Kamis, 12 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features

Khotija Derita Gangguan Ginjal, Premi BPJS Kesehatan Nunggak

Kalau Sembuh Mau Ikut Lomba Cerdas Cermat

29 Maret 2019, 14: 58: 14 WIB | editor : Abdul Basri

BERHARAP SEMBUH: Bunayyah menyuapi putrinya, Khotija, yang menderita penyakit gangguan ginjal di rumahnya Dusun Sorok, Desa Campor, Kecamatan Proppo, Pamekasan, Rabu (27/3).

BERHARAP SEMBUH: Bunayyah menyuapi putrinya, Khotija, yang menderita penyakit gangguan ginjal di rumahnya Dusun Sorok, Desa Campor, Kecamatan Proppo, Pamekasan, Rabu (27/3). (ANIS BILLAH/RadarMadura.id)

Share this      

Anak seusia Khotija seharusnya sedang asyik bermain. Namun, hal itu tidak bisa lakukan karena sakit yang diderita. Biaya keluarga menjadi kendala pengobatan.

ANIS BILLAH, Pamekasan

JALAN bebatuan mengguncang tubuh pengendara yang melintas di Dusun Sorok, Desa Campor, Kecamatan Proppo. Sinar matahari di dearah tersebut tak begitu terasa karena awan menghalangi sinarnya ketika RadarMadura.id melintas Rabu (27/3). Pepohonan nampak tumbuh menghijau di tepi jalan.

Rumah warga di daerah tersebut cukup padat. Meski begitu, lalu-lalang kendaraan tak menggambarkan kepadatan penduduk. Sebab, tak banyak kendaraan yang melintas. Di daerah itulah Khotija bersama kedua orang tuanya.

Di teras rumah yang menghadap ke selatan, duduk seorang ibu sedang merangkul putrinya sambil selonjoran. Tatapan mata perempuan itu kosong. Putih bola mata itu memerah. Juga tampak air mata itu tidak dapat menyembunyikan sedih.

Dia hanya mendekap putrinya sambil sesekali mengayunkan tubuhnya. Sementara di halaman rumah tersebut terlihat ibu-ibu sudah lanjut usia duduk santai sambil berbincang.

JPRM mulai mendekat dan menyapa warga sambil lalu masuk ke teras rumah. Khotijah dalam rangkulan ibunya. Bocah perempuan itu terlihat tak seperti anak normal lainnya. Betis hingga paha, perut, dan wajahnya terlihat membesar. ”Sudah tiga hari tubuhnya kembung,” kata Bunayyah, ibu Khotija yang menggendongnya itu.

Tak lama kemudian, Bunayyah menawarkan putri satu-satunya itu untuk makan. Khotija mengangguk mengiyakan. Sambil menyuapi Khotija, Bunayyah menceritakan kondisi putrinya yang terbaring sakit.

Sejak empat hari terakhir, Khotija tidak pernah makan nasi. Ketika ditawari makan nasi, selalu menolak. Hanya air putih dan kelapa muda yang mengganjal perutnya. Kendati begitu, dia tak pernah mengeluh sakit atau lapar.

”Tadi malam matanya tak bisa melihat karena wajahnya bengkak. Perut dan kakinya kembung.  Tapi bengkak di wajahnya mulai kempis. Sekarang juga sudah mau makan nasi,” ujar perempuan kelahiran 1 Juli 1986 itu.

Hal itu juga diungkapkan Moh. Marsuki, ayah Khotija. Suami Bunayyah itu menambahkan, penyakit tersebut sudah diderita putrinya sejak beberapa bulan sebelumnya. Penyakit Khotija bisa sembuh setelah diperiksa ke rumah sakit.

Sekarang sudah sakit yang kedua kalinya. Dulu dokter menyarankan agar anak perempuan kelahiran 1 Oktober 2014 itu dirawat inap di rumah sakit. ”Tapi kami tidak punya biaya untuk berobat. Setelah diperiksa, alhamdulillah sembuh,” tuturnya.

Dari hasil pemeriksaan saat itu, sakit yang diderita Khotija ternyata gangguan ginjal. Pada saat itu, keluarga ini hanya membiayai semampunya. Sebab, pria 39 tahun itu tidak punya penghasilan tetap yang bisa menopang pengobatan putrinya.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dia kerja serabutan. Kadang iikut nguli. Kadang juga jadi buruh tani. Sedangkan Bunayyah hanya sebagai ibu rumah tangga. Lebih-lebih ketika putrinya sedang sakit, praktis hanya beraktivitas di rumah.

Saat ini Marsuki tidak berani membawa anak semata wayangnya untuk berobat. Dia mengaku tidak punya biaya. Apalagi, kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan milik Khotija bermasalah.

Karena itu, dia berharap uluran tangan pemerintah agar putrinya bisa kembali normal. Dengan begitu, Khotija bisa beraktivitas seperti biasa. Bisa bermain kembali bersama teman-temannya.

”Khotija sudah sekolah TK. Katanya kalau sembuh mau ikut lomba cerdas cermat,” tuturnya sambil menyuapkan kelapa muda ke mulut Khotija yang telentang setelah dipangku ibundanya. Dengan telaten pria itu merawat sang putri yang terbaring di atas lencak bambu.

Sementara itu, Plt Kepala Dusun Sorok Ahmad Hasin mengatakan, pihaknya sudah berupaya agar Khotija bisa segera mendapatkan pelayanan kesehatan. Kendati demikian, pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Kalau kartu BPJS Kesehatan bocah 4,5 tahun itu memang sudah ada. Tapi, tunggakan preminya belum dibayar.

”Kalau dibawa ke rumah sakit akan menambah biaya lagi. Desa bisa menanggung tunggakan BPJS-nya, tapi untuk biaya yang lain belum ada yang bertanggung jawab,” terangnya. 

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia