Kamis, 17 Oct 2019
radarmadura
icon featured
Features

Menelusuri Jejak Lintasan Kereta Api di Kecamatan Pragaan

Stasiun Berganti Pertokoan, Jalur Melintasi B

17 April 2019, 12: 51: 46 WIB | editor : Abdul Basri

BERSEJARAH: Warga berada di salah satu jembatan yang pernah dilalui lintasan kereta api zaman dahulu di Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Sumenep, beberapa waktu lalu.

BERSEJARAH: Warga berada di salah satu jembatan yang pernah dilalui lintasan kereta api zaman dahulu di Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Sumenep, beberapa waktu lalu. (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

Share this      

Jejak lintasan kereta api juga ditemukan di Kecamatan Pragaan. PT Kereta Api Indonesia (KAI) juga sudah menginventarisasi aset di daerah tersebut pada 2018.

BADRI STIAWAN, Sumenep

PENELUSURAN jejak lintasan kereta api di Sumenep berlanjut ke Kecamatan Pragaan, Sumenep. Penelusuran dimulai dari Desa Karduluk. Di Desa yang terkenal dengan Desa Ukir ini masih terdapat sisa bangunan lintasan sepur.

DIINVENTARISASI: Salah satu patok jalur kereta api dari PT KAI yang berada di Desa Prenduan, Kecamatan Pragaan, Sumenep.

DIINVENTARISASI: Salah satu patok jalur kereta api dari PT KAI yang berada di Desa Prenduan, Kecamatan Pragaan, Sumenep. (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

Sama dengan pencarian sebelumnya, Radar Madura harus melewati jalanan yang menantang. Dari jalan beraspal, melewati halaman rumah warga, jalan setapak, hingga sampai di jalan yang tidak bisa dilalui motor. Jadi, kami harus menitipkan kendaraan di salah satu rumah warga setempat.

Kemudian penelusuran dilanjutkan dengan berjalan kaki. Kondisi jalan yang curam dan berbatu menuntut lebih berhati-hati. Selain itu, rimbun. Menerobos jalan semak belukar. Hingga akhirnya sampai di bibir pantai Desa Karduluk. Sajian pemandangan alam di wilayah ini cukup eksotis.

Berjalan di pantai berbatu, akhirnya kami menemukan bangunan bekas lintasan kereta api. Sekitar 100 meter dari tempat kami menitipkan motor. Bangunan tersebut sama dengan yang kami temukan sebelumnya di Desa Kebundadap Timur, Kecamatan Saronggi. Jembatan lintasan sepur menyerupai terowongan.

Tapi, jembatan ini berukuran lebih besar. Lebarnya sekitar 5 meter dan tinggi bangunan sekitar 4 meter. Tinggi lubang terowongan sekitar 2 meter. Muat untuk orang berjalan. Tidak seperti terowongan jembatan lintasan kereta api di Desa Kebundadap. Untuk memasukinya harus berjalan membungkuk.

Bangunan jembatan ini semakin memperkuat bukti jika dahulunya Sumenep juga dilalui transportasi masal berupa kereta api. Usai menemukan bangunan peninggalan sejarah yang dicari, kami kembali ke tempat motor diparkir.

Di rumah itu, kami juga sempat berbincang dengan Munahro. Di depan rumahnya, dahulu juga diceritakan menjadi tempat lintasan rel kereta api, tepatnya sebelum Indonesia merdeka.

”Dulunya diceritakan relnya sudah diambil. Tapi, jalurnya memang di depan sini. Lewat pinggir laut,” ungkap dia.

Tidak heran jika warga di desa ini mengenal daerah tersebut dengan sebutan sepuran (jalur sepur). Namun, di daerah ini jalur lintasan kereta api sudah banyak berganti jalan pedesaan. Sepengetahuannya, jalur tersebut juga ada di Desa Prenduan.

”Jalurnya ke Prenduan. Ada sisa jembatan lintasan kereta api juga di Desa Aeng Panas. Di jalur ini memang lebih banyak melintasi bibir pantai,” ujar pria 56 tahun itu Minggu (31/3).

Hanya segelintir informasi yang bisa disampaikan. Sebab, tidak ada warga yang tahu pasti sejak kapan lintasan tersebut digunakan dan berhenti beroperasi. Pria kelahiran 1963 itu mengaku hanya mendapat cerita dari orang-orang terdahulu.

Namun, para sesepuh di desanya yang tahu tentang sejarah lintasan kereta api tersebut kebanyakan telah meninggal. ”Yang tahu dulu ada kereta api lewat sini sudah meninggal. Jadi, tidak tahu pasti. Hanya cerita-cerita orang dulu,” ujar Munahro.

Setelah itu, kami berpamitan. Di Jalan Raya Pragaan, tepatnya di gang selatan Masjid Baitus Shabirin Prenduan, terdapat patok PT Kereta Api Indonesia (KAI). Menurut Kholis, warga yang memiliki rumah di sekitar masjid, jalur sepur dahulunya memang di sisi selatan jalan raya. Sekitar empat bulan lalu ada pengukuran dari PT KAI.

”Ada patoknya dari PT KAI. Tahun 2018. Memang ini jalur yang melintasi Karduluk juga,” katanya.

Bahkan, di daerah ini dahulu juga berdiri stasiun kereta api. Tak heran, plakat di Masjid Baitus Shabirin juga terdapat tulisan Stasiun Prenduan. Hanya, bangunan stasiun sudah hilang. Tergantikan bangunan pertokoan. ”Stasiunnya di sekitar sini juga, tapi sudah dibongkar. Ganti bangunan lain, jadi toko,” ucapnya.

PT KAI Daerah Operasi VIII Surabaya pernah mengeluarkan surat bernomor KA.302/I/2/DO.8.2018. Surat itu ditujukan kepada kepala Desa Karduluk. Isinya perihal inventarisasi dan penyertifikatan aset PT KAI (Persero) tertanggal 19 Januari 2018.

Dalam surat tersebut ada beberapa poin. Di antaranya, validasi aset tanah PT KAI yang berada di Kabupaten Sumenep dan Pamekasan. Surat tersebut juga tertera 69 instansi yang diberi surat tembusan. Misalnya, Polres Sumenep, Kodim 0827, kelurahan/desa, koramil, polsek, dan camat di setiap wilayah yang dahulunya dilintasi jalur kereta api.

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia