Rabu, 18 Sep 2019
radarmadura
icon featured
Sumenep

Semangat Berjuang di Tengah Keterbatasan

12 April 2019, 14: 04: 59 WIB | editor : Abdul Basri

RIANG: Siswa SDN Sawah Sumur bermain bola di halaman sekolah beberapa waktu lalu.

RIANG: Siswa SDN Sawah Sumur bermain bola di halaman sekolah beberapa waktu lalu. (MUSTAJI/RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Pelaksanaan review aset Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep di Pulau Kangean tidak hanya mendatangi sekolah-sekolah. Ada banyak kegiatan lain yang dilakukan tim review aset.

            Banyak cerita dari kunjungan tim review aset di Pulau Kangean di hari keempat, Kamis (4/4). Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan di siang hari, tim (Hosni, Moh. Hafid, Imam Mawardi, Moh. Rachman, RB. Moh. Syis, dan koran ini) duduk santai sambil ngobrol di base camp. Tepatnya di beranda kantor UPT Disdik Sumenep di Kecamatan Arjasa.

Sementara tiga orang lainya (Mohammad Nur Alamsyah, Rivaldi, dan Sri Ernawati) menemui tamu di ruang tamu. Lalu sampailah pada obrolan mengenai kondisi pendidikan di Arjasa.

Tapi dari cerita-cerita itu, ada kisah perjuangan guru dan murid di Kangean yang berjuang di tengah keterbatasan. Dimulai dari cerita Syis dan Hafid yang harus berjuang berjalan kaki berkilo-kilometer untuk sampai di SDN Sawah Sumur.

Guru di sekolah tersebut melakukan perjalanan hampir setiap hari. Belum lagi ditambah kondisi fasilitas yang minim. Gedung sekolah rusak, ruang kelas kurang memadai, dan fasilitas-fasilitas pendukung lainnya yang tidak ada.

”Hanya ada 12 orang siswa di sana. Kalau saya hitung sepertinya hanya ada tiga siswa yang memakai sepatu, sisanya pakai sandal, bahkan nyeker,” cerita Syis.

”Orang tuanya petani dan nelayan. Rumah-rumah di sekitar sekolah sangat sederhana. Ada yang dinding batu-bata, tapi kebanyakan papan,” sambungnya.

Kemudian, cerita tentang sekolah-sekolah lain yang juga tertinggal. Seperti SDN Cangkramaan dan SDN Saobi 3 yang letaknya jauh dari ingar-bingar kota.

”Mereka berjuang, mereka juga terlihat serius saat belajar. Gurunya pun serius. Memang ada keluhan, tapi saya rasa itu wajar,” ungkap Hafid.

Kondisi tersebut sangat berbeda dengan pendidikan di kota yang memiliki fasilitas yang lebih layak. ”Mungkin kita sendiri harus introspeksi diri. Apakah selama ini kita sudah berjuang seperti mereka yang memiliki fasilitas kurang,” kata Rachman. 

(mr/aji/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia