Jumat, 19 Apr 2019
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal
Tegaskan Video Terpotong

Pengakuan Triyono, Perekam Kapolsekta Pamekasan

13 April 2019, 15: 58: 57 WIB | editor : Abdul Basri

SEDERHANA: Triyono menunjukkan HP yang ditukar oleh anggota Kapolsekta Pamekasan kemarin.

SEDERHANA: Triyono menunjukkan HP yang ditukar oleh anggota Kapolsekta Pamekasan kemarin. (ANIS BILLAH/RadarMadura.id)

PAMEKASAN – Triyono tak pernah menyangka rekaman video yang diambilnya akan berbuntut panjang. Dia tidak punya niat video itu akan disebarluaskan. Apalagi membuat nama Kapolsekta Pamekasan AKP Puryanto dilaporkan ke Bawaslu terkait dugaan pelanggaran pemilu.

Sekitar pukul 05.35 RadarMadura.id tiba di rumah Triyono di gang IV Kelurahan Kangenan, Kecamatan Kota Pamekasan. Sekitar 200 meter dari jalan raya terdapat rumah berdinding kuning. Dari kejauhan Triyono duduk santai di teras rumah sambil memperhatikan burung peliharaannya yang sedang dijemur.

Di halamannya ada sangkar berisi lovebird. Satu sangkar yang lain dijemur di pinggir jalan. Sesekali dia menoleh ke burungnya khawatir disambar kucing. ”Kalau yang di pinggir jalan itu sudah sering ikut lomba. Terakhir tahun kemarin, kalau tidak salah sekitar bulan sebelas. Sudah sering juga jadi juara. Di Surabaya pernah, Sumenep juga pernah juara,” ucapnya mengawali pembicaraan.

Setelah basa-basi, Triyono mulai menceritakan awal perekaman video Kapolsek Kota Pamekasan AKP Puryanto. Yakni, video yang menyeret namanya dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) karena diduga melanggar pemilu. Sebab, video tersebut dinilai mengandung unsur kampaye.

Bapak satu anak itu mengaku menghadiri acara pengenalan Kapolsek yang baru dipindah sejak Januari lalu. Di samping itu, pada kegiatan yang digelar di kantor Kelurahan Kangenan tersebut diselingi sosialisasi pemilu damai. Triyono hadir sebagai anggota PPS di TPS IV Kelurahan Kangenan.

Pada saat Kapolsekta AKP Puryanto mengisi sosialisasi, dia merasa kesulitan memahami materi yang disampaikan. Sebab, bahasa yang digunakan campuran bahasa Indonesia dengan bahasa Madura halus. Akhirnya, Triyono mulai merekam menggunakan video dari handphone (HP).

”Saya merekam video bukan sejak awal acara dimulai. Waktu itu video yang direkam sekitar 4 menit. Sebab, kalau direkam dari awal kartu memorinya tidak muat. Dalam durasi 4 menit saja sudah menghabiskan 140 megabyte (MB). Sedangkan HP yang saya gunakan merek Lenovo A100 sekitar beli 2015,” ungkapnya.

Pria asal Klaten, Jawa Tengah, itu membenarkan video yang tersebar terpotong. Video yang tersebar berdurasi 2 menit 12 detik pertama. Sementara sisa potongan video tersebut belum menyebar. Video terpotong karena dikirim ke salah satu temannya melalui WhatsApp (WA). Durasi waktu video tersebut cukup besar sehingga otomatis terpotong.

”Setelah saya pelajari, dari 140 MB kalau terkirim dua kali berarti 70 MB, 70 MB. Itu kalau kita mengirim melalui WA bisanya menjadi 17 MB. Nah, video yang tersebar hanya 2 menit 12 detik. Sedangkan video lengkapnya durasinya sekitar 4 menit,” terangnya.

Triyono menegaskan tidak memiliki maksud tertentu dalam perekaman video tersebut. Dia memastikan bahwa video itu hanya untuk mengetahui pernyataan Kapolsek saat mengisi sosialisasi pemilu damai. Pria yang tinggal di Madura sejak 2005 itu mengklaim tidak pernah menyerbarkan video tersebut, kecuali kepada Faris (teman sesama pencinta burung). ”Waktu itu saya bertanya maksud dari pernyataan Kapolsek dalam video itu. Setelah itu, saya tidak tahu video itu ke mana,” ungkapnya.

Setelah video yang direkamnya itu tersebar, Triyono harus merelakan sebagian nomor kontaknya hilang. Itu karena subscriber identity module (SIM) card HP yang sebelumnya tidak dikembalikan oleh Rahman, anggota Polsek Pamekasan. HP Triyono yang berisi memori serta SIM card ditukar dengan HP Samsung Galaxy J3 produksi 2016.

Pada Rabu (3/4), Triyono ditemui tiga orang yang mengaku dari propam polda. Mereka meminta klarifikasi beredarnya video Kapolsekta. Mereka meminta penjelasan terkait keaslian video tersebut. Selain dirinya, ada beberapa orang lain yang diklarifikasi. ”Kalau tidak salah namanya Bapak Dwi. Mereka pakaiannya biasa, tapi pengakuannya dari propam polda,” terangnya.

Keesokan harinya, dia kedatangan salah seorang anggota Rahman. Rahman meminta HP-nya untuk ditukar dengan HP lain. ”Sampai Pak Haji Rahman itu ngomong, ’wes Sampean milih (HP) apa aja terserah’,” ujarnya.

Setelah itu, Rahman membawa HP Triyono. Sekitar satu jam kemudian, HP pengganti Triyono diantarkan. HP tersebut disertai SIM card baru. ”Jadi, SIM card dan memori saya masih ada di HP yang lama. Bilangnya mau dipakai sendiri,” tuturnya.

Menurut Triyono, ada yang ganjil dari penukaran HP tersebut. Dia meminta agar memori HP-nya dikembalikan. Namun, ternyata isinya sudah kosong. ”Saya kan ngotot memori itu karena banyak file keluarga. Ada foto-foto keluarga, video-video burung saya. Saya ngasih HP karena saya tidak mau ada yang disembunyikan,” ujar Triyono.

Pernyataan Triyono itu belum mendapat tanggapan dari Rahman yang disebut anggota Polsek Pamekasan. Sekitar pukul 10.30 kemarin (12/4) dia tidak ada di kantornya. Triyono juga mengaku tidak punya nomornya karena ada di HP yang lama.

Sebelumnya, Lurah Kangenan Sunarto juga menyampaikan hal serupa. Pihaknya bertemu dengan tiga orang yang mengaku dari propam polda. Mereka mendatangi kantor kelurahan untuk meminta klarifikasi terkait kegiatan yang digelar bersama Kaposekta.

”Kami terkejut dikira ada masalah apa. Akhirnya, kami jelaskan semua mulai dari proses awal kegiatan tersebut digelar hingga selesai,” katanya. (bil)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia