Kamis, 12 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Sampang

Tinggal Dua Surat Suara, Penghitungan Dihentikan

28 Maret 2019, 11: 59: 41 WIB | editor : Abdul Basri

TERGANGGU: Suasana pemilihan PAW kepala Desa Gunung Maddah, Sampang, kemarin.

TERGANGGU: Suasana pemilihan PAW kepala Desa Gunung Maddah, Sampang, kemarin. (SPESIAL FOR RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Penghitungan perolehan suara pemilihan kepala desa (Pilkades) Gunung Maddah, Sampang, kemarin (27/3) menyisakan dua surat suara. Namun, panitia terpaksa tidak melanjutkan penghitungan karena terjadi kericuhan.

Informasi yang dihimpun RadarMadura.id total pemilih pergantian antarwaktu (PAW) itu 72 orang. Mereka terdiri atas tokoh masyarakat, tokoh agama, petani, dan perempuan dari tujuh dusun.

Pencoblosan dimulai pukul 09.00 hingga sekitar pukul 09.30. Kericuhan terjadi sekitar pukul 11.00 saat panitia sudah menghitung surat suara ke-69 untuk dua orang. Calon kepala desa (cakades) nomor urut satu Soekandar 33 suara. Sementara cakades nomor urut dua Moh. Saleh 36 suara.

Pada lembar surat suara ke-70 ternyata tidak sah. Saat itulah keributan mulai terjadi. Jika sisa tiga surat suara sekalipun, dukungan untuk nomor satu masih draw. Sisa dua surat suara yang belum dihitung ke nomor satu itu tetap tidak bisa mengungguli perolehan nomor dua. ”Saya berharap desa tetap kondusif,” harap warga Gunung Maddah yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Camat Kota Sampang Yudhi Adidarta mengatakan, kelanjutan penghitungan menunggu dari tim kabupaten. Pihaknya sudah melaporkan yang terjadi di lapangan. ”Yang berhak menjawab dari PMD. Saya hanya seksi pelaksana di tim,” ujarnya.

Kabid Bina Pemerintahan Desa DPMD Sampang Suhanto mengatakan, hingga pukul 16.03 penghitungan belum juga dilanjutkan. Persoalan tersebut masih menjadi kewenangan panitia pemilihan kepala desa (P2KD). Panitia dari kabupaten masih memberikan waktu agar diselesaikan. ”Karena ini masih haknya P2KD. Kalau pemerintah merampas pekerjaan kan tidak enak,” ujarnya.

Suhanto menambahkan, ketika nanti sudah diberikan peluang namun belum ada penyelesaian, terpaksa pemerintah kabupaten akan menggelar rapat. Termasuk akan melibatkan forkopimda.

Dia menduga kericuhan terjadi karena ada pihak yang tidak puas setelah melihat perolehan suara. Namun, peristiwa itu juga tidak menutup kemungkinan karena rasa capek.

Setelah terjadi kericuhan itu surat suara diamankan. Baik surat suara yang sudah terpakai dan belum terpakai. Kotak suara juga dijamin aman. ”Kami rahasiakan lokasi penyimpanan surat suara ditaruh di mana. Sambil lalu menunggu P2KD, kami pastikan aman,” tandasnya.

Sebelumnya ada enam orang yang mencalonkan diri sebagai bakal calon (balon) PAW kepala desa. Mereka ialah Soekandar, Moh. Saleh, Wahyu Hidayat, Feri Fadeli, Birul Walidain, dan Maimunah. Setelah melalui beberapa tahapan, panitia menetapkan tiga cakades. Yaitu, Soekandar, Moh. Saleh, dan Wahyu Hidayat. Namun, Wahyu Hidayat kemudian mengundurkan diri. Pilkades PAW digelar karena Kades sebelumnya meninggal dunia.

(mr/rul/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia