Jumat, 24 May 2019
radarmadura
icon featured
Features

Ini Dia Santri LPI Al-Majidiyah, Juara Nasional Bahasa Mandarin

24 April 2019, 14: 38: 10 WIB | editor : Abdul Basri

MEMBANGGAKAN: Moh. Amirul Islam (tengah) menunjukkan piala dan sertifikat didampingi Manajer Bahasa Mandarin Yusril Huda (kanan) dan Iswandi di LPI Al-Majidiyah Pamekasan kemarin.

MEMBANGGAKAN: Moh. Amirul Islam (tengah) menunjukkan piala dan sertifikat didampingi Manajer Bahasa Mandarin Yusril Huda (kanan) dan Iswandi di LPI Al-Majidiyah Pamekasan kemarin. (MOH. ALI MUHSIN/RadarMadura.id)

Santri tidak hanya belajar bahasa Arab. Bahkan, berkat semangat dan ketekunan belajarnya bisa meraih prestasi. Namun, bisa baca kitab kuning tetap jadi fokus utama.

MOH. ALI MUHSIN, Pamekasan

PULUHAN mobil yang dikawal polisi beriring-iringan Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Al-Majidiyah. Pondok pesantren ini beralamat di Dusun Palduding, Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan. Kendaraan-kendaraan itu bergerak dari Kecamatan Camplong, Sampang.

BANGGA: Moh. Amirul Islam (dua dari kiri) bersama dengan pengurus LPI Al-Majidiyah.

BANGGA: Moh. Amirul Islam (dua dari kiri) bersama dengan pengurus LPI Al-Majidiyah. (YUSRIL HUDA FOR RadarMadura.id)

Mobil tersebut menyambut kedatangan Moh. Amirul Islam. Dia baru menjuarai kompetisi bahasa Mandarin tingkat nasional. Pada lomba Chinese Bridge antar SMA di Jakarta pada 19–20 April itu, dia berhasil meraih juara pertama.

Pemuda 18 tahun asal Sumenep itu disambut secara khusus oleh pengurus dan santri. Salawat dan kalimat-kalimat toyyibah menggema setelah pemuda kelahiran Juli 2001 tersebut turun dari mobil. Sejumlah santri dan guru secara bergiliran mengucapkan selamat atas prestasi yang diraihnya.

Usai penyambutan, RadarMadura.id secara khusus berbincang-bincang dengan Rolis –sapaan Moh. Amirul Islam. Dengan wajah semringah, dia menceritakan awal mula belajar bahasa Mandarin.

”Awalnya saya tidak tertarik. Karena teman-teman banyak yang fasih berkomunikasi bahasa Mandarin, saya tertarik. Apalagi mereka juga banyak yang berprestasi,” ujar santri kelas III SMA ini di depan pondoknya.

Moh. Amirul Islam belajar Mandarin sejak kelas II SMA. Dia merupakan angkatan kedua setelah ponpes di sebelah barat IAI Al-Khairat tersebut membuka program bahasa Mandarin. Setiap hari diharuskan menghafal kosakata dan tulisan Mandarin.

Awalnya dia sulit menghafal kosakata dan tulisan bahasa Mandarin. Bakan pernah berpidato menggunakan bahasa Mandarin di depan pangasuh. Pidato bahasa asing itu dilakukan karena disanksi. Sebab, dia tidak menyetor hafalan kosakata dan tidak berkomunikasi bahasa Mandarin.

”Setelah mendapatkan sanksi, saya termotivasi untuk semakin giat belajar,” terang siswa yang memiliki nama Tiongkok Zhang Jun ini.

Dia pernah mengikuti program khusus bahasa Mandarin selama tiga bulan. Setelah itu tetap belajar dua kali sepekan. ”Kami tetap mengikuti pembelajaran bahasa Mandarin melanjutkan materi lanjutan setelah program tiga bulan itu,” ujar putra pasangan Iswandi dan Siti Hosniyah ini.

Pada 2018, dia mencoba mengikuti festival bahasa Mandarin di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Moh. Amirul Islam sukses meraih juara pertama. Maret 2019 dia mengikuti kompetisi bahasa Mandarin antar SMA tingkat Jawa Timur. Pada lomba tersebut, dia terpilih sebagai juara tiga.

Dia berhak mendapatkan tiket mengikuti lomba yang sama di tingkat nasional. Lulusan MTs Mambaul Ulum Bata-Bata (Muba) ini semakin giat belajar. Usahanya membuahkan hasil. Dia berhasil menyingkirkan puluhan peserta lain dari berbagai provinsi. Panitia memutuskan Rolis sebagai juara pertama.

Ada empat jenis yang dilombakan pada kompetisi tersebut. Yaitu, tes tulis, pidato, tanya jawab, dan penampilan budaya Tiongkok. Nilai dari masing-masing jenis itu disatukan.

Tema pidato yang diambil adalah kisah dirinya dalam bahasa Mandarin. Inti isi pidato itu mengisahkan perjalanannya belajar bahasa Mandarin. Kemudan tes tulis ada seratus soal yang harus diisi selama satu jam.

Pada penampilan budaya Tiongkok, dia mengantraksikan dua penampilan. Kuaiban dan ruyung dua duable stik. Dia berlatih secara otodidik dengan melihat di video budaya Tiongkok. Dia belajar sekitar setengah bulan sebelum lomba dimulai.

”Saya senang karena bisa membawa harum almamater, menyenangkan guru, orang tua, dan Jatim,” terangnya. Dengan prestasi tersebut, dia berhak mewakili Indonesia pada ajang lomba yang sama tingkat internasional di Tiongkok pada Oktober mendatang. ”Mohon sambung doa kepada orang tua, guru, dan masyarakat agar saya bisa mengharumkan Indonesia,” harapnya.

Manajer Bahasa Mandarin Yusril Huda menjelaskan, di LPI Al-Majidiyah memang ada pembelajaran khusus bahasa Mandarin. Santri baru yang sudah masuk kriteria difokuskan belajar bahasa ini selama tiga bulan. Setelah itu, kemampuannya dites untuk mendapatkan sertifikat.

”Kalau santri sudah belajar akselerasi kitab usul, boleh belajar Mandarin. Kalau belum tidak boleh karena di sini santri difokuskan bisa baca kitab kuning dulu,” terangnya.

Meski sudah lulus mengikuti program khusus, mereka tetap diharuskan belajar bahasa Mandarin. Selama seminggu bisa dua hingga tiga kali pertemuan. ”Buku panduannya sudah ada. Bahkan buku pegangan untuk mahasiswa sudah mereka pelajari juga,” terangnya.

Setiap hari mereka yang mengikuti program bahasa Mandarin diwajibkan menghafal lima kosakata dan tulisan Tiongkok setiap hari. Kosakata yang dihafalkan sudah ditentukan tim pengembangan bahasa di pesantren. ”Kosakata yang dihafal sama. Sebab, ditulis di papan oleh tim kebahasaan,” terangnya.

Jika ada santri yang tidak hafal, tahap pertama diberi teguran. Tahap kedua disanksi berdiri di depan pengasuh sembari berpidato dengan bahasa Mandarin. ”Pengasuh sembari memberikan motivasi,” terangnya.

Amirul Islam akan dipersiapkan secara khusus agar sukses di tingkat internasional mewakili Indonesia di Tiongkok. Tentunya dengan mengasah kemampuan santri tersebut. ”Semoga Amirul Islam bisa memberikan yang terbaik untuk Indonesia,” harap Yusril.

Sementara Iswandi mengaku senang anaknya berprestasi. Dia mengucapkan terima kasih kepada pengasuh dan guru di LPI Al-Majidiyah. ”Ini menandakan, dia memang benar-benar belajar di pondok,” kata warga Desa Bantelan, Kecamatan Batuputih, Sumenep, itu.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia