Selasa, 16 Jul 2019
radarmadura
icon featured
Resensi

Agitasi: Religius dan Romantik

15 April 2019, 01: 34: 58 WIB | editor : Abdul Basri

Agitasi: Religius dan Romantik

Share this      

PERTAMA membaca judul buku ini saya menduga tema-tema di dalamnya syarat dengan cinta, rindu, dan sesuatu yang melankolis bahkan mungkin tragis. Hal itu tidak lepas dari pandangan saya terhadap latar belakang usia si penyair yang masih remaja. Tetapi dugaan saya salah.

Buku yang menghimpun 59 puisi ini justru hadir dengan tema-tema khas penyair-penyair Madura; religius dan lokal. Saya tidak heran, mengingat tema-tema itu seolah mendarah daging bagi penyair-penyair Madura. Apalagi proses kreatif Mohammad Ali Tsabit tumbuh dalam lingkungan sosial-budaya pesantren, Annuqayah (Sumenep) dan Pesantren Kutub (Jogjakarta), ditambah lagi kuliah di jurusan studi agama-agama.

Dari sana Agitasi pada Sebuah Pagi menemukan pijakan ide dan medan penciptaannya (creativity). Pun sebaliknya menjadi jembatan bagi pembaca untuk memasuki teks-teks puisi dalam buku ini. Seperti kata Schleiermacher, filsuf Jerman (17681834): hanya dengan memahami kejiwaan pengarang teks, keterkaitan keduanya —teks dan lingkungan ketika itu— bisa dipahami.

Agitasi Religius

Agitasi memiliki makna hasutan kepada orang-orang (untuk mengadakan huru-hara, pemberontakan, dan sebagainya). Sedang religius merupakan sifat dari religi atau bersifat keagamaan. Setidaknya, itu makna literer yang sederhana dari kedua kata tersebut.

Beberapa puisi Mohammad Ali Tsabit tampil dengan mencoba merespons isu-isu SARA yang terjadi belakangan dalam realitas keberagamaan kita hari ini. Di mana banyak lahir isu-isu sensitif yang mengusik kedamaian umat beragama. Kita lihat misalnya dalam puisi di bawah ini:

Agitasi pada Sebuah Pagi

 

Mikrofon di atap masjid kita pecah

—aku tak mengatakan Tuhan marah

Galib. Embun jatuh ke ubun-ubun

tapi apakah kita masih ingin pergi ke kebun

menandur doa-doa?

atau menciptakan jejak ke utara

menempuh jalan yang tak ada dalam peta?

Oi. Ada yang memekik dalam kepala

menjelma taifun sebelum hujan turun

mendung akal kita tertelan lumpur

Kesadaran adalah kitab suci

yang kita pungut dari laci almari

demi air mata kekasih

Mikrofon di atap masjid kita pecah

—aku tak mengatakan Tuhan marah

Puisi di atas mengingatkan saya pada kasus Meliana beberapa waktu lalu yang meringkuk di penjara karena persoalan toa dan azan.

Mohammad Ali Tsabit terlihat kritis dalam mengeksplor persoalan-persoalan yang berbau sosial-keagamaan. Kemudian kita kenal dalam narasi bernama politik identitas. Maka ...Kesadaran adalah kitab suci//yang kita pungut dari laci almari//demi air mata kekasih// pada larik inilah si penyair meng-agitasi kita pada ruang-ruang religius, seperti dengan tegas M. Reville menyebut “agama sebagai daya penentu kehidupan manusia, yaitu suatu ikatan yang menata pikiran manusia dengan nalar misterius, yang mengungkap dunia dan individu yang ia sadari dan dengan hal-hal yang menimbulkan ketenteraman”, bukan, ...kepungan perang saudara... (Di Ranjang Kesedihanku, hlm. 49).

Agitasi Melankolik

Dalam Agitasi pada Sebuah Pagi ini, Mohammad Ali Tsabit juga menghadirkan tema-tema lokal. Sebagaimana para penyair Madura dari generasi sebelumnya hingga hari ini. Lokalitas selalu tampil dominan dan itu sulit untuk dipisahkan. Pun alam dan mitos-mitos yang berkembang dan terpelihara hingga hari ini menjadi sentral dalam garapan teks-teks puisinya. Kita lihat petikan larik puisi Mohammad Ali Tsabit di bawah ini:

Kultus

 

/Pandhaba Macan/

Dalam dirimu terdapat gua: lorong rahasia yang purba

di mana usia berjalan pelan menjauh dari hari kelahiran

Kaulah pandhaba macan, sulung sekaligus bungsu

yang mencecap puting susuku; taman bunga bagi sedu-sedanku

....

/Pandhaba Tanganteng/

Kitalah pandhaba tanganteng, berasal dari serbuk bunga yang sama

berkeloneng bagai lonceng. Barangkali kita juga

ibarat sepasang sapi lotreng berlenggak-lenggok menuju saketheng

....

Kita pun melenggang menanggalkan halaman

mengantarkan doa-doa ke tapal batas jalan

Dalam kasus penyair-penyair muda Madura, diksi lokal kerap muncul dalam puisi-puisi yang ditulisnya. Tetapi,  sering kali berada pada posisi yang kurang tepat. Diksi lokal sering dihadirkan hanya sebagai bentuk licentia poetica, justru dalam hal itulah ia seakan menjadi sekadar perayaan dan penanda saja.

Berbeda dalam puisi di atas, beberapa kosakata Madura, memang terasa penting ditulis. Selain sebagai simbol, ia juga menjadi semacam kata kunci (keyword) untuk memasuki puisi berjudul Kultus itu.

Selanjutnya kita baca:

Elegi Bukit Rantani

 

Pada petak-petak tanah ini

rasa cemas kami tumbuh

terus tumbuh mengarit

tembakau, jagung dan padi-padi,

melinggis duka

dasar hati

....

Hendak kami ceritakan pada kalian:

anak-anak kami yang memakai sepatu

kemeja, serta dasi —kabarnya— telah

mengunjungi berbagai negeri

dan di matanya kampung halaman

menjelma ngarai dan rumah kutukan

....

Kami dengar suara ranting patah

di pancak bukit rantani seperti

keretap tulang keropos kami

tapi di petak-petak tanah ini

tak ada lagi yang bisa kami gali

dan tanami, kecuali

kecemasan dan usia kesedihan

yang tak terbaca oleh siapa-siapa

Sejak Abad Pencerahan dideklarasikan, di mana revolusi industri adalah salah satu produknya —dengan menjadikan sains— sebagai kendaraan dan cara pandang yang otoritatif, paling berharga dan meniadakan cara pandang yang lain. Manusia seolah tercerabut dari akar kebudayaan dan identitas lokal yang melingkupinya. Sebagaimana kaum romantik beberapa abad silam percaya bahwa kini manusia menjadi rakus dan tamak sehingga terjadi kerusakan dan penghancuran besar-besaran bagi keberlangsungan baik itu alam maupun manusianya sendiri.

Dan puisi di atas meski terlihat sebagai sebuah kecemasan dan rasa kehilangan terhadap hidup yang hilang kedamaian dan kebersahajaannya, secara tak sadar juga hendak mengajak kembali pada segala kehidupan yang alamiah. Sebab ”for us, to exist is to feel”, ungkap JJ. Rousseau, filsuf yang dengan penuh percaya diri mengungkapkan ajakan romantiknya, ”retour a la nature” untuk menghindar dari kehancuran total ...di mana asin lautmu yang membuihkan mutiara//adalah makam tempat nasib berlayar//mengantarku ke masa depan//  (Madura, hlm 64).

Membaca puisi-puisi dalam Agitasi pada Sebuah Pagi ini juga berlaku untuk membaca peristiwa di sekeliling kita.

MANIRO AF

Fans berat (pake banget) Dian Sastrowardoyo dan Barcelona. Selain menulis, gemar nonton karapan sapi.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia