Rabu, 18 Sep 2019
radarmadura
icon featured
Features

Mengunjungi Kampung Kelir yang Dipermak Pramuka

Suasana Jadi Cerah, Bawaannya Ceria Terus

14 April 2019, 15: 58: 13 WIB | editor : Abdul Basri

INDAH: Sainah, Misna, dan warga lain berada di rumahnya di Dusun Asta, Kelurahan Bugih, Kecamatan Kota Pamekasan, Sabtu (6/4).

INDAH: Sainah, Misna, dan warga lain berada di rumahnya di Dusun Asta, Kelurahan Bugih, Kecamatan Kota Pamekasan, Sabtu (6/4). (PRENGKI WIRANANDA/RadarMadura.id)

Share this      

Dusun Asta, Kelurahan Bugih sangat indah. Ratusan rumah di dusun tersebut terlihat cerah dengan beragam warna.

PRENGKI WIRANANDA, Pamekasan

PEREMPUAN berbadan bongsor mengendarai motor bebek di Dusun Asta, Kelurahan Bugih, Kecamatan Kota Pamekasan. Dia menyapa satu per satu warga yang ada di gang sempit itu, Sabtu (6/4).

Sementara di ujung jalan paving, terlihat ibu-ibu dengan rambut sebahu menjemur pakaian. Kemudian, dia kembali ke rumahnya meneruskan aktivitas paginya. Memasak makanan untuk keluarga.

Saya merasakan aura berbeda di kampung kelir itu. Suasana saat sekarang lebih cerah dan lebih indah dibanding awal 2019 lalu. Maklum, seratus rumah penduduk dipermak dengan cat beragam warna oleh pramuka penegak beberapa waktu lalu.

Suasana cerah nan riang juga dirasakan warga sekitar. Saya ini menemui perempuan yang menjemur pakaian tadi. Dia adalah Sainah, 39. Koran terbesar di Madura itu juga ditemui Misna, 40.

Sainah mengatakan, suasana di kampung kelir itu sangat berbeda. Sebelum dicat oleh pramuka penegak, kondisinya suram. Seperti kampung pada umumnya. Tetapi setelah dicat, suasana lebih cerah.

Kecerahan itu berimbas pada suasana hati warga yang tinggal di kompleks tersebut. Berbagai warna yang menempel di dinding dan genting rumah warga menjadi magnet membuat orang terus tersenyum. ”Bawaannya ceria terus,” katanya.

Suasana kampung menjadi lebih bersih dan indah. Warga dengan sendirinya merawat kebersihan lingkungan. Sebab, jika ada rumah dengan tumpukan sampah, akan sangat berbeda dibanding rumah lain. ”Sangat mencolok kalau kumuh,” sergahnya.

Sainah merasakan perbedaan dalam kehidupan bersosial setelah rumah itu dicat berbagai warga. Masyarakat lebih riang dan seperti lebih bersahabat. Dengan demikian, dia bersyukur dusun tersebut menjadi objek pengecatan pramuka penegak beberapa waktu lalu.

Misna juga merasakan perbedaan signifikan dari sebelum dan sesudah dicat. Selain suasana lebih cerah dan riang, banyak warga luar Kelurahan Bugih berkunjung ke dusun tersebut.

Tujuannya beragam. Mulai berziarah ke Asta Panembahan Mangkuadiningrat atau sekadar selfie. Kampung kelir itu menjadi magnet warga berkunjung. Pendapatan warga sekitar yang mendirikan usaha kecil-kecilan meningkat.

Warga sekitar memanfaatkan banyaknya pengunjung itu dengan berjualan. Berbagai produk makanan ringan seperti pentol, es, dan gorengan dijual. ”Sangat laku karena banyak orang berkunjung,” katanya.

Pengecatan itu juga bermanfaat bagi warga. Menjelang Ramadan dan hari raya, tidak perlu mengeluarkan biaya mengecat rumah. Dia berharap, pengecatan itu dilaksanakan secara kontinu setiap tahun.

Dengan demikian, keindahan dan keasrian kampung kelir itu bisa lestari. Jika dipasrahkan kepada warga, kemungkinan merawat secara bersamaan sangat kecil. ”Kalau bisa setiap tahun dicat, kami tambah senang,” katanya lalu tersenyum.

Waka Binamuda dan Saka Kwarda Jatim Hariadi Purwanto mengatakan, pengecatan seratus rumah pada acara Festival Wirakarya Kampung Kelir Pramuka (FWKKP) 2019 itu diharapkan bermanfaat bagi masyarakat.

Selain membuat lingkungan lebih indah dan bersih, diharapkan menjadi destinasi wisata baru. Kemudian, keindahan itu diadopsi kampung lain. ”Kami berharap masyarakat merawat kebersihan dan pengecatan itu,” tandasnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia