAN – Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Pamekasan pesimistis bisa mencapai target perkiraan permintaan masyarakat (PPM). Utamanya pengguna metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP). Target MKJP tahun ini 2.184 akseptor.

Kabid KB DP3AKB Pamekasan Soerjati mengatakan, MKJP merupakan alat kontrasepsi untuk menunda kehamilan dan menghentikan kesuburan dengan waktu jangka panjang. MKJP digunakan masyarakat yang ingin menunda kehamilan hingga lebih satu tahun.

Kendati demikian, tidak banyak masyarakat yang menggunakan alat kontrasepsi tersebut. Antusias akseptor untuk menggunakan MKJP masih minim. Hal itu yang menjadi factor DP3AKB pesimistis untuk mencapai target yang ditentukan BKKBN Jawa Timur.

”Antusias masyarakat untuk menggunakan MKJP masih kurang. Tidak banyak masyarakat yang menggunakannya. Tahun lalu juga capaiannya tidak seratus persen,” katanya kemarin (25/4).

Soerjati menjelaskan, MKJP terdiri atas intra uterine device (IUD), metode operasi wanita (MOW), metode operasi pria (MOP), dan implan. Alat kontrasepsi tersebut digunakan lebih dari setahun.

Alat kontrasepsi implan bisa digunakan dalam jangka tiga sampai lima tahun. Hingga Maret 2019, tercatat 148 akseptor pengguna. Sementara, IUD bisa digunakan lebih lama, lima hingga delapan tahun. Sebanyak 65 akseptor sudah menggunakan IUD.

Sementara, akseptor pengguna alat kontrasepsi MOW lebih banyak. Hingga saat ini, tercatat 105 akseptor MOW dan 12 untuk MOP. ”Alat kontrasepsi ini bisa digunakan seterusnya,” jelasnya.

Perempuan asal Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan itu optimistis instansinya bisa mengejar target penggunaan kontrasepsi semua metode (SM). Yakni meliputi MKJP dan non-MKJP. Sejauh ini, penggunaan alat kontrasepsi di kota Gerbang Salam lebih didominasi non-MKJP.

Yakni meliputi suntikan, pil, dan kondom. Pemakaian suntikan bisa satu hingga tiga bulan sekali. Sementara alat kontrasepsi dengan pil bisa dikonsumsi setipa hari. ”Kalau kondom hanya dipakai pada saat berhubungan. Sejauh ini akseptor paling banyak menggunakan suntikan. Sejak tiga bulan terakhir penggunanya sudah mencapai 5.504 akseptor,” ungkapnya. (bil)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia