Rabu, 18 Sep 2019
radarmadura
icon featured
Features
Kerjakan Soal Satu Jam

Putra-Putri Madura Harumkan Indonesia melalui Olimpiade

11 April 2019, 10: 10: 59 WIB | editor : Abdul Basri

HARUMKAN INDONESIA: Najwa Ameera Kurniawan ketika membentangkan bendera Merah Putih usai menerima penghargaan di Thailand beberapa waktu lalu.

HARUMKAN INDONESIA: Najwa Ameera Kurniawan ketika membentangkan bendera Merah Putih usai menerima penghargaan di Thailand beberapa waktu lalu. (SUNAH FOR RadarMadura.id)

Share this      

Proses tidak mengkhianati hasil. Inilah yang memotivasi Najwa Ameera Kurniawan terus semangat belajar. Dia bisa mengharumkan Sampang di kancah internasioal dengan membawa pulang medali perak dari Thailand.

DARUL HAKIM, Sampang

MINGGU (7/4) menjadi hari bersejarah bagi Najwa Ameera Kurniawan. Bocah berusia delapan tahun asal Desa Ketapang Barat, Kecamatan Ketapang, Sampang itu terharu saat membentangkan bendera Merah Putih di atas panggung di HeadStart International School, Phuket, Thailand.

Dia juara dua di ajang Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) 2019. Najwa bisa bersaing dengan siswa perwakilan 21 negara lainnya. Rasa bangga bercampur bahagia menyelimuti siswi kelas II SDN Ketapang Barat 2 saat itu.

Najwa bersyukur bisa mengikuti ajang bergengsi itu. Dia tenang dan senang mengerjakan soal-soal esai yang berjumlah 30 soal. ”Waktunya dua jam. Saya selesaikan dalam waktu satu jam,” ungkap dia kemarin (10/4).

Sebelum berangkat ke Thailand, Najwa meminta doa kepada ibunya agar dipermudah dalam menjawab soal-soal. Dia mengaku kaget ketika dipanggil ke atas panggung dan berada di posisi kedua.

”Bersyukur bisa meraih juara. Tidak sia-sia ikut lomba. Apalagi dibiayai orang tua sendiri,” tuturnya.

”Semoga usaha saya bisa menjadi motivasi bagi teman-teman dan pelajar di Sampang,” harapnya.

Najwa merupakan anak sulung pasangan Moh. Kurniawan, 41, dan Sunah, 43, dari tiga bersaudara. Kepada Jawa Pos Radar Madura Sunah menuturkan, putrinya mengikuti TIMO bukan menjadi perwakilan dari dinas pendidikan (disdik). Jadi segala macam keperluan ditanggung sendiri, mulai dari biaya transportasi dan lain sebagainya.

Meski demikian, pihak keluarga sudah memberitahukan ke disdik tentang keikutsertaan putrinya di jangan TIMO. ”Sumbangsih dari dinas tidak ada. Memang biaya sendiri,” ujarnya saat ditemui JPRM, Selasa (9/4).

Perempuan berhijab itu mengungkapkan, Najwa berangkat ke Thailand bersama ayahnya. Dia tidak menyebut berapa dana yang telah dihabiskan. Menurut dia, ketika generasi bangsa mengikuti perlombaan tidak begitu direspons oleh pemerintah, tetapi ketika meraih juara dibangga-banggakan.

”Kan biasa kalau di Indonesia gitu,” ujarnya lantas tertawa. ”Baru nanti kalau sudah memperoleh medali dari luar diakui,” sambungnya.

Najwa berangkat ke Thailand sejak Kamis (4/4) dan tiba di rumahnya di Ketapang pada Senin malam (8/4). Ketika berangkat ke Thailand, kata Sunah, putrinya sempat bertanya: bagaimana jika tidak juara? Soalnya bertanding di luar negeri. ”Saya jawab saja tidak apa-apa. Ini hanya belajar. Saya bilang gitu,” tuturnya mengenang obrolan bersama putrinya.

Keluarganya memang ingin mengharumkan nama baik Sampang. Juga ingin mengubah image Sampang sebagai daerah tertinggal. ”Tujuan saya seperti itu. Saya tidak ada tendensi apa-apa. Saya nyoba saja, ternyata anak saya mampu dan saya fasilitasi sendiri,” ungkap Sunah menegaskan.

”Intinya saya ingin memotivasi masyarakat Sampang,” imbuhnya.

Sunah bersyukur putri sulungnya bisa meraih juara di tingkat internasional. ”Disdik bilangnya adanya dari OSN (Olimpiade Sains Nasional). Memang OSN ada dana dari pemerintah. Kalau kita menunggu OSN kapan bisa mengukur kemampuan anak?” bebernya.

”Semoga anak saya bisa menjadi penyemangat bagi teman-temannya khususnya, dan bagi pelajar di Sampang pada umumnya,” tuturnya penuh harap.

Di tempat terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SD Disdik Sampang Achmad Mawardi mengatakan, kegiatan olimpiade yang diikuti Najwa bukan kegiatan olimpiade resmi yang dilaksanakan pemerintah dan tidak ada koordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik (Kemendikbud). Maka dari itu, pihaknya tidak memiliki anggaran untuk membiayai.

Dana yang ada di dinas pendidikan hanya untuk kegiatan olimpiade resmi yang dilaksanakan oleh pemerintah berjenjang. Dari tingkat kabupaten sampai nasional ”Misalnya OSN. Seperti tahun 2016 dan 2017 ada siswa kita di jenjang SMP yang lolos olimpiade sampai ke tingkat nasional. Kami bantu biayanya,” terangnya.

Namun demikian, sebagai rasa bangga, pihaknya menyiapkan rewards atau penghargaan yang akan diberikan nanti pada Hari Pendidikan Nasional, Mei 2019, kepada Najwa. ”Tetap bangga kepada anak kita yang memiliki prestasi dan berharap terus berprestasi sehingga menjadi motivasi bagi siswa yang lain,” tutupnya.

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia