Rabu, 13 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Pemukul Satpam RSUD Minta Maaf

Mediasi Berlangsung Alot

11 April 2019, 08: 45: 59 WIB | editor : Abdul Basri

SERIUS: Manajemen RSUD Syamrabu Bangkalan saat melakukan mediasi pelaku pemukulan dengan korban kemarin.

SERIUS: Manajemen RSUD Syamrabu Bangkalan saat melakukan mediasi pelaku pemukulan dengan korban kemarin. (DAFIR//RadarMadura.id)

Share this      

BANGKALAN – Laporan pemukulan terhadap satuan pengamanan (satpam) RSUD Syamrabu Bangkalan ke polisi akhirnya dicabut kemarin (10/4). Itu setelah manajemen rumah sakit pelat merah itu memediasi pelaku dengan korban pemukulan.

Aksi pemukulan keluarga pasien terhadap satpam RSUD Syamrabu di depan ruang UGD itu terjadi pada Senin (8/4). Mediasi sangat alot. Pelaku bernama Musfiqon, warga Desa Katol Timur, Kecamatan Kokop, dan korban M. Toha selaku sekuriti.

Aksi pemukulan terekam CCTV RSUD Syamrabu. Pada pukul 09.50, Musfiqon duduk santai sambil main handphone (HP) di depan ruang UGD. Lalu, sekuriti M. Toha menegur Musfiqon untuk pindah. Namun, bukannya pindah, Musfiqon langsung melayangkan pukulan hingga dua kali tepat di pipi kanan dan kiri korban.

Wadir RSUD Syamrabu Bangkalan dr. Farhat Suryaningrat mengatakan, kasus pemukulan terhadap sekuriti RSUD Syamrabu M. Toha sangat tidak manusiawi. Jika masih bisa diselesaikan dengan cara yang santun, semestinya tidak perlu dengan kekerasan.

”Pemicunya, saat satpam kami menegur pelaku untuk pindah, tiba-tiba pelaku langsung memukul seperti yang terekam di CCTV,” kata dia kemarin (10/4).

Farhat menyampaikan, proses mediasi antara M. Toha dan pelaku yang mengaku sebagai keluarga pasien di RSUD Syamrabu juga melibatkan pihak TNI. ”Kebetulan kami ada MoU dengan Kodim 0829 terkait keamanan di RSUD,” terangnya.

Dengan demikian, misalnya pihak Kodim 0829 menempuh jalur hukum, manajemen RSUD Syamrabu mempersilakan. ”Urusan sekuriti rumah sakit itu pembinanya dari pihak kodim. Makanya, kami menyerahkan penuh kepada kodim,” ujarnya.

Adapun M. Toha sendiri, kata Farhat, sudah memaafkan pelaku. Tidak ada masalah. Karena sekarang urusannya bukan dengan manajemen rumah sakit, tetapi dengan Kodim 0829 selaku pembina sekuriti RSUD Syamrabu.

”Kami hanya menyayangkan bisa terjadi hal seperti itu. Mari hargai satu sama lain. Kalau urusan pelayanan kurang baik, mending ditanyakan dulu, sebelum main kekerasan,” sarannya.

Kepala Keamanan RSUD Syamrabu Sertu Budiono selaku pembina sekuriti berharap hal seperti ini tidak terulang kembali. Jika ada yang berkenaan dengan pelayanan, lebih baik dibicarakan baik-baik. Tidak perlu main kekerasan. Sebab, hal tersebut merupakan tindakan kriminal.

”Apalagi peristiwa ini hanya ditegur saja. Karena memang di depan UGD itu tidak diperkenankan ada orang di situ,” jelasnya.

Mengenai jalur hukum, menurut Budiono, hal itu sudah ditempuh. Namun dicabut kembali karena pelaku pemukulan ada iktikad baik. Yakni, menyadari kesalahannya dan tidak mau mengulangi kembali.

”Sekarang kami cabut. Karena pelaku minta maaf dan tidak mau mengulangi lagi,” paparnya.

Sementara itu, Musfiqon mengaku sangat menyesal atas tindakan pemukulan yang dilakukan kepada sekuriti RSUD Syamrabu. Kala itu benar-benar kalut. Sebab, melihat orang tua yang tengah terbaring sakit tidak tega.

”Pikiran berkecamuk. Kaki orang tua saya tidak bisa bergerak. Emosi saya tidak stabil. Saya pusing,” kata dia menyesal.

Lalu, setelah mendapat teguran dari sekuriti RSUD Syamrabu, dia mengaku tambah emosional sehingga terjadilah pemukulan. ”Saya benar-benar minta maaf. Tidak seharusnya saya melakukan itu,” pungkasnya. 

(mr/daf/onk/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia