Rabu, 18 Sep 2019
radarmadura
icon featured
Resensi

Membuka Topeng Harun Yahya

08 April 2019, 06: 21: 23 WIB | editor : Abdul Basri

Membuka Topeng Harun Yahya

Share this      

TIDAK ada alasan untuk tidak kritis terhadap segala hal. Baik itu suatu karya, tokoh bahkan sampai budaya pun harus kita kritisi. Termasuk juga tulisan yang sedang kalian baca ini, juga perlu untuk dikritisi. Karena tidak semua yang tampak dipermukaan ataupun menjadi sesuatu yang umum merupakan jelmaan dari kebenaran yang merajalela. Adolf Hitler pernah mengatakan, kebohongan yang disampaikan seribu kali, pada akhirnya akan tampak seperti suatu kebenaran.

Bernando J. Sujibto hendak memberikan penerangan terhadap pandangan kita selama ini tentang Harun Yahya yang populer dengan karya-karya spektakulernya. Mungkin sebagian dari kita mengenal Harun Yahya sebatas tokoh yang ahli dalam berbagai disiplin ilmu, khususnya agama dan sains. Tanpa kita sadari bahwa Harun Yahya merupakan nama dari lembaga/organisasi bisnis atau korporasi (enterprise).

Harun Yahya bergerak di bawah kepemimpinan Adnan Oktar. Sedangkan tujuan penamaan Harun Yahya dalam organisasi tersebut ialah sebagai nama pena dari Adnan Oktar untuk membentuk branding dirinya di mata dunia. Hal ini bisa kita lihat dalam karya-karyanya yang mencantumkan biografi penulis, dan memaparkan nama Harun Yahya sebagai nama personal dan nama pena dari penulis. Karya-karyanya bisa diakses di harunyahya.org atau harunyahya.com.

Karya-karya yang diterbitkan atas nama Harun Yahya mencakup pembahasan mengenai agama, sains, akhir zaman, Imam Mahdi, Mustafa Kemal Ataturk, sejarah, politik, dan lain sebagainya. Namun karyanya yang berkaitan dengan sains merupakan yang paling populer di antara karyanya yang lain, sebagaimana tujuan utamanya ialah menentang Teori Evolusi yang dicetuskan oleh Darwin. Adnan Oktar mencoba membuktikan kebenaran Alquran melalui wahana sains sebagai bantahan atas teori evolusi tersebut, dan ini menjadikannya sosok yang dikagumi banyak kalangan, utamanya umat Islam.

Di sisi lain upaya asosiasi sains dengan Alquran tidak selamanya mendapat respons yang baik dari beberapa pihak. Sebagaimana AS. Laksana dalam salah satu esainya menyebutkan, bahwa ”Kitab suci tidak perlu dicari-carikan legitimasinya melalui temuan sains. Sains dan agama memiliki wilayah masing-masing, memiliki karakter yang berbeda. Pernyataan-pernyataan dalam kitab suci bersifat final, tidak akan pernah berubah selamanya. Sementara sains tidak akan pernah mencapai garis final, tidak akan pernah berhenti sampai kapan pun.” Pernyataan tersebut diperkuat dengan logika, ”Jika temuan-temuan sains hari ini, yang digunakan untuk mendukung kebenaran kitab suci, pada suatu hari nanti berubah, apakah berarti pernyataan dalam kitab suci harus ikut berubah juga?”.

Pernyataan tersebut memang terkesan menyudutkan upaya mempertemukan sains dengan Alquran. Walaupun pada taraf tertentu ada benarnya, tapi yang perlu ditanggapi dari hal tersebut, bahwa mencoba membuktikan kebenaran Alquran dengan pendekatan sains ialah upaya untuk membumikan Alquran, agar Alquran tidak terkesan wacana imajinatif yang mengawang-awang, tapi dapat dibuktikan kebenarannya melalui pendekatan sains, dan perlu untuk dipahami bahwa upaya pendekatan tersebut bukanlah bentuk dari meng-idealisasikan kebenaran sains dengan Alquran, tapi sekadar upaya kita untuk taqarrub ilallah sebagai bukti pengabdian kita kepadaNya. yang senantiasa memerintahkan kita untuk berpikir tentang ciptaanNya (la’allakum tatafakkarun).

Namun, upaya Adnan Oktar sangat bertolak belakang dengan upaya membumikan Alquran. Adnan Oktar hanya menjadikan Alquran sebagai alat penarik simpati dunia. Sebagaimana yang dikemukakan Adnan Oktar sendiri ketika diinvestigasi oleh Serdar Sacan (kepala tim penangkapan Adnan Oktar dan jamaahnya) bahwa Adnan Oktar tidak mempunyai tujuan ataupun kepentingan untuk urusan agama (hlm. 63).

Kontroversi lain yang menyelimutinya ialah mengenai karya-karyanya yang sebatas pseudoscience (sesuatu yang tampak seperti ilmiah, padahal tidak ilmiah), sehingga tidak bisa dibuktikan keotentikan ilmiahnya. Di samping itu, jika diukur riwayat pendidikan Adnan Oktar dengan karya-karya yang diterbitkan atas nama dirinya sangatlah tidak realistis. Adnan Oktar tidak mempunyai latar belakang agama mumpuni, karena dia terlahir dari keluarga sekuler, walaupun pernah mengecap pendidikan agama waktu sekolah Lise (setingkat SMA). Dia juga bukan ahli sains. Latar belakang keilmuannya hanya sebatas jurusan desain interior ketika kuliah di Universitas Mimar Sinan dan pindah ke Universitas Istanbul jurusan filsafat dan sejarah, dan kedua kampus yang dijejakinya tidak dijalani secara tuntas.

Adnan Oktar juga banyak terlibat dalam beberapa kasus besar. Di antaranya kasus yang melibatkan Oktar Babuna, yaitu kampanye donor darah untuk penderita leukemia. Namun kedok kampanye tersebut terbongkar oleh kementerian kesehatan Turki, dengan menyatakan bahwa kampanye tersebut ilegal, tidak mendapat izin dari pemerintah, dan berdasarkan penelusuran pemerintah, kampanye tersebut didalangi oleh Amerika dan Australia.

Namun kepiawaian Adnan Oktar berasosiasi dengan berbagai kalangan penting membuatnya bisa melewati kasus-kasus yang dihadapinya dengan licin (hlm. 106). Walaupun demikian, dia juga pernah merasakan pahitnya hidup dipenjara yang hanya sebentar, dan terakhir kali dia ditangkap pada 11 Juli 2018 M.

Adnan Oktar dalam gerakannya juga menunjukkan sikap inkonsisten. Pada mulanya menentang Mustafa Keman Ataturk dan pengikutnya (Kemalis). Tapi kemudian pernyataannya berubah dengan mengakui dirinya sebagai pendukung Ataturk, dan berbagai perubahan-perubahan lain yang membuat dirinya dipandang aneh oleh para pengamat. Dari berbagai keanehan-keanehan tersebut, muncul sebuah laporan dari Rumah Sakit Angkatan Udara di Eskisehir pada 1993 bahwa dirinya mengidap penyakit Paranoid Skizofrenia. Semacam penyakit psikologi yang menguatkan alasan perubahannya secara ekstrem.

Bernando J. Sujibto ingin mengatakan, karya-karya monumental yang diterbitkan atas nama Harun Yahya bukanlah karya Adnan Oktar sendiri, melainkan produk korporasi dari Harun Yahya yang dipimpinnya. Kepiawaiannya dalam menarik kaum akademis untuk menjadi pengikutnya membuat organisasi Harun Yahya yang dipimpinnya bisa memproduksi karya-karya secara dinamis. Alquran yang menjadi kolaborasi dalam berbagai karyanya hanyalah diperalat sebagai penarik simpati dunia.

Lebih jauh lagi Bernando ingin mengajak kita menjadi pembaca aktif, bukan pembaca pasif yang menerima secara instan sebuah karya. Tidak semua karya lahir dari niat mulia. Perlu selalu dikritisi, bahkan dari tokoh yang kita kagumi sekalipun. Jangan sampai membuat pintu kritis kita tertutup, tapi tetap menempatkan diri secara proporsional untuk sebuah kebenaran. Wallahu a’lam. 

NUVILU USMAN ALATAS

Pustakawan PP Annuqayah daerah Lubangsa sekaligus mahasiswa Instika.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia