Sabtu, 07 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Sampang

Pasangan Ini Nekat Melanjutkan Pernikahan Meski Tergenang Banjir

Reni: Semoga Menjadi Berkah

15 April 2019, 01: 56: 54 WIB | editor : Abdul Basri

TAK KAN LUPA: Pasangan pengantin Bambang Yuda Harmoko dan Reni Faradila Sari berada di kursi pelaminan yang tergenang banjir di Sampang kemarin.

TAK KAN LUPA: Pasangan pengantin Bambang Yuda Harmoko dan Reni Faradila Sari berada di kursi pelaminan yang tergenang banjir di Sampang kemarin.

Share this      

UNDANGAN pernikahan Bambang dan Reni telah disebar. Tenda dan pelaminan sudah berdiri. Hidangan untuk undangan juga sudah siap. Namun, tempat ijab kabul dan resepsi pernikahan mereka tergenang banjir. Meski hanya setinggi mata kaki, genangan membuat acara pernikahan sedikit terkendala.

Janji suci pasangan Bambang Yuda Harmoko dan Reni Faradila Sari itu berlangsung kemarin (14/4). Bertempat di Jalan Garuda, Kelurahan Gunung Sekar, Kecamatan Kota Sampang. Momen heboh terjadi saat Bambang menggendong Reni menuju pelaminan untuk melewati genangan air.

Tamu undangan yang hadir langsung bertepuk tangan. Kedua mempelai terlihat sangat bahagia duduk di kursi bagai raja dan ratu.

Moh. Shaleh menuturkan, pernikahan putri sulungnya itu berjalan lancar dan khidmat. Dia tidak mengira bahwa banjir akan terjadi. Sebab, beberapa hari ini cuaca di Sampang cerah dan jarang turun hujan.

Sekitar 400 tamu undangan yang hadir, baik warga setempat maupun keluarga mempelai pria. Mereka duduk di kursi yang sudah disediakan dan mengikuti acara sampai selesai, meski kaki mereka basah. ”Alhamdulillah, meski dalam kondisi banjir, acara pernikahan anak kami berjalan lancar,” ucapnya.

Sementara Reni tetap bersyukur meski acara pernikahan dilanda banjir. Momen tersebut tak akan pernah terlupakan sepanjang hidup. ”Semoga banjir ini menjadi berkah bagi kehidupan saya dan suami. Semoga menjadi pasangan suami istri yang sakinah, mawadah, wa rahmah,” harap Reni.

Resepsi pernikahan juga berlangsung di Jalan Teuku Umar. Sepasang kekasih Muh. Fiki, 27, dan Nur Hasanah, 22, berkomitmen hidup berumah tangga. Meski tidak tergenang banjir, tempat undangan sempat pindah tiga kali.

Banjir tersebut terjadi karena Kali Kamoning meluap. Akibatnya, empat kelurahan di Kecamatan Kota Sampang terendam. Yakni, Kelurahan Rongtengah, Dalpenang, Gunung Sekar, dan Polagan. Ketinggian terparah di Jalan Bahagia, Cempaka, Melati, dan Mawar. Puluhan rumah warga di Kelurahan Dalpenang itu tergenang hingga 75 sentimeter.

Banjir mengakibatkan aktivitas perekonomian warga lumpuh. Puluhan pusat perbelanjaan atau toko di Jalan Bahagia dan sekitar Monumen Trunojoyo tutup. Sejumlah kendaraan mogok karena terjebak banjir.

Abdul Wahid, warga Jalan Panglima Sudirman, Kelurahan Dalpenang menuturkan, air mulai masuk ke permukiman pada Minggu sekitar pukul 03.00.  ”Setiap tahun di sini memang lokasi langganan air. Karena berada tidak jauh dari aliran sungai,” tuturnya.

Menurut pria 45 tahun itu, banjir tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Air dari Kali Kamoning lebih cepat masuk di permukiman. Bahkan, aliran air juga cukup deras. Padahal, pemerintah telah membangun sheet pile dan memperlebar gorong-gorong.

”Sampai sekarang tidak ada pintu pembuangan air di lokasi terdampak banjir. Sehingga, air sungai yang masuk ke rumah warga tidak bisa dibuang dan harus menunggu banjir surut,” katanya.

Dia berharap, di era kepemimpinan Bupati Slamet Junaidi dan Wabup Abdullah Hidayat bisa menuntaskan permasalahan banjir. Pencegahan dan penanganan terhadap bencana bisa lebih dimaksimalkan. ”Banjir itu sangat meresahkan dan menambah beban masyarakat,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Ansori, warga Jalan Seruni, Kelurahan Dalpenang. Dia tidak bisa bekerja lantaran bengkel motor miliknya terendam. Pria 32 tahun itu berharap pemkab mempunyai langkah konkret menangani banjir.

Kepala BPBD Sampang Anang Djoenaedi mengatakan, banjir terjadi karena beberapa hari ini intensitas hujan di Kecamatan Kedungdung dan Karang Penang cukup tinggi. Banjir kali ini lebih rendah dibandingkan yang terjadi pada Januari lalu. Pembangunan tebing sungai atau sheet pile dan normalisasi Kali Kamoning berdampak signifikan terhadap penurunan debit air hingga 60 persen.

Kepala Dinsos Sampang Moh. Amiruddin mengaku sudah mendirikan satu dapur umum untuk membantu warga terdampak banjir. Dapur umum menyediakan bantuan dua ribu nasi bungkus. ”Kasihan warga tidak bisa memasak,” tukasnya.

(mr/nal/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia