Kamis, 17 Oct 2019
radarmadura
icon featured
Sumenep

Ke Kangean, Mendikbud Dengar Keluhan

Kekurangan Fasilitas hingga Tunjangan Guru

21 Maret 2019, 13: 07: 12 WIB | editor : Abdul Basri

MINIM SARPRAS: Mendikbud Muhadjir Effendy didampingi Kepala Cabang Disdik Jawa Timur (Jatim) Wilayah Sumenep Sugiono Eksantoso memantau salah satu sekolah di Kecamatan Arjasa, Sumenep, Selasa (19/3).

MINIM SARPRAS: Mendikbud Muhadjir Effendy didampingi Kepala Cabang Disdik Jawa Timur (Jatim) Wilayah Sumenep Sugiono Eksantoso memantau salah satu sekolah di Kecamatan Arjasa, Sumenep, Selasa (19/3). (SUGIONO FOR RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menepati janjinya untuk berkunjung ke Pulau Kangean, Sumenep, Selasa (19/3). Rencana itu disampaikan di kantor Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Biro Sampang setelah memimpin upacara di SMAN 1 Torjun pada 12 Februari 2018.

Persoalan pendidikan tak pernah habis untuk dibahas. Berbagai persoalan masih terus membutuhkan solusi. Mulai ketersediaan sumber daya manusia (SDM) hingga sarana dan fasilitas pendidikan. Terutama di wilayah kepulauan.

Kedatangan Mendikbud Muhadjir Effendy ke Pulau Bekisar itu dimanfaatkan dengan baik oleh para pelaku pendidikan. Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu mendatangi sejumlah sekolah di pulau yang terdiri atas Kecamatan Arjasa dan Kecamatan Kangayan itu.

Mendikbud bersama rombongan berkunjung ke Pulau Kangean menggunakan helikopter. Kemudian mendarat di lapangan Kecamatan Arjasa. Setelah landing, rombongan lanjut melakukan pemantauan ke sejumlah sekolah.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Timur (Jatim) Wilayah Sumenep Sugiono Eksantoso menyampaikan, kedatangan Mendikbud untuk memantau persiapan ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Muhadjir datang bersama Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Hamid Muhammad dan beberapa pejabat penting lainnya.

Rombongan melihat sejumlah 3 SD, 1 SMP, dan 2 SMA negeri dan swasta. ”Semua kepala sekolah dikumpulkan. Dari berbagai jenjang. Diberi pembinaan. Kendala-kendala di kepulauan kami sampaikan waktu itu,” terang Sugiono kemarin (20/3).

Sejumlah permasalahan disampaikan kepada Mendikbud. Yakni terkait terbatasnya fasilitas UNBK di kepulauan, seperti komputer serta sarana dan prasarana (sarpras) pendukung lainnya. Kemudian kebutuhan alat berupa lintasarta untuk membantu sejumlah sekolah di kepulauan bisa UNBK online.

Beberapa lembaga pendidikan di kepulauan tidak bisa menyelenggarakan ujian secara online. Sebab, akses jaringan tidak mendukung. Untuk itu dibutuhkan alat lintasarta. Sugiono menjelaskan, kebutuhan alat pendukung UNBK online ini sebanyak 3 unit.

”Semacam parabola yang bisa langsung tersambung ke satelit. Harganya sekitar Rp 140 juta. Kami sampaikan kalau butuh 3 unit. Satu di Pulau Masalembu, Kangean, dan Sapeken,” papar Sugiono.

Pihaknya mengaku juga menyampaikan mengenai perlunya ada tunjangan bagi para guru di kepulauan. Sebab, sejak 2016 sudah tidak ada anggaran lagi dari pusat untuk tunjangan tersebut. Tunjangan itu diperlukan bagi guru yang bertugas di kepulauan. Mengingat, sejumlah pulau di Sumenep masuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Sugiono menambahkan, Mendikbud juga sudah memberikan petunjuk kepada Dirjen Dikdasmen Hamid Muhammad untuk membantu komputer di sejumlah sekolah untuk melaksanakan UNBK. Selain itu, pendukung peningkatan kualitas pendidikan di kepulauan seperti rehabilitasi sekolah dan sebagainya.

”Akan diperhatikan. Proposal pengajuan dari kami langsung dibawa. Jika lancar, insyaallah UNBK tahun ini langsung direalisasikan oleh Kemendikbud,” ujarnya.

Sementara itu, Mendikbud Muhadjir Effendy berjanji akan memperhatikan peningkatan kualitas pendidikan di kepulauan. Dengan demikian, tujuan pemerataan pendidikan bisa tercapai. Khusus permohonan kebutuhan alat penunjang UNBK akan segera melakukan koordinasi.

Koordinasi itu juga akan dilakukan dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo). Terutama terkait penyediaan alat lintasarta sehingga bisa cepat terpenuhi. ”Nanti kami akan tindak lanjuti langsung. Sudah kami catat kendala dan kebutuhan penunjang pendidikan di kepulauan ini,” terang pria kelahiran 29 Juli 1956 itu.

(mr/bad/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia